Bg

Hukuman Mati Bagi Koruptor Dalam Prespektif Islam

Diterbitkan tanggal 5 Maret 2020

SINAR- Kamis, (05/3) di Gedung Graha IAIN Surakarta kedatangan tamu perwakilan dari KPK RI, yakni Bapak Erlangga Adikusumah selaku Fungsional Direktorat Pendidikan dan dan Pelayanan Masyarakat KPK. Sebagai pembicara dalam acara seminar nasional UKM JQH Al Wustha yang mengangkat tema “Hukuman mati bagi koruptor dalam prespektif  Al-Quran”.

Seminar ini merupakan agenda besar UKM JQH Al Wustha. Dalam pelaksanaannya, tak lepas dari dukungan dan kerjasama dari seluruh keluarga besar UKM JQH Al Wustha yang turut serta menyumbangkan tenaga, waktu, dan pikiran demi keberlangsungan acara ini. Di sisi lain, tak hanya dukungan internal saja, dukungan eksternal dari berbagai media partnership dan sponsorship pun turut berpartisipasi dalam acara ini.

Tak hanya menghadirkan pembiacara dari KPK saja, seminar ini juga menghadirkan pembicara hebat lain diantaranya,  Dr. Anis Masduqi, Lc., M.Si. Alumnus Al-Azhar Kairo & Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU DIY. Ketiga, Dr. H. Budijono, S.H., M.H. yang pernah menjabat sebagai Dosen Hukum di IAIN Surakarta, Jaksa Penuntut Umum (1989-2013), untuk melangkapi kajian tentang pandangan al quran dalam hukuman bagi koruptor dari segi keislaman dan hukum. Dengan moderator, Bapak M. Endy Saputro, S.Th.I., MA yang merupakan dosen IAIN Surakarta. Dalam seminar ini tak hanya membahas apa sih korupsi itu? Melainkan mengupas dengan jeli berbagai macam bentuk korupsi.  

Sesi materi dibuka dengan penyampaian dari KPK, oleh Bapak Erlangga Adikusumah. Beliau menyampaikan dalam materinya bahwa tidak cukup koruptor hanya diberi efek jera saja ataupun mengembalikan uang ataupun harta kekayaannya kepada negara. Karena akibat yang telah ditimbulkan lebih dari hal tersebut. Menurutnya terkait tema dalam seminar ini, hukuman mati itu subjektif, hukuman mati boleh dilakukan tetapi tidak sebagai tujuan, tidak sebagai salah satu cara mencapai tujuan negara, dan bukan satu-satunya jalan sebagai efek jera.

Lantas? Bagaimana dalam sudut pandang Al Quran? Hal ini di sampaikan oleh Bapak Dr. Anis Masduqi, Lc. M.si, bahwa Al-Quran telah menerangkan di dalamnya secara eksplisit temtang macam hukuman, yaitu 1) Hudud, jenis pelanggaran yang ada dalam Al-Quran serta hukuman sudah pasti bagi yang melakukannya; 2) Ghoiru Hudud, misalnya takzir yaitu hukuman yang dijatuhkan atas dasar kebijaksanaan hakim karena tidak terdapat dalam Al-Quran dan Hadits; 3) Qishosh, yaitu hukuman yang dikenakan kepada seseorang yang seimbang sesuai dengan perbuatan kejahatan yang ia lakukan. Seperti firman Allah swt:

كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنفَ بِالْأَنفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya.” (al- Maidah: 45)

Adapun korupsi termasuk dalam ghoiru hudud yang berupa takzir, karena tidak dijelaskan secara detail terkait korupsi dalam Al-Quran dan As-Sunnah atau Hadits. Sehingga hukuman mati terhadap koruptor disesuaikan keadaan masyarakat dan kebijakan diserahkan kepada hakim.

Dalam sisi hukum, Bapak Dr. H. Budijono, S.H., M.H menyebutkan secara undang-undang di Indonesia bahwa hukuman bagi koruptor maksimal yaitu dipenjara seumur hidup, dipenjara 20 tahun dan paling ringan penjara 1 tahun. Adapun korupsi atau hukuman selainnya disesuaikan dengan tingkat besaran korupsi yang seseorang lakukan baik lamanya dipenjara maupun besaran denda yang harus dibayarkan.

Seminar ini sangat tepat diperuntukan bagi kawula muda. Mahasiswa pada umumnya. Karena perubahan pemikiran mengenai korupsi harus dimulai dari sekarang dan oleh kita sendiri. Jadi, tugas masing-masing dari kita adalah menyadari bahwa tindak korupsi sekecil apapun itu tidak dibenarkan. Baik, di mata hukum maupun di mata al-quran. (Zat/Humas Publikasi)

Sumber: Nurul Fadhilatul H

Komentar ditutup.