BERITA TERKINI

UKM Racana Mengadakan LK2PP Ke-IX Se-Eks Karesidenan Surakarta 2014

Surakarta – Lomba Kecerdasan dan Ketangkasan Pramuka Penggalang Penegak (LK2PP) Ke-IX Se-Eks Karesidenan Surakarta 2014 digelar kembali oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Racana IAIN Surakarta yang berlokasi di Lapangan IAIN Surakarta.


Kegiatan perkemahan ini mengusung tema Prasaja Ing Purba Wisata, Jer Basuki Mawa Bea yang artinya setiap tindakan membutuhkan pengorbanan. Perlombaan ini dimaksudkan untuk mengembangkan rasa kebersamaan dalam bersosialisasi antar anggota Pramuka Penggalang dan Penegak.

Perkemahan diikuti oleh 41 regu, yakni Penggalang Putra 5 regu, Penggalang Putri 10 regu, Penegak Putra 14 regu, dan Penegak Putri 12 regu.  Secara keseluruhan 410 siswa berpartisipasi dalam kegiatan LK2PP. Kegiatan dibagi menjadi 2 sesi yaitu Rabu(16/4) – Kamis (17/4) untuk golongan Penggalang dan Sabtu (19/4) - Ahad (19/4) untuk golongan Penegak. LK2PP dibuka secara resmi oleh Kak Riptono (pembina UKM Racana) pada Rabu (16/4) pukul 08.00 WIB.

Sekretaris LK2PP, Ranaswara mengatakan bahwa ada banyak kategori lomba yang sudah disiapkan untuk adik-adik penegak dan penggalang. Diantaranya adalah lomba hasta karya, festival seni, tali temali (Pioneering), Lomba Cerdas Cermat (LCC), Teknik Kepramukaan (TEKPRAM), PBB Tongkat , dan Senam Semaphore.

LK2PP 2014 yang diketuai oleh Nasihan Amalul Ahli diharapkan mampu meningkatkan dan menumbuh kembangkan rasa persaudaraan diantara sesama anggota Pramuka khususnya dan masyarakat pada umumnya. (yin)

AddThis Social Bookmark Button

IAIN Surakarta Meresmikan Pondok Tahfidz Syifa'ul Qur'an

Sukoharjo – Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Surakarta meresmikan Pondok Tahfidz Syifa’ul Qur’an sebagai upaya menjaga kesucian dan keluhuran kitab suci Al-qur’an, Rabu (16/4). Pondok tersebut berlokasi tidak jauh dari kampus IAIN Surakarta yaitu di kampung alun-alun Kidul Rt 4/II Pucangan, Kartasura, Sukoharjo.

Pondok ini diresmikan oleh Wakil rektor II – Rahmawan Arifin, M.Si. Dalam sambutannya beliau menyatakan sangat mendukung adanya pondok tahfidz. Seiring dengan pernyataann Dekan FITK – Dr. Giyoto bahwa beliau mendukung adanya pondok ini. “Saya medukung penuh adanya Pondok Syifa’ul Qur’an.”

Lebih lanjut Noor Alwiyah, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) menjelaskan bahwa target dari adanya pondok ini adalah terjaganya hafalan para mahasiswa dan peningkatan hafalan. Sementara kami hanya menampung 12 mahasiswi dari Jurusan PAI yang berminat untuk menghafal Al-Qur’an atau sudah memiliki hafalan Al-Qur’an. “Akan ada dua pembina di pondok tahfidz atas nama Ilham Senjari dan Fajar Maghfiroh. Meski mereka masih duduk di bangku semester 2 PAI, namun mereka sudah hafal 30 juz,” pungkas Noor Alwiyah dengan senyum gembira dan bangga kepada mahasiswi saat diwawancarai di ruangnya. (yin)

AddThis Social Bookmark Button

Jamiah Qura wal Huffad (JQH) Al- Wustho Menggelar Dialog Publik Toleransi Beragama

Surakarta - Alangkah indah jika dunia ini penuh perdamaian tanpa permusuhan dan kebencian. Namun sebuah perbedaan pemicu masalah adalah sunnatullah yang tidak dapat dielakkan oleh manusia.

Dalam rangka membangun kesalingpahaman dan kerukunan antar umat beragama maka Jamiah Qura wal Huffad (JQH) menyelenggarakan Dialog Publik Nasional Tafsir Tematik dengan tema “Damai Dalam Cinta, Representasi Makna Toleransi Beragama”, Senin (14/4) bertempat di aula Pascasarjana lantai 4.

Dialog publik ini dikuti oleh 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa IAIN Surakarta dan masyarakat umum. Seminar ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Abdullah Faishol, M. Hum, Dr. Mudhofir Abdullah, dan Pendeta Bambang Mulyatno, M. Si yang dimoderatori oleh Anas Aijudin, M. Hum selaku  Ketua Pusat Studi Agama dan Perdamaian (PSAP).

Dialog berlangsung sangat manarik. Abdullah Faishol selaku pembicara pertama memaparkan tentang konsep toleransi intern Islam. Menurut beliau yang terpenting adalah membangun relasi sosial artinya membentuk sebuah kekuatan sosial yang  tidak mudah diprovokasi via tulisan, lisan maupun uang. Beliau juga menekankan pada konsep ukhuwah bainal muslimin bukan ukhuwah Islamiyah. Beliau menganggap dua konsep tersebut berbeda. Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan yang bersifat Islami sedangkan yang diharapkan oleh intern muslim adalah jalinan yang disebut sebagai ukhuwah bainal muslim, yang artinya persaudaraan sesama muslim.

Lebih jauh lagi Kepala Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Surakarta ini menyebutkan beberapa penyebab keretakan umat, yakni;

  1. Berbeda pandangan dianggap sebagai musuh, padahal Al Quran menyebutnya bahwa sesama mukmin itu bersaudara.
  2. Saling merendahkan (sesama etnis, berbeda etnis, dll) laki-laki terhadap perempuan dan sebaliknya.
  3. Saling mencela dalam melakukan praktik peribadatan yang berbeda.
  4. Melakukan sapaan yang kurang menyenangkan yang membuat komunikasi verbal terhambat.
  5. Berprasangka buruk (saling curiga) antara kelompok satu dengan yang lainnya.
  6. Mencari-cari kejelekan dan kesalahan.

Penyebab-penyebab di atas dalam konteks universal dapat dikatakan hampir semua umat beragama bahwa berpikir negatif akan menjadi pemicu keretakan internal umat beragama. Dalam makalah, beliau juga menawarkan solusi untuk meminimalkan keretakan internal umat dengan melakukan upaya kearah kerukunan, yaitu saling mengenal (husnu al-ta’aruf), saling memahami (husnu al-tafahum), saling berdialog (husnu al-tasyawur), dan berlaku adil (al-adalah).

Berbeda dengan Dr. Mudhofir Abdullah, beliau yang menyampaikan tentang konsep toleransi ekstern Islam dan membuka dialog dengan menganjurkan para mahasiswa agar  mempelajari asal usul atau sejarah masing-masing agama karena menghormati agama adalah keharusan dan merupakan kelanjutan dari agama sebelumnya. Menurut beliau, jika Tuhan mulai dipahami maka muncul agama sesuai dengan persepsi manusia. Semakin manusia cerdas, makin bisa mentorlerir perbedaan antar agama.

Dikutip dalam makalahnya, beliau menawarkan teologi rahmatan lil-alamin:
“Teologi rahmatan lil-alamin, karena itu, menolak segala bentuk kekerasan dan pemaksaan kehendak untuk tujuan agar mereka atau orang lain mengikuti agama atau keyakinan kita. Sebaliknya, umat Islam harus menjadi pilar perdamaian, persaudaraan dan penciptaan bentuk-bentuk kerjasama global untuk mengatasi atau memecahkan isu-isu yang lebih strategis. Teologi rahmatan lil-alamin mengabdi pada terwujudnya cinta kasih yang menyebar pada sebanyak-banyak umat manusia dan umat non-manusia di muka bumi”. (IAIN Surakarta dan Deradikalisasi Terorisme: Perspektif Teologi Rahmatan Lil-Alamin dan Kearifan Lokal Jawa, hlm. 11)

“Sesungguhnya tidak ada agama yang menganjurkan kekerasan dan menganjurkan kebencian. Kebencian dan kekerasan seringkali hanya imajinasi kelompok-kelompok umat beragama yang merasa terancam oleh modernisasi atau oleh ideologi lain. Atau  karena pemahaman mereka yang disepakati oleh ideologi perang salib.” (ibid, hlm. 5)

Karena inilah, menurut Dr. Mudhofir agama harus dilihat dari tiga sisi, yaitu sisi agama, teologi, dan sejarah. Tidak semata-mata dipandang dari sisi agama.

Seiring dengan pemikiran Dr. Mudhofir, Pendeta Bambang Mulyatno, M. Si selaku sekretaris Lembaga Perdamaian Lintas Agama dan Golongan (LPLAG) menyampaikan konsep toleransi perspektif non-muslim. Bambang menyatakan bahwa perbedaan adalah sebuah respon manusia jadi tidak perlu memutlakkan. Sedangkan yang dipahami  masyarakat umum hanyalah selebrasi agama padahal yang terpenting adalah edukasi berdasar keluhuran agama. “Masa depan agama ada pada dialog antar agama,” pungkas sang pendeta.

