Bg

Karakter Bangsa Bukan Hanya Milik Guru

Diterbitkan tanggal 21 Januari 2015

Beberapa dekade yang lalu, dunia pendidikan sedang dihebohkan akan kemunculan pendidikan karakter. Bahkan kehebohan akan pendidikan karakter ini sampai sekarang masih terus saja semarak, mulai dari buku yang berbau karakter, penelitian-penelitian, bahkan juga sampai diiklankan tentang pentingnya hal itu. Pendidikan karakter ini tidak lain ditujukan agar siswa-siswanya memiliki karakter yang positif, sampai pada akhirnya menjadikan manusia beradab dan bermoral.

Masyarakat banyak yang beranggapan bahwa guru selama ini lebih banyak mengajarkan ilmu pengetahuan saja, hal yang sifatnya kognitif. Setiap hari, murid-murid hanya dicekoki pengetahuan dan soal-soal ujian, padahal sebenarnya ada tiga ranah yang harus dibangun dan dikembangkan yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

Ketiga hal inilah yang pada akhirnya akan membawa manusia tersebut menjadi manusia yang benar-benar berkarakter. Ketidakseimbangan di salah satu sisinya maka akan menyebabkan dampak-dampak negatif dan hal itulah yang pada akhirnya mengakibatkan bobroknya moral di negeri ini.

Guru adalah seorang yang mengajarkan ilmu pengetahuan, tata krama dan hal-hal positif lainnya. Guru menjadi sosok yang berbeda diantara manusia yang lainnya. Ia mempunyai ilmu, kepribadian, metode di dalam mengajar, yang kita sering menyebutnya sebagai keahlian akademik pedagogik dan profesional.

Dalam istilah Jawa, figur seorang guru menempati posisi yang cukup tinggi digugu lan ditiru apapun yang dikatakan, diperbuat, dicita-citakan oleh guru berdampak juga akan ditiru oleh murid-muridnya. Dan, kemuliaan seorang guru ditentukan oleh seberapa tinggi ilmu, tata krama dan keprofesionalan seorang guru di dalam mengajarkan atau di dalam memberikan keteladanan kepada murid-muridnya.

Kalau kita boleh jujur, pendidikan karakter ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Agama, Pendidikan Budi Pekerti. Dengan bekal pendidikan karakter tersebut, diharapkan moral bangsa Indonesia menjadi lebih baik, bermoral dan berakhlak mulia atau dengan kata lain karakter-karakter positif telah terbentuk akan menjadikan manusia memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi. Sebagaimana disebutkan Dirjen Pendidikan Dasar 2011 bahwa karakter-karakter yang dimiliki suatu negara akan selalu mempengaruhi kreativitas dan inovasi yang akan dihasilkannya.

Meskipun demikian, kemunculan pendidikan karakter ini haruslah kita pahami secara komprehensif, mendalam dan kritis, agar salah satu pihak tidak merasa dirugikan bahkan disalahkan. Guru sebagaimana disebutkan di atas, akhir-akhir ini menjadi salah satu pihak yang terpojokkan dan bahkan menjadi salah satu penyebab kerusakan moral yang sedang terjadi di Indonesia ini. Kalau hal ini terus dibesar-besarkan, yang terjadi adalah saling menyalahkan.

Masyarakat haruslah menilai secara profesional sebagaimana diungkapkan oleh tokoh kita yaitu Ki Hajar Dewantoro yaitu, Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, dan Tutwuri handayani. Ketiga hal ini harus dipahami secara menyeluruh dan tidak hanya untuk guru/pendidik maupun praktisi pendidikan saja melainkan juga pemerintah dan masyarakat luas. Karena kalau hal ini hanya dibebankan pada guru saja, maka perubahan sangat mustahil terjadi.

Ing ngarsa sung tulodha berarti orang yang berada di depan harus dapat memberikan contoh-contoh yang dapat diteladani oleh generasi penerus. Orang yang berada di depan harusnya tidak dipahami secara sempit saja yaitu hanya seorang guru, melainkan setiap individu yang telah diberi kepercayaan untuk membina kelompok-kelompok/organisasi maupun individu yang secara tidak langsung tidak diberi kepercayaan.

Ing madya mangun karsa berarti setiap individu haruslah mempunyai keinginan yang kuat di dalam membangun peradaban yang berkarakter di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Masyarakat harus berani berlomba-lomba untuk belajar, bekerja, bermasyarakat secara tertib, disiplin dan bertanggung jawab. Keinginan yang kuat itu haruslah diwujudkan secara bersama-sama, di lingkungan rumah/keluarga, masyarakat, perkantoran, sekolah, dan lain-lain.

Tutwuri handayani berarti setiap individu mempunyai tanggung jawab serta perhatian secara pribadi maupun kelompok di dalam menjalankan perintah pemimpin. Kesiapan menerima maupun menjalankan perintah atau tata aturan akan mejadikan manusia untuk selalu berusaha sungguh-sungguh untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan memberikan saran atau kritik apabila ada peraturan yang menyimpang dari nilai-nilai yang berlaku di sebuah masyarakat. Karena kita semua menyadari bahwa manusia tidak terlepas dari salah dan lupa, tapi bukan berarti membuka peluang untuk saling menyalahkan.

Dari tiga hal di atas menunjukkan bahwa membangun karakter suatu bangsa dibutuhkan pemahaman yang mendalam serta kritis di dalam melihat/membaca teks suatu materi maupun permasalahan yang sedang terjadi. Kerja sama yang baik antara sekolah, pemerintah dan masyarakat luas akan menjadikan anak bangsa berkarakter positif, dan dengan karakter itulah yang pada akhirnya akan mendongkrak kualitas bangsa melalui kreativitas serta inovasi-inovasi yang spektakuler.

Baik-buruknya karakter suatu bangsa dipikul oleh setiap individu yang mendiami suatu bangsa tersebut. Jangan hanya berharap pembentukan karakter itu diserahkan oleh sosok guru saja, karena hal tersebut sangatlah tidaklah mungkin, apalagi menyerahkan nasib bangsa hanya pada “guru”. Yang ada hanyalah guru menjadi tempat yang paling salah dan terpojokkan.

Sebagai seorang guru, sudahkan kita berkaca kepada diri kita sendiri bahwa kita ini merupakan sosok yang dapat diteladani? Sebagai masyarakat, sudahkah masyarakat berkaca kepada diri mereka bahwa mereka juga mempunyai tugas sebagaimana seorang guru? Sebagai birokrasi pemerintah, sudahkah kita menjalankan tugas sebenar-benarnya di dalam meletakkan kebijakan-kebijakan serta menjadi sosok yang dapat dijadikan panutan masyarakat luas pula?

Tulisan ini dimuat pada Harian Joglosemar

http://joglosemar.co/2015/01/opini-karakter-bangsa-bukan-hanya-milik-guru.html

Penulis

Fauzi Annur
Guru MI Al-Islam Kartasura, Sukoharjo

Penulis merupakan Alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Surakarta. Dan merupakan anggota IGI Solo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.