Bg

Dr. Fauzan, M.A: Tantangan Lulusan PGMI, Arus Globalisasi dan Tuntutan Mutu Pendidikan Sesuai Standar Nasional

Diterbitkan tanggal 18 Oktober 2016

seminar-pendidikan-fitkSINAR – Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta mengadakan Seminar Pendidikan  dengan tema Tantangan, Peluang dan Masa Depan Guru Pendidikan di Tingkat Dasar. Bertempat di Gedung Rektorat lantai III kampus setempat, Senin (17/10), hadir ditengah para mahasiswa, Dr. Fauzan, MA sebagai dosen tamu.

Dalam sambutan pembukaan, Dr. H. Giyoto, Dekan FITK mengatakan bahwa kegiatan ini sebagaimana saat kuliah di kelas, namun bedanya adalah pelaksanaan kuliah dialihkan tempat yang lebih luas dengan menghadirkan dosen tamu agar mahasiswa memiliki wawasan dan gambaran yang lebih luas tentang tantangan, peluang dan masa depan sebagai Guru  MI. “Kami berharap para calon guru MI ini mampu menciptakan tantangan, sehingga memiliki peluang untuk meraih masa depan,” ujar Giyoto.

Di hadapan seluruh mahasiswa PGMI dari semua angkatan, Dr. Fauzan yang menjabat sebagai Wakil Dekan III FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua Asosiasi PGMI se Indonesia menyampaikan dua tantangan besar bagi para calon guru PGMI. Pertama yang disebut sebagai tantangan eksternal yang berupa arus globalisasi (seperti WTO, ASEAN Community (MEA), APEC, CAFTA) berimplikasi pada aliran bebas barang dan jasa, arus bebas investasi, arus tenaga kerja terampil, dan arus bebas modal. Kedua, tantangan internal berupa tuntutan mutu pendidikan yang mengacu kepada aspek Standar Nasional Pendidikan (pengakuan terhadap mutu lulusan, standarisasi kurikulum, proses/kegiatan perkuliahan, proses penilaian, penelitian, dan pengabdian dosen).

Menurut Dr. Fauzan pendidikan bermutu salah satunya melalui penguatan penilaian untuk – mengukur (of), mendorong (for), dan menstimuli (as) ketercapaian kecakapan abad 21. Sedangkan kecakapan hidup 21st Century learning meliputi to know, to do, to be, and to live together. Sehingga perlu perlu generasi kreatif, generasi yang memiliki keutuhan kompetensi mulai dari sikap (spiritual dan sosial), keterampilan (kreativitas dan inovasi) dan pengetahuan (berpikir orde tinggi).

Dr. Fauzan juga menekankan kepada para mahasiswa bahwa PGSD dan PGMI itu sama saja. Tidak ada beda. PGMI adalah PGSD plus karena mempunyai kompetensi yang sama namun memiliki nilai plus kekhasan keislaman. PGMI yang berada dinaungan Kementerian Agama ini sebenarnya lahir untuk mengantisipasi sekaligus menyiapkan adik-adik calon guru kelas. (Yin/Humas Publikasi) #BanggaIAINSurakarta

Komentar ditutup.