Abdul Ghofur, ketua umum UKM JQH Al Wustho menyatakan bahwa selaku mahasiswa kami tidak boleh menutup diri dari pemikiran luar dan dialog  ini merupakan upaya untuk membuka diri. (yin)

AddThis Social Bookmark Button

IAIN Surakarta Telah Menyumbang 436 Intelektual Muda

Surakarta — Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta telah mewisuda sebanyak 436 lulusan pada acara Wisuda Magister dan Sarjana ke XXVIII, di Kampus IAIN Surakarta, Kartasura, Sukoharjo, Sabtu (12/4). “Terdapat 35 lulusan program pascasarjana, satu lulusan Program Studi Manajemen Keuangan Perbankan Syariah dan 34 lulusan Manajemen Pendidikan Islam”, ungkap Wakil Rektor I bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Surakarta, Dr. Mudofir, S.Ag, M.Pd. Selain lulusan Program Pascasarjana, ada 401 lulusan sarjana atau strata satu (S-1), masing-masing 19 lulusan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, 12 lulusan Fakultas Syariah, 316 lulusan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dan 54 lulusan Fakultas Ekonomi Bisnis Islam.

Diantara wisudawan Program Magister, terdapat dua wisudawan terbaik, masing-masing atas nama Amini Aslama dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam dengan nilai IPK 3,75 dan Birohmini juga dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam dengan nilai IPK 3,72. Sedang Wisudawan Cumlaude untuk Program Sarjana ada sebanyak 10 lulusan. Wisudawan cumlaude dengan nilai tertinggi atas nama Nova Fadhilah Safarina dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dengan nilai IPK 3,73.

Rektor IAIN Surakarta, Dr. Imam Sukardi dalam sambutannya menyatakan bahwa kehadiran pendidikan Islam, baik ditinjau secara kelembagaan maupun nilai-nilai yang ingin dicapainya, masih sebatas memenuhi tuntutan bersifat formalitas dan bukan tuntutan yang bersifat substansial. “Yakni tuntutan untuk melahirkan manusia-manusia aktif penggerak sejarah.”

Walaupun dalam beberapa hal, kata Rektor IAIN Surakarta, terdapat perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan yang terjadi masih sangat lamban, sementara gerak perubahan masyarakat berjalan cepat, bahkan bisa dikatakan revolusioner, maka disini menjadi penting untuk menjadikan pendidikan Islam tampil menjadi lebih baik dengan arah yang jelas.

Imam mengatakan, bahwa dalam konteks saat ini, IAIN Surakarta dituntut untuk berkiprah lebih jauh lagi dalam  mewujudkan peradaban Islam melalui pendidikan di tengah arus besar modernisasi dengan seluruh sistem nilainya dan juga untuk membangkitkan kesadaran tentang perlunya langkah-langkah strategis bagi tegaknya peradaban Islam melalui pembangunan pendidikan yang lebih bermutu dan berdaya saing yang tinggi.

Selanjutnya  Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. Dr. Moh. Mahfud MD dalam orasi ilmiahnya menyatakan, negara dengan tingkat pluralitas tinggi, ancaman konflik dan permusuhan sangat rentan terjadi. Setiap orang memiliki hak asasi. Misalnya untuk memeluk agama atau kepercayaan, hak untuk hidup, bekerja atau memperoleh pendidikan.

“Sangat boleh jadi, di dalam implementasi pemenuhan hak tersebut berbenturan dan beradu dengan pemenuhan hak-hak orang lain,” jelas Mahfud MD di depan 436 wisudawan IAIN Surakarta, di Kampus IAIN Surakarta, Kartasura, Sukoharjo, Sabtu (12/4). Benturan semacam itulah, kata Mahfud MD, yang kerap membuat konflik mudah terjadi. Itu mudah saja terjadi, terutama ketika tingkat kepekaan dan kesediaan masing-masing orang untuk mentolerir perbedaan, sangat rendah.

Oleh sebab itu, menurut Mahfud MD, yang perlu dipikirkan bersama untuk dilakukan saat ini adalah bagaimana agar konflik-konflik yang dilatari oleh penolakan atas kemajemukan dapat dicegah dan keberagaman dapat dipelihara di atas sikap saling menghormati. Tujuannya agar perbedaan senantiasa dapat menjadi berkah dan kemaslahatan, bukan malah menjadi persoalan. “Konstitusi kita sekarang ini dikatakan lebih menghargai demokrasi, pluralism dan rule of law serta hak-hak asasi manusia”, jelasnya.

Selanjutnya kami ucapkan selamat dan sukses untuk para wisudawan, semoga ilmu yang telah ditimba selama ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah. (yin)

AddThis Social Bookmark Button

TRANSLATION

Indonesian Arabic English

BERITA TERKINI

Takmir Masjid IAIN Surakarta adakan IAIN Cinta TPQ
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

ARSIPAN IAIN SURAKARTA