Bg

Ikhtiar Menuju Kemajuan Islam Indonesia

Diterbitkan tanggal 1 Maret 2017

Oleh: Winarto, S.Th.I., M.S.I
(Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta)

#BanggaIAINSurakarta

Islam di Indonesia dan fenomena umatnya selalu menarik dikaji. Akhir akhir ini, provokasi penghinaan bertema agama sangat terasa. Agama yang salah satu tujuannya mengimani Tuhan dan menjalankan ajaran-ajaran mulian-Nya justru dijadikan sebagai alat memecah belah. Motif kekuasaan, ekonomi dan nafsu duniawi menjadi beberapa pemicunya. Ini gejala tidak normal yang menghambat kemajuan. Bila keadaan ini makin parah, muncul kekhawatiran generasi ke depan akan menilai ini sebagai lembaran buruk cara beragama dan berbangsa kita.

Penting kirannya, terlebih dahulu kita memahami kembali fungsi Islam bagi kehidupan manusia. Kata al-Qur’an, Nabi Muhammad saw diutus tidak lain untuk membawakan amanat persaudaraan dalam kehidupan, wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin (Q.S. al-Anbiya [21]: 107). Kata “rahmah” diambil dari pengertian “rahim”, yang memiliki arti ikatan darah, persaudaraan atau hubungan kerabat. Dengan demikian manusia semuannya bersaudara. Jadi, tugas kenabian yang utama adalah membawakan persaudaraan yang diperlukan guna memelihara kedamaian manusia.

Apabila mengikuti pemahaman di atas, semestinya umat Islam tercipta suasana harmonis dan damai, tidak ada yang saling menghina dan menghujat. Namun, yang terjadi justru antar umat sibuk bertengkar, baik natural maupun terpancing berita hoak yang berseliweran di media massa. Akibatnya, alih-alih menjadi aktor utama kendali kemajuan, tetapi umat yang besar ini seringkali menjadi bahan tertawaan oleh kelompok tertentu ketika menghadapi berbagai isu nasional. Misalnya menghadapi isu politik, umat begitu mudah diombang-ambing oleh permainan beberapa aktor politikus. Sedihnya, ada diantaranya yang dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, masih didominasi oleh kegiatan yang yang tidak efektif. Hal inilah yang memecah fokus kerja-kerja produktif umat yang menghambat kemajuan. Sering terdengar, umat yang besar ini sering disindir dengan sebutan hamparan buih, tentu kita tidak terima bukan?

Sebuah kemajuan, tak hanya menuntut kuantitas tetapi juga kualitas. Begitu juga, kemajuan umat Islam Indonesia, tentu tidak bisa hanya mengandalkan umat Islam sebagai agama mayoritas. Lebih dari itu, potensi-potensi di dalamnya sudah semestinya dikaji dan dikembangkan.

Sebenarnya umat sudah didorong oleh Negara melalui kebijakan-kebijakan strategis. Misalnya, Pemerintah Indonesia, melalui Kementrian Agama, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) terus memperluas sayap disiplin keilmuwan. Hal ini membuka peluang sangat besar bagi umat untuk bisa berkiprah dalam berbagai lembaga Negara umum, tak hanya terkurung dalam wilayah Kementerian Agama. Tak hanya ahli berdebat soal bid’ah, kafir dan poligami tetapi juga jago berbicara soal teknologi, ekonomi dan politik. Bagi umat, tentu ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan bukti ketaatannya pada hadis nabi, cinta tanah air sebagian dari iman (hubbul wathan minal iman), sebagai konsekunsi keimananannya.

Pemahaman terhadap teks agama ( sumber sumber hukum)  sudah semestinya terus berubah mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat. Pemahaman yang mendorong agar umatnya mampu memberikan solusi masalah masalah kontemporer yang muncul di masyarakat. Islam sesuai dengan tempat dan waktu manapun juga, asalkan tidak meninggalkan prinsip-prinsip pokok ajaran. Inilah maksud dari ungkapan Islam tepat untuk segenap waktu dan tempat (al Islam shalihun likulli zamanin wa makanin).

Isu kepemimpinan misalnya, dalam Islam, kepemimpinan haruslah berorientasi kepada pencapaian kesejahteraan orang banyak. Sebuah adagium terkenal dari hukum Islam adalah kebijakan dan tindakan seseorang pemimpin haruslah terkait langsung kepada kesejahteraan rakyat yang dipimpin (tasharru al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuthun bi al-mashlahah). Selalu diutamakan pembicaraan mengenai kesejahteraan itu, yang dalam bahasa Arab dinamakan al-mashlahah al-ammah (secara harfiah, dalam bahasa Indonesia berarti: kepentingan umum). Jelaslah, dengan demikian kepemimpinan yang tidak berorientasi kepada hal itu, bertentangan dengan pandangan Islam.

Lebih jauh, dalam konteks bernegara, sangat erat hubungan antara Islam dengan kepemimpinan. Adagium yang mengatakan “tiada Islam tanpa kelompok, tiada kelompok tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan” (la Islama illa bi jama’ah wala jama’ata illa bi imarah wala imarata illa bi tha’ah). Di sini tampak jelas, arti seorang pemimpin bagi islam adalah pejabat yang bertanggung jawab tentang penegakkan perintah-perintah Islam dan pencegah larangan-larangan-Nya (amar ma’ruf nahi munkar).

Pergeseran pemahaman ini sudah ada, tetapi belum menyeluruh. Paradigma keilmuwan tidah hanya dalam level pemahaman tetapi diwujudkan dalam bentuk keahlian. Hasilnya adalah para praktisi yang menghasilkan karya yang langsung dirasakan masyarakat.

Dorongan Islam  terhadap kemajuan umat untuk menjawab berbagai perkembangan hendaklah secara menyeluruh, tidak hanya soal ibadah tetapi juga soal sosial kemasyarakatan. Demikian firman Allah swt; “masuklah kalian ke dalam Islam (kedamaian) secara keseluruhan” (udkhulu fi al silmi kaffah) (Q.S al-Baqarah[2]: 208). Ini berarti kewajiban bagi kita untuk menegakkan ajaran-ajaran kehidupan yang tidak terhingga, secara sempurna.

Jauhnya ketertinggalan dalam bidang-bidang tertentu menuntut perubahan yang signifikan. Tentu tidak mudah, sehingga perubahan secara revolusionir adalah sebuah keniscayaan. Umat diharuskan berperan serta sehingga mampu mengawal kemajuan ilmu pengetahuan, memperkuat perekonomian, terdepan dalam teknologi hingga memegang kendali strategi politik. Bila tidak terlibat langsung mengawal perjalanan kemajuan nasional, ke depan, umat Islam nampaknya akan terus mendapat gempuran makin keras dari kelompok-kelompok tertentu. Dikhawatirkan, umat akan sempoyongan mengahadapinya. Semoga apa yang menjadi kegalauan saya, dan mungkin banyak orang di negeri ini yang merindukan kemajuan, hanyalah kekhawatiran semu, dan optimisme terus terbagun.

Kita berharap, lahir lebih banyak lagi para ilmuwan dan praktisi muslim yang mampu menjangkau isu-isu nasional maupun internasional dalam berbagai bidang terutama bidang yang saat ini gelagapan, misalnya politik, ekonomi dan teknologi. Akhirnya, ke depan umat tidak hanya debat soal ideologi melulu, tetapi menjadi para pionir hebat yang mampu memegang kendali masa depan Indonesia.  Allah a’lam bi al-shawab

Penulis

Winarto, S.Th.I., M.S.I.
Dosen Kajian Al Qur'an Fakultas Syariah

Dosen Kajian Al Qur'an Fakultas Syariah

Komentar ditutup.