Bg

Dosen dan Mahasiswa Berlatih Advokasi Korban Kekerasan Seksual

Diterbitkan tanggal 5 April 2021

SINAR- Selasa, 30 Maret 2021 lembaga Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Surakarta bekerja sama dengan Rumah Kitab dan We Land mengadakan pelatihan advokasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan. Pelatihan bertempat di aula lantai 2 Pascasarjana IAIN Surakarta.

Kegiatan ini diikuti 20 mahasiswa perwakilan dari setiap fakultas, serta didampingi 10 dosen yang mempunyai ketertarikan terhadap pencegahan dan penanganan Kekerasan Seksual di lingkungan pendidikan. Untuk mendukung tercapainya tujuan kegiatan ini, panitia menghadirkan Nur Hasyim, MA. (Dosen Fisip UIN Walisongo Semarang) Amalia Rizkyarini S.Psi., dan Budi Wulandari, S.Psi. (Rifa Annisa Woman Crisis Centre).

Pada acara pembukaan kegiatan, Ibu Lies Marcoes (Direktur Rumah KitaB) menyampaikan apresiasinya kepada Rektor IAIN Surakarta, yang sudah berkomitmen melawan bentuk kekerasan seksual dengan mengeluarkan SK Rektor tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Namun pengawalan pelaksanaan SK tersebut juga penting, sehingga kegiatan yang dilaksanakan PSGA Bersama Rumah KitaB ini sudah sangat tepat sebagai Langkah nyata pengawalan pelaksanaan SK Rektor tersebut.

Wakil Rektor I IAIN Surakarta, Dr. Imam Makruf yang dalam kesempatan ini mewakili Rektor IAIN Surakarta mengucapkan banyak terima kasih kepada Rumah KitaB, karena sudah ikut mendukung kegiatan yang dilaksanakan PSGA IAIN Surakarta. Lebih lanjut, Imam Makruf menyampaikan bahwa Pimpinan IAIN Surakarta sangat serius mendukung upaya menciptakan IAIN Surakarta terbebas dari kekerasan seksual, ini ditandai dengan SK Rektor IAIN Surakarta nomor 1002 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual.

Pada materi pertama, Nur Hasyim memaparkan bahwa kekerasan seksual secara lebih mendalam melalui teori. Ia membuka pemahaman peserta tentang kasus kekerasan seksual yang selama ini kurang terjamah—atau bahkan tertutup—oleh kebayanyakan warga perguruan tinggi. Dengan mengaitkan berbagai motif kekerasan seksual di kampus, Nur Hasyim membuka cakrawala peserta betapa “belum beresnya” proses penanganan kasus kekerasan seksual yang selama ini terjadi di lingkungan perguruan tinggi.

Sementara Amalia Rizkyarini dan Budi Wulandari sebagai konselor yang bergerak dalam masalah kekerasan seksual yang dipayungi lembaga Rifka Annisa Woman crisis centre Yogyakarta. Lebih fokus menyampaikan tentang apa dan bagaimana kekerasan berbasis gender, selain itu mereka juga menceritakan sekaligus mensimulasikan bagaimana mereka proses mendampingi korban kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi sekaligus menangani kasus tersebut dengan alur yang jelas sampai tuntas.

“terselenggaranya kegiatan ini adalah sebagai upaya nyata dari PSGA IAIN Surakarta untuk menyiapkan SDM yang mumpuni dalam melaksanakan pencegahan dan penanganan Kekerasan Seksual di IAIN Surakarta” demikian kata Khasan Ubaidilah (Kepala PSGA IAIN Surakarta) pada saat menutup kegiatan.  Menurutnya, peserta yang hadir di pelatihan ini selanjutnya akan diajak Bersama-sama mengelola student crisis centre, yang akan menjadi jembatan penghubung antara mahasiswa dan pengelola Unit Layanan dalam melaksanakan Pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan IAIN Surakarta. (Gie/ Humas Publikasi)


Komentar ditutup.