Bg

FUD Lacak Genealogi dan Karya-Karya Intelektual Ulama Nusantara di Timur Tengah

Diterbitkan tanggal 17 Maret 2016

SINAR– Lacak Genealogi dan Karya-Karya Intelektual Ulama Nusantara di Timur Tengah, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) gelar seminar nasional dengan tema “Genealogi Ulama-Ulama Nusantara dan Karya Intelektual di Timur Tengah”, di Aula gedung Pasca Sarjana Lantai 4, Kamis (17/3).

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yaitu Dr. H. Mastuki H.S. M.Ag Kasubdit Kelembagaan Direktorat Pendidikan Islam Kementrian Agama dan A. Ginanjar Sya’ban kandidat doctor filologi dari Universitas Jamiatud Dual al-Arabiya di Kairo Mesir, dan dihadiri oleh ratusan peserta baik, mahasiswa, dosen, guru serta beberapa pimpinan pondok pesantren se-Solo Raya.

Dekan FUD menyampaikan dalam sambutannya bahwa tujuan dari seminar ini adalah untuk menambah wawasan kita terkait dengan ide dan gagasan tentang konsep Islam Nusantara dimana pada akhir-akhir ini konsep Islam Nusantara sangat hangat dibicarakan. Sebenarnya kosnep ini bukan baru saja muncul, tapi konsep ini sudah dari dulu ada hanya saja belum dilabeli dalam Islam Nusantara.

Sementara itu mewakili Rektor IAIN, Dr. H. Abdul Matin Bin Salma, M.Ag wakil rektor bidang Akademik dan pengembangan Lembaga, berharap bahwa acara ini bisa memberikan semangat bagi generasi muda, bahwa Islam Indonesia juga adalah Islam yang orisinil, jadi bukan hanya Islam dari Saudi Arabiya, Mesir dan bukan hanya Islam dari Timur Tengah saja.

Sedangkan  dua narasumber memaparkan mengenai Islam Nusantara dan juga pentingnya menegaskan identitas keislaman bangsa Indonesia. Islam Nusantara pada dasarnya dapat disejajarkan dalam hal identitas dengan Islam-Islam di wilayah dunia yang lain. Seperti halnya identitas dari varian-varian Islam yang ada, sebagai contoh Arab, Turki, Persia, Eropa, India, Cina, Rusia, Afrika, dll. Karena setiap bangsa memiliki identitas dan karakter yang khas dan berbeda-beda yang itu mewarnai sikap keislamanya. Namun masih dalam satu wadah yang sama yaitu Islam.

Kemudian secara keilmuwan, banyak ulama Nusantara yang menulis kitab, yang diterbitkan di Mekkah, Kairo, Istanbul, bahkan di Mumbay India. Seperti halnya ulama asal Semarang, Syaikh Muhammad Ma’shum ibn Salim, menulis ‘Tasywiq al-Khallan’, kemudian Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Mahfuz Tremas, Syaikh Arwani Amin Kudus, Syaikh Shalih ibn ‘Umar al-Samarani atau Kiyai Soleh Darat. Sehingga sebenarnya sangat jelas Genealogi dan ke orisinilan Islam Nusantara lewat ulama-ulamanya.(Mun/Humas dan Publikasi)

Komentar ditutup.