Bg

Ketersediaan Kolom Opini untuk Meningkatan Daya Kritis dan Intelektualitas Mahasiswa di IAIN Surakarta

Diterbitkan tanggal 4 Agustus 2016

Anis Tri Purwanti

Oleh: Anis Tri Purwanti
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam 2015

 

Mahasiswa merupakan sebutan bagi seseorang yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang berperan sebagai agent of change, agent of social  control dan iron stock yang memiliki tanggung jawab keumatan dan kebangsaan sebagai generasi penerus bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa mahasiswa dituntut untuk mengerti situasi dan kondisi bangsa, mereka harus mampu berfikir secara rasional dan peka terhadap kejadian yang terjadi dilingkungan masyarakat.

Tradisi berfikir dengan menggunakan rasional dengan berpikir kritis merupakan tradisi yang tidak boleh hilang dikalangan mahasiswa. Tradisi berpikir yang ada dan tertanam dalam otak mahasiswa merupakan indikasi dari kaum intelektual dan orang-orang yang kritis terhadap lingkungan sekitar.

Iskandar (2009: 86-87) menyatakan bahwa kemampuan berpikir merupakan kegiatan penalaran yang reflektif, kritis dan kreatif, yang berorientasi pada suatu   proses   intelektual   yang   melibatkan   pembentukan  konsep, analisis, melalui pengamatan, pengalaman, komunikasi sebagai landasan kepada suatu keyakinan atau kepercayaan dan tindakan.

Berpikir kritis bukanlah semata-mata menghasilkan kontroversial terhadap keadaan sosial, akan tetapi ada serangkaian kerja otak yang mengorganisir suatu permasalahan dan menetukan sebab akibat yang berhubungan dengan logika.

Sebagai generasi penerus bangsa yang berperan sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial, mahasiswa harus meningkatkan daya kritis dan kemampuan intelektualnya. Salah satu cara untuk meningkatakan daya kritis dan intelektualitas mahasiswa adalah dengan melalui budaya literasi, yaitu budaya membaca dan menulis yang merupakan  kemampuan dasar seseorang untuk membaca, memahami dan kemudian menulis kembali gagasan yang ada.

Dengan membaca, wawasan seseorang dapat bertambah, selain itu dapat memperkaya pengetahuan dan mengasah kemampuan berpikir. Menganalisis ide atau suatu ide atau gagasan dalam suatu paragraf juga termasuk berpikir kritis. Sedangkan dengan menulis, dapat membuat seseorang kaya akan imajinasi. Kegiatan literasi ini tidak dapat dipisahkan dari mahasiswa karena literasi identik dengan dunia pendidikan.

Kehadiran kolom opini dalam media cetak maupun online memberikan kesempatan bagi mahasiswa di IAIN Surakata untuk meningkatkan budaya literasi dan mengembangkan daya kritis serta kemampuan  intelektualnya. Salah satu contoh media massa yang menyediakan kolom opini bagi mahasiswa adalah Kolom Mimbar Mahasiswa Solopos, Suara Mahasiswa Sindo, Kompas dan Kolom opini di web IAIN Surakarta.

Pada dasarnya, ada kesadaran etos literasi dan budaya ilmiah yang dibentuk oleh redaktur atau pengelola media tersebut untuk mahasiswa. Kolom opini ini berkontribusi terhadap adanya kesadaran etos literasi dikalangan mahasiswa yang secara langsung berperan pula dalam upaya meningkatkan daya kritis dan intelektualitas mahasiswa. Selain itu, ada persaingan intelektual yang terjadi antar mahasiswa  karena para pengelola media mempunyai standar tersendiri untuk menentukan tulisan yang akan dimuat. Dengan hal tersebut mahasiswa yang mengirim tulisannya ke media tersebut dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas serta daya kritis yang tinggi agar tulisannya dapat dimuat.

Dalam kolom opini tersebut, mahasiswa dibiarkan untuk berpikir dan menulis dengan bebas tentang peristiwa aktual baik yang terjadi didalam kampus ataupun luar kampus. Mahasiswa diajak untuk selalu berpikir kritis dengan menyampaