Bg

FEBI Sosialisasikan Peran Ekonomi Islam Dalam Pengentasan Kemiskinan

Diterbitkan tanggal 15 Maret 2016

IMG_0245 editSINAR–  Pemahaman mengenai ekonomi Islam khususnya Baitul Maal Wa Tanwil (BMT) di masyarakat sangat penting untuk diketahui oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Sehingga pada stadium general kali ini FEBI Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta mengambil tema “Peran BMT Dalam Pengentasan Kemiskinan” di gedung Graha, Selasa (15/3).

Mahasiswa semester dua sebagai peserta stadium general ini begitu sangat antusias mengikuti acara ini. Apalagi narasumber yang hadir adalah Prof. Dr. Aries Muftie, Komisaris Utama PT.Bank Panin sekaligus ketua Umum Asosiasi Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) se-Indonesia (ABSINDO).

Ia menyampaikan bahwa Baitul Maal wat-Tamwil (BMT) memiliki peran yang sangat besar untuk mengentaskan kemiskinan. Apalagi, sudah diakui oleh lembaga donor dunia bahwa salah satu alat untuk mengentaskan kemiskinan yang paling efektif itu melalui lembaga keuangan mikro. Apalagi kalau sistem yang digunakan adalah syariah.

Lanjutnya lagi bahwa kebanyakan masyarakat miskin di Indonesia berada didesa, dan mayoritas penduduk desa bergerak di sektor pertanian, sehingga sistem yang paling bagus untuk mengentaskan kemiskinannya adalah bagi hasil, dibayar setelah panen bukan sistem bunga. Untuk pengucuran pendanaan itu, menurut dia, idealnya di setiap desa terdapat lembaga keuangan mikro berupa BMT. Hanya saja aturan mengenai rating, sertifikasi, dan penjaminan kreditnya belum ada.

BMT ini mempunyai tiga hal yang membedakan dengan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) lainnya. Contohnya Bank Perkreditan Rakyat (BPR), itu hanya di sektor finasial saja, Koperasi, juga hanya di sektor keuangan dan sektor riil. Tapi, berbeda dengan BMT, yang bergerak di sektor keuangan, riil, dan sosial. Karena BMT itu namanya Baitul Mal, atau dana pihak ketiga. Ada pihak ketiga yang membuat untuk keperluan sosial. Disinilah yang membedakan BMT dengan LKM lain karena pihak ketiga sebagai pemodal selalu di sektor riil. (Mun/ Humas dan Publikasi)

Komentar ditutup.