Bg

IDUL FITRI DAN REVOLUSI MENTAL

Diterbitkan tanggal 11 Juli 2016

matin edit

Dr. H. Abdul Matin Bin Salman, Lc., M.Ag.
(Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Surakarta)

 

Hari Senin 11 Juli 2016 adalah awal hari aktif masuk kerja secara nasional. Pemerintah melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi, ME) mengintruksikan agar setiap Satuan Kerja di bawah masing-masing Kementerian, melaporkan Hasil Pemantauan Kehadiran Aparatur Negara Sesudah Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Himbauan itu sedikit agak menggelitik, sebab setelah 9 hari libur, masih dimungkinkan ada para aparatur negara yang melanggar disiplin kinerja. Kekhawatiran pemerintah ini mestinya tidak perlu terjadi, jika masing-masing aparatur negara memahami hakikat dan arti disiplin yang terkandung di dalam ibadah puasa. Apa yang dipresentasikan di dalam ibadah puasa ini ternyata belum sepenuhnya dihayati dan dimaknai secara holistik oleh para aparatur negara. Meskipun suasana hari raya masih terasa di mana-mana, akan tetapi justru karena masih dalam rangka merayakan hari kemenangan, hari ketaqwaan, hari untuk berbagi dan berinteraksi dengan semua kalangan serta lapisan, mestinya setiap aparatur negara harus segera melakukan pelayanan yang optimal.

Tulisan ini disampaikan dalam rangka mendukung apa yang menjadi semangat melayani dan mengoptimalkan layanan aparatur negara kepada masyarakat. Tidak mudah memaknai hari yang fitri ini. Kembali kepada fitrah dapat saja dimaknai sebagai pribadi yang sedang mengemban amanah khalifatullah fil ardh, yaitu wakil Allah di muka bumi. Menjadi wakil Allah berarti menjadi pribadi-pribadi yang memiliki integritas, mau bekerja keras, dan memiliki semangat kebersamaan atau dalam keseharian sering diistilahkan saling tolong menolong, bergotong royong, tentu dalam hal kebaikan.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (al-Maidah: 2)

Sebulan penuh setiap muslim menempa diri untuk menjadi manusia yang baru, pribadi baru dan semangat juga baru. Klaim kembali kepada fithrah berhati menjadi putih-bersih sebagai simbol kesucian, memiliki dedikasi yang tinggi, dan menjadi pribadi-pribadi dengan kesalehan sosial. Kemenangan di hari Idul Fitri bukan hanya berarti kembali kepada fitrah kesucian diri-pribadi, tanpa bekas dan implikasi sosial sama sekali. Fitrah harus dimaknai juga kembali kepada fitrah kewajiban dan tugas kita, yaitu hidup secara kolektif kolegial membangun kebersamaan demi  menyejahterakan kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama di atas bumi ini.

Rasulullah pernah berpidato dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Di dalam pidato itu, beliau menyampaikan pentingnya semangat kebersamaan dan penuh dedikasi kepada sesama. Semangat itu tidak boleh berakhir dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan. Takbir yang kita kumandangkan pertanda berakhirnya bulan suci Ramadhan, haruslah kita maknai sebagai simbol bahwa, pesan nilai-nilai pidato itu harus diimplementasikan dalam sebuah formulasi kebersamaan dengan penuh rasa persaudaraan. Pidato itu memuat beberapa pesan nilai moral sosial yang sangat tinggi. Utamanya adalah bahwa, setiap individu dari orang-orang yang beriman Islam harus memiliki kontribusi kepada sesamanya, sesuai dengan kadarnya masing-masing. Hal ini mengingatkan kita kepada pertanyaan beberapa sahabat yang merasa tidak mampu untuk berkontribusi, karena tidak memiliki sesuatu untuk disumbangkan:

لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ

Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah! tidak semua dari kami mempunyai sesuatu yang bisa disumbangkan kepada orang lain (yang berpuasa). Rasulullah menjawab: Allah akan memberikan pahala kepada orang yang memberi sesuatu kepada orang lain, (untuk berbuka) walaupun hanya sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu.

Dalam perspektif hadis ini, maka sesungguhnya Idul Fitri merupakan bentuk euphoria implementasi nilai-nilai pelayanan publik yang dilandasi oleh kasih sayang, empati dan kepedulian kepada sesama. Lihat saja, bagaimana Rasulullah sangat memperhitungkan kontribusi setiap individu dan elemen warganya, walau hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu. Di dalam Islam, kontribusi bukan masalah besar-kecil, banyak-sedikit atau mewah-tidaknya, meskipun kuantitas terkadang juga diperlukan. Tetapi, rasa kepedulian kepada sesama itulah yang menjadi targetnya. Oleh karena itu, Rasulullah menjadikan setiap kontribusi -apapun bentuknya- sebagai pondasi kebersamaan dalam kehidupan sosial, bernegara dan beragama.

Sekali lagi, Islam menegaskan bahwa, kaidah berbagi bukan terletak pada kuantitasnya. Peran aktif dan keikutsertaan setiap individu dalam kebaikan dan kebersamaan merupakan simbol saja, dari bagian terpenting dalam regulasi cara merubah mindset atau pola pikir. Melalui pola pikir tentang kebersamaan inilah Islam menyatukan kita. Firman Allah:

واعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu (dengan dipenuhi rasa kasih saying), qmaka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya  agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Ali Imron ayat 103).

Idul Fitri saat ini, setidaknya mampu menyampaikan pesan ayat dan hadis di atas umat Islam di seluruh dunia. Keduanya menegaskan bahwa, untuk mewujudkan persatuan yang saling menghormati dan menghargai, hal pertama yang harus dilakukan adalah merubah mindset atau pola pikir, sikap, dan perilaku yang berorientasi pada kebersamaan. Bahwa, manusia (siapapun dia) adalah makhluk sosial (al-insanu madaniyun bithab’i). Rasulullah mengajarkan, bagaimana beliau membangun pola pikir berbagi. Dari mental peminta menjadi pemberi, mental pemalas menjadi pekerja keras, mental pelaknat dan penghujat menjadi lebih apresiatif dan penuh kesih sayang kepada sesama.

Momen Idul Fitri merupakan momen untuk menaikkan derajat kemanusiaan kita. Memanusiakan manusia, tentu tidak cukup hanya kontribusi fisik yang sifatnya material, namun juga pembangunan jiwa setiap umat atau anak bangsa. Dalam naungan hadis tadi, Rasulullah juga menegaskan bahwa, setiap individu beriman harus terlibat aktif dan memiliki kontribusi (tanggungjawab) atas umat yang lain. Dalam bahasa lain, membangun sebuah komunitas atau negara bukan hanya urusan atau tanggungjawab pemimpin semata, tetapi merupakan tanggungawab bersama. Oleh karena itu, Rasulullah tidak berbicara hal ini sebagai sebuah hubungan antara si kaya dengan si miskin, antara pemimpin dengan rakyat, tetapi membangun ikatan secara kolektif kolegial antara sesama.

Peristiwa Idul Fitri seperti saat ini, tepat rasanya untuk meneguhkan kembali bahwa gerakan revolusi mental merupakan hal yang selaras dengan jargon-jargon kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Di mana, kebersamaan dan gotong-royong ditekankan. Sebiji kurma, seteguk air minum dan setetes susu tentu bukan ukuran, namun penekan Rasulullah terletak pada kekuatan kolektif, sehingga menggugah ikatan emosional (hati) antara sesama.

Itulah sebabnya, mengapa setiap hendak shalat seorang imam terus menerus mengingatkan pentingnya meluruskan barisan shalat (shaff). Karena di bawah komando:

سَوُّوا صفوفَكم؛ فإنَّ تسويةَ الصفِّ من تمامِ الصَّلاةِ

Ada pesan revolusioner yang ingin disampaikan dalam hadis ini. Tentu maksud Rasulullah, bukan hanya sekedar meluruskan barisan shalat (shaff), karena jika hanya itu yang dikehendaki, maka tidak perlu disampaikan secara berulang-ulang. Para ulama pun meyakini bahwa, komando itu bertujuan untuk membangun karakter pribadi, kesalehan personal dalam rangka mengingatkan, bahwa shalat, selain ekspresi kepatuhan kepada Sang Khaliq, juga harus mempresentasikan ikatan emosional, nyambung roso (bahasa jawa) antar sesama.

Mari kita sambut bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya dengan penuh optimis dan pikiran yang positif. Kita berdoa, semoga para pimpinan umat, ulama, umara (pemerintah) dan setiap aparatur negara ini mampu bekerja mengemban amanah dengan baik. Dan hanya kepada Allah lah kita sandarkan segala pekerjaan kita. Sebagaimana firman Allah:

قُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu.

Komentar ditutup.