Bg

Isyarat Ilmiah: Cahaya (Bagian 2)

Diterbitkan tanggal 11 April 2016

Al Qur’an merupakan kitab Allah sebagai sumber utama ajaran Islam yang bersifat universal dalam hal waktu dan tempat. Al  Qur’an diturunkan selama kehidupan Nabi Muhammad SAW yang ditulis dengan bahasa Arab namun untuk tujuan universal. Target audiens Al Qur’an adalah seluruh umat manusia tanpa memandang bahasa atau bahkan agama[1].

Bila setiap karya tulis manusia mesti fokus pada suatu tema tertentu dan jadinya selalu tersegmentasi, maka kitab ini justru tiada bersegmen/berbatas samasekali! Hal itu karena setiap patah kata di dalamnya bisa dimaknai secara multi dimensi, termasuk dapat ditinjau dari sudut pandang manapun. Sehingga isinya bisa nampak fokus, karena memang selalu terfokus pada suatu tema/topik yang relevan, dan juga bisa menjadi amat divergen (multi intepretasi) karena dimensi maknawinya yang amat meluas.[2]

Universalitas kitab itu juga karena seluruh isinya mencakup segala realitas faktawi di semesta alam[3]. Oleh karena itu, isyarat ilmiah yang disampaikan dalam Al Qur’an dapat dijadikan petunjuk bagi seluruh umat manusia untuk memahami keagungan dan kekuasaan Tuhan di alam raya ini sehingga dapat mengambil pelajaran (ibrah) daripadanya.

Salah satu isyarat ilmiah yang universal tersebut terdapat dalam Q.S. An-Nur ayat 35:

an nur 35

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hamper-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah mengetahui segala sesuatu”. (an-Nur/24: 35)[4].

Tafsir Jalalayn pada QS. An-Nur ayat 35:

Allah cahaya langit dan bumi) yakni pemberi cahaya langit dan bumi dengan matahari dan bulan. (Perumpamaan cahaya Allah) sifat cahaya Allah di dalam kalbu orang Mukmin (adalah seperti misykat yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca) yang dinamakan lampu lentera atau Qandil. Yang dimaksud Al Mishbah adalah lampu atau sumbu yang dinyalakan. Sedangkan Al Misykaat artinya sebuah lubang yang tidak tembus. Sedangkan pengertian pelita di dalam kaca, maksudnya lampu tersebut berada di dalamnya (kaca itu seakan-akan) cahaya yang terpancar darinya (bintang yang bercahaya seperti mutiara) kalau dibaca Diriyyun atau Duriyyun berarti berasal dari kata Ad Dar’u yang artinya menolak atau menyingkirkan, dikatakan demikian karena dapat mengusir kegelapan, maksudnya bercahaya. Jika dibaca Durriyyun dengan mentasydidkan huruf Ra, berarti mutiara, maksudnya cahayanya seperti mutiara (yang dinyalakan) kalau dibaca Tawaqqada dalam bentuk Fi’il Madhi, artinya lampu itu menyala. Menurut suatu qiraat dibaca dalam bentuk Fi’il Mudhari’ yaitu Tuuqidu, menurut qiraat lainnya dibaca Yuuqadu, dan menurut qiraat yang lainnya lagi dapat dibaca Tuuqadu, artinya kaca itu seolah-olah dinyalakan (dengan) minyak (dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur dan pula tidak di sebelah Barat) akan tetapi tumbuh di antara keduanya, sehingga tidak terkena panas atau dingin yang dapat merusaknya (yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api) mengingat jernihnya minyak itu. (Cahaya) yang disebabkannya (di atas cahaya) api dari pelita itu. Makna yang dimaksud dengan cahaya Allah adalah petunjuk-Nya kepada orang Mukmin, maksudnya hal itu adalah cahaya di atas cahaya iman (Allah membimbing kepada cahaya-Nya) yaitu kepada agama Islam (siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat) yakni menjelaskan (perumpamaan-perumpamaan bagi manusia) supaya dapat dicerna oleh pemahaman mereka, kemudian supaya mereka mengambil pelajaran daripadanya, sehingga mereka mau beriman (dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) antara lain ialah membuat perumpamaan-perumpamaan ini[5].

Tafsir Quraish Shihab pada QS. An-Nur ayat 35:

Allah adalah sumber segala cahaya di langit dan di bumi. Dialah yang menerangi keduanya dengan cahaya yang bersifat materiil yang dapat kita lihat dan berjalan di bawah cahayanya. Cahayanya juga ada yang bersifat maknawi seperti cahaya kebenaran, keadilan, pengetahuan, keutamaan, petunjuk dan keimanan. Dia juga menerangi langit dan bumi dengan bukti-bukti yang terkandung di dalam alam raya ini dan segala sesuatu yang menunjukkan wujud Allah serta mengajak untuk beriman kepada-Nya. Kejelasan cahaya-Nya yang agung dan bukti-buktinya yang mengagumkan adalah seperti cahaya sebuah lampu yang sangat terang. Lampu itu diletakkan di sebuah celah dinding rumah yang dapat membantu mengumpulkan cahaya dan memantulkannya. Lampu itu berada dalam kaca yang bening dan bersinar seperti matahari, mengkilap seperti mutiara. Bahan bakar lampu itu diambil dari minyak pohon yang banyak berkahnya, berada di tempat dan tanah yang baik, yaitu pohon zaitun. Pohon itu ditanam di tengah-tengah antara timur dan barat yang membuatnya selalu mendapat sinar matahari sepanjang hari, pagi dan sore. Pohon itu bahkan berada di puncak gunung atau di tanah kosong yang yang mendapatkan sinar matahari dalam sehari penuh. Karena teramat jernih, minyak pohon itu seakan hampir menyala, meskipun lampu tersebut tidak disentuh api. Semua faktor tersebut menambah sinar dan cahaya lampu menjadi berlipat ganda. Demikianlah bukti-bukti materi dan maknawi yang terpancar di alam raya ini menjadi tanda-tanda yang jelas yang menghapus keraguan akan wujud Allah dan kewajiban beriman kepada-Nya serta risalah-risalah-Nya. Melalui itu semua, Allah merestui siapa saja yang dikehendaki untuk beriman jika dia mau menggunakan cahaya akalnya. Allah memaparkan contoh-contoh yang bersifat materiil agar persoalan-persoalan yang bersifat rasionil mudah ditangkap. Allah Swt. Mahaluas pengetahuan-Nya. Dia mengetahui siapa saja yang memperhatikan ayat-ayat-Nya dan siapa yang enggan dan sombong. Dia akan memberi balasan kepada mereka atas itu semua[6].

 

Tafsir Ilmu Kementerian Agama RI pada QS. An-Nur ayat 35 [7]:

Ayat tersebut mendorong beberapa ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek fisik cahaya.

1

Mata, alat optic yang berfungsi sebagai indera penglihatan, dapat berfungsi karena adanya cahaya dari objek yang dilihat.

 

Pada pertengahan abad X, Alhazen mengembangkan sebuah teori yang menjelaskan tentang indera penglihatan, menggunakan geometrid an anatomi. Teori itu mengatakan bahwa mata dapat melihat benda-benda di sekeliling karena adanya cahaya yang dipancarkan atau dipantulkan oleh benda-benda yang bersangkutan, masuk ke dalam mata.
Alhazen pun ketika itu mengangagap bahwa cahaya adalah kumpulan partikel kecil yang bergerak pada kecepatan tertentu. Alhazen juga mengebangkan Teori Ptolemy

Setelah Alhazen, Sir Isaac Newton (1642-1727), yang terkenal dengan Teori Emisi atau Teori Partikel, mengemukakan pendapatnya bahwa dari sumber cahaya dipancarkan partikel-partikel yang sangat kecil dan ringan ke segala arah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Berdasarkan temuannya, Newton mengatakan juga bahwa cahaya dapat merambat lurus tanpa terpengaruh gaya gravitasi bumi. Hukum pemantulan Snellius berlaku untuk cahaya.

Cristian Huygens (1629-1695), mengemukakan bahwa pada dasarnya cahaya sama dengan bunyi, dan berupa gelombang, perbedaannya hanya pada panjang gelombang dan frekuensinya. Dalam teori Huygens ini peristiwa pemantulan, pembiasan, interferensi, maupun difraksi cahaya dapat dijelaskan secara tepat, namun belum dapat member penjelasan yang gambling mengenai sifat cahaya merambat lurus.

2

Cahaya sebagai gelombang elektromagnetik.

 

Percobaan James Clerk Maxwell (1831-1879), dengan teori elektromagnetiknya menyatakan bahwa cepat rambat gelombang elektromagnetik sama dengan cepat rambat cahaya, yaitu 300.000 km/detik. Albert Michelson dan James Morley (1887), membuat mesin untuk menguji teori Maxwell, menyimpulkan bahwa kecepatan gelombang cahaya adalah tetap.

3

(a)    Gelombang Transversal: arah rambatnya tegak lurus dengan arah getarnya

4

(b)    Polarisasi data diartikan penyearahan gerak getaran gelombang. Hanya  gelombang transversal yang dapat mengalami polarisasi

Gelombang cahaya diyakini sebagai gelombang elektromagnetik, yaitu kombinasi medan listrik dan medan magnet yang berosilasi dan merambat lewat ruang dan membawa energy dari satu tempat ke tempat yang lain. Maxwell juga berkesimpulan bahwa cahaya merupakan salah satu bentuk radiasi elektromagnetik. Hal ini didukung oleh Heinrich Rudolph Hertz (1857-1894) yang membuktikan bahwa gelombang elektromagnetik merupakan gelombang transversal, sesuai dengan kenyataan bahwa cahaya dapat menunjukkan gejala polarisasi.

Peter Zeeman (1852-1943), menunjukkan bahwa medan magnet yang sangat kuat dapat berpengaruh terhadap berkas cahaya. Peecobaan yang dilakukan oleh Stark (1874-1957) menyimpulkan bahwa medan listrik yang sangat kuat juga dapat mempengaruhi berkas cahaya.

Teori kuantum pertama kali dicetuskan pada tahun 1900 oleh karl Ernst Ludwig Plank (1858-1947). Planck mengamati sifat-sifat radiasi benda hitam hingga ia pada tahun 1901 berkesimpulan bahwa energy cahaya terkumpul dalam paket-paket energy yang disebut kuanta atau foton. Namun, foton pada teori Planck tidak bermassa, sedangkan teori partikel pada teori Nemton bermassa. Pernyataan Planck mendapat dukungan dari Albert Einstein, ebrhasil menerangkan gejala fotolistrik.

Fotolistrik adalah peristiwa terlepasnya electron dari suatu logam yang dicahayai dengan panjang gelombang tertentu.

Dari seluruh teori cahaya yang muncul, dapat disimpulkan bahwa cahaya mempunyai sifat dual (dualism cahaya), yaitu cahaya dapat bersifat sebagai gelombang untuk menjelaskan peristiwa interferensi dan difraksi, tetapi di lain pihak cahaya dapat berupa materi tak bermassa yang berisikan paket-paket energy yang disebut kuanta atau foton sehingga dapat menjelaskan peristiwa efek foto listrik.

Diskusi pada QS. An-Nur ayat 35[8]:

Tafsir Q.S. An Nur ayat 35 di atas menunjukkan universalitas Al-Qur’an. Sesuai dengan latar belakang keilmuannya berusaha untuk mengambil ‘ibrah’ dan menjabarkan maksud isyarat ilmiah ‘nur’ (cahaya).

Cahaya memiliki peran yang sangat besar di alam semesta. Demikianlah Allah memberi cahaya (aspek fisik cahaya)  (kepada) langit dan bumi. Dengan cahaya-Nya (aspek fisik cahaya), kita dapat melihat benda-benda, mengidentifikasi, dan memanfaatkan untuk kemaslahatan dunia akherat.

Proses melihat suatu benda dapat dilihat oleh mata apabila benda tersebut memantulkan cahaya. Pantulan cahaya itu diterima mata melalui lensa masuk ke dalam retina, rangsangan cahaya diterima oleh sel-sel reseptor kemudian diteruskan ke sarah mata (optik) dan dalam bentuk impuls saraf (sinyal). Selanjutnya, rangsang dikirim ke pusat sarah penglihatan di otak untuk diterjemahkan. Setelah itu, barulah kita melihat benda tersebut. Apabila kita melihat sebuah benda, misalnya sebuah lilin yang menyala, pada retina akan terbentuk bayangan terbalik dengan ukuran lebih kecil daripada benda yang sebenarnya. Impuls saraf dan retina dikirm ,elalui saraf optik ke pusat saraf penglihatan di otak. Kemudian, otak mengubahnya menjadi lilin yang menyala dalam ukuran sebenarnya dan tidak terbalik (Ediciones, 1994)[9].

Salah satu bagian mata adalah lensa mata. Lensa mata termasuk lensa konvergen atau lensa cembung atau lensa positif. Walaupun pembiasan cahaya yang masuk ke mata lebih banya terjadi pada kornea, lensa mata juga membiaskan dan memfokuskan berkas cahaya agar benda dapat terlihat dengan jelas. Retina berfungsi mengubah gelombang cahaya menjadi sinyal listrik yang selanjutnya diteruskan melalui saraf optic menuju otak[10].

Mata normal (emmetropi) dapat melihat dengan baik pada jarak sekitar 25 cm – ∼ (tak terhingga melalui kemampuan akomodasi. Akomodasi mata adalah penyesuaian panjang focus (f) lensa mata dengan jarak benda yang dilihat mata, sehingga bayangan benda dapat difokuskan pada retina. Benda dapat dilihat dengan jelas oleh mata jika bayangannya tepat di retina. Panjang fokus lensa mata adalah jarak antara lensa dan titik fokus lensa (F).

5

Daya Akomodasi Mata

Sumber: https://gurumuda.net/alat-optik-mata.htm

Perubahan kelengkungan lensa menyebabkan jari-jari kelengkungan lensa berubah dan karenanya panjang fokus lensa berubah. Jika mata mengamati benda pada titik jauh, otot siliari mengendur (rileks), menyebabkan lensa mata menjadi lebih pipih sehingga jari-jari kelengkungan dan panjang fokus lensa bertambah.

 

6

Ketika jarak benda sangat jauh

Sumber: https://gurumuda.net/alat-optik-mata.htm

Titik jauh, Punctum Remotum (PR) adalah jarak terjauh yang dapat difokuskan oleh mata dengan tidak berakomodasi, di mana titik jauh mata normal adalah tak berhingga (∼). Ketika mata menyesuaikan panjang fokus lensa untuk memfokuskan benda pada titik jauh atau benda berjarak tak berhingga, mata berakomodai maksimum.

8

Ketika jarak benda sangat dekat

Sumber: https://gurumuda.net/alat-optik-mata.htm

Apabila mata mengamati benda pada jarak dekat, otot siliari menegang (kontraksi) menyebabkan lensa mata menjadi lebih lengkung sehingga jari-jari kelengkungan dan panjang fokus lensa bertambah. Jarak benda ke mata terdekat yang masih mampu difokuskan mata dengan berakomodasi maksimum disebut titik dekat, Punctum Proximum (PP). Rata-rata manusia mempunyai titik dekat 25 cm.
Mata normal, secara alamiah memiliki daya akomodasi yang baik sehingga dapat melihat benda jauh maupun dekat dengan jelas. Apabila daya akomodasi mata tidak optimal, maka perlu dibantu dengan kacamata. Fungsi kacamata adalah untuk membantu menyesuaikan fokus lensa mata. Untuk lensa mata yang kurang dapat menipis (rabun jauh/miopi), dibantu dengan kacamata berlensa negative/lensa cekung. Untuk lensa mata yang kurang dapat mencembung (rabun dekat/hipermetropi), dibantu dengan kaca mata positif/berlensa cembung. Untuk mata tua (presbiopi), lensa mata kurang dapat mencembung dan mencekung sehingga ditolong dengan kacamata berlensa rangkap, cekung dan cembung.

 

Demikianlah sebagian ibrah yang dapat kita ambil dari Q.S An Nur ayat 35. Allah memberikan lensa mata yang dapat mencembung dan mencekung otomatis (daya akomodasi) secara gratis. Bayangkan jika kita harus membelinya secara materiil, mampukah kita?

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

16. Then which of the Blessings of Your Lord will You both (jinns and men) deny?

(Q.S. Ar-Rahman: 16)

 

Hanya dengan bersyukur dan memanfaatkannya untuk kebaikan, berharap nikmat-Nya semakin ditambahkan kepada kita.

 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”[11]. (QS. Ibrahim/14: 7)

 

Wallahu a’lam bish-shawabi….

 

Catatan Kaki:

[1] http://www.arrahmah.com/news/2014/10/01/al-quran-kitab-universal.html, Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Laboratorium Religi dan Budaya Lokal (LABeL) UIN Sunan Kalijaga Ahmad Rafiq, Ph.D. di Yogyakarta (30/9/2014), lapor M.Chozin.

[2] https://id-id.facebook.com/notes/pesona-tauhid/universalitas-al-quran/654556541267872/

[3] Ibid.

[4] Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI, Tafsir Ilmi Manfaat Benda-Benda Langit dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Jakarta, 2012, hlm.28.

[5] http://www.tafsirq.com

[6] Ibid.

[7] Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI, op. cit, hlm. 28-32.

[8] Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI, op. cit, hlm. 28-32.

[9] http://www.artikelsiana.com/2014/09/proses-melihat-mekanisme-Mata.html

[10] https://gurumuda.net/alat-optik-mata.htm

[11] http://alquranalhadi.com/

Penulis

Muslimah Susilayati
Staf IAIN Surakarta

Komentar ditutup.