Bg

Hendri Teja penulis Trilogi Tan Malaka 2, Tan Gerilya Bawah Tanah, Hadir Dalam Bedah Bukunya

Diterbitkan tanggal 11 Mei 2018

SINAR- Jumat (11/5), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Surakarta menggelar acara Bedah Buku ”Trilogi Tan Malaka 2, Tan Gerilya Bawah Tanah”.Bertempat di Gedung Pascasarjana Lantai 4 acara ini dihadiri oleh ratusan peserta baik dari internal kampus maupun dari eksternal kampus.

Acara ini menghadirkan langsung penulis Trilogi Tan Malaka 2, Tan Gerilya Bawah Tanah,  Hendri Teja serta seorang peneliti sejarah yang juga Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Dr. H. Syamsul Bakri, S.Ag., M.Ag.

Hendri Teja penulis Tan Malaka mengungkapkan dalam buku Tan Gerilya Bawah Tanah ini, meskipun novel fiksi tapi sama sekali tidak menghilangkan keorisinilan dari sejarah Tan Malaka sendiri. Misalnya saja dari nama-nama tempat yg tertulis dalam buku, semuanya benar-bener ada dan bisa ditemukan. ungkapnya.

Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa Tan Malaka berbeda dengan komunis pada tahun 1965, mungkin kata lain dari komunis yang lebih tepat untuk Tan Malaka adalah Ultra Nasionalis, atau Urbais. Karena jauh dari dalam diri sosok Tan Malaka ada sisi humanis dan religius yg begitu besar. Realitanya, untuk mengunggulkan satu pihak, akan ada banyak pihak yg ditenggelamkan. Begitupun dengan sosok Tan Malaka yang diluar label “komunis” yg masih ambigu dalam diri Tan Malaka, sebenarnya begitu banyak sesuatu yg pantas untuk kita teladani dari diri beliau, tutupnya.

Sementara itu Syamsul Bakri menerangkan bahwa seorang Tan Malaka merupakan sosok tokoh pejuang yang revolusioner, disamping itu dia juga seorang aktivis komunis yang menolak pemberontakan komunis pada tahun 1926-1927. Selain itu Syamsul juga memberikan pesan dari sosok Tan adalah kita harus terus bergerak melakukan perubahan dengan pemikiran yang matang, dan tidak tergeesa-gesa. Di akhir kata mengutip salah satu tulisan Tan Malaka syamsul mengatakan bahwa ungkapan lewat tulisan itu lebih tajam, dibandingkan hanya dengan orasi di jalan. (MgRos/Humas Publikasi) #BanggaIAINSurakarta

Komentar ditutup.