Bg

Belajar “Kalam” Ala Alfiyyah Ibn Malik Versi Pendekatan Keluarga

Diterbitkan tanggal 2 Juni 2021

Oleh: M. Nur Kholis Al Amin
(Dosen IAIN Surakarta)

Pada kesempatan kali ini penulis ingin mengajak kepada para pembaca untuk menikmati masa lalunya, khususnya yang pernah nyantri dan membahas sub bahasan tentang “kalam”. Bukan kalam dalam versi ilmu tauhid loh, melainkan kalam versi ilmu “alat” yang diperkenalkan dari jurumiyyah dengan term  الكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع. Selanjutnya dalam nadzom ‘imrithi juga diperkenalkan dengan bait nadzomnya “كلامهم لفظ مفيد مسند* والكلمة اللفظ المفيد المفرد” dan yang menjadi bahasan utama dalam tulisan ini yakni pada nadzom Al fiyyah ibnu Malik dengan baitnya  كلامنا لفظ مفيد كاستقم-

Bait-bait nadzom tersebut secara tekstualnya dengan menggunakan pendekatan “ilmu nahwu” memang sebagai sesuatu yang sangat signifikan untuk mengawali pembahasan tata kalimat dalam mempelajari bahasa Arab dan tidak terkecuali untuk membaca kitab kuning. Terkait bait nadzom كلامنا لفظ مفيد كاستقم apa yang dapat dikorelasikan dengan kehidupan keluarga “ala” nahwiyyah? Baik, mari kita pelajari bersama mengenai berumah tangga atau berkeluarga “ala” nahwu.

Dalam berumah tangga tidak akan terlepas dari “kalam” atau dalam rumah tangga disebut “komunikasi”, baik komunikasi dengan menggunakan lafadz (لفظ) yang mengandung makna ataupun juga komunikasi dengan rasa. Selain itu, dengan menggunakan sikap, juga body language bisa juga sebagai pelengkap agar berfaidah atau mempunyai tujuan/faidah, yang dalam bahasa nadzomnya مفيد. Faidah apakah yang dimaksud? Hal itu disebutkan dengan semisal contohnya إستقم atau jumeneng/berdiri ‘tegak’, kokoh, atau bahasa dalam keluarga adalah tahan–yakni adanya komunikasi dalam berkeluarga agar mampu membentuk ketahanan keluarga sebagai sarana mewujudkan keluarga yang SAMAWA (Sakinah, Mawaddah, Warahmah). Jadi nadzom alfiyyah yang dulu pernah dipelajari di pesantren secara kontekstual mengajarkan pemaknaan membangun keluarga yang istaqim ya.

Lantas, bagaimana bentuk secara detail komunikasi dalam mewujudkan keluarga yang SAMAWA melalui ketahanan keluarga (كاستقم)?

Masih dalam bait Al-Fiyyah Ibnu Malik, dalam nadzom berikutnya disebutkan,

فارفع بضم وانصبن فتحا وجر كسرا كذكرالله عبده يسر.

1. فارفع بضم

Dhommin bisa dimaknai berkumpul/berbarengan, sehingga komunikasi keluarga harus dilakukan bersama antar anggota keluarga khususnya suami dan istri agar terealisasi kehidupan keluarga yang (فارفع) إرفع لهم الدرجات—derajat yang tinggi disisiNya sebagai keluarga madani bak keluarga Lukman yang dikisahkan dalam surat Lukman.

2. وانصبن فتحا

فتحا atau terbuka antara keduanya, yakni suami istri. Keterbukaan merupakan hal yang harus dinisbatkan dalam membangun ketahanan dan keutuhan keluarga.

3.و جر كسرا

Tentunya antar anggota keluarga harus saling sopan santun, saling menghargai yang digambarkan dengan alamat jir menggunakan kasroh, di mana kasroh adalah harokat dibawah huruf, artinya dalam berkomunikasi dan bermu’asyaroh juga harus dengan etika yang bagus, anshap ashor, tepo seliro, akhlak karimah.

4.كذكر الله عبده يسر

Dzikir kepada Allah agar dimudahkan segala urusan seorang hamba, dalam mengarungi mahligai rumah tangga untuk menggapai ridhoNya dan terwujud menjadi keluarga yang SAMAWA, melangit… sehingga dalam komunikasi poin keempat ini dapat dilakukan semisal diajak sholat berjamaah, belajar agama bersama-sama, dan lain sebagainya.

Terkait “komunikasi” dapat di download tulisan penulis di link.http://ejournal.uin-suka.ac.id/syariah/Ahwal/article/view/1522

Semoga manfaat

Penulis

M. Nur Kholis Al Amin
Dosen IAIN Surakarta

M. Nur Kholis Al Amin, Lahir di Klaten pada Agustus 1987. Pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Fattah “Pule”, Tanjunganom, Nganjuk dan sekaligus mengenyam pendidikan umumnya di SLTPN 1 Tanjunganom (1999-2002) dan kemudian melanjutkan pendidikan mengengahnya di SMAN 1 Tanjunganom (2002-2005). Pada tahun 2006-2010 penulis hijrah ke Kota Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan Sarjana di Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga dan menyelesaikan studi Magister Hukum Islam.

Komentar ditutup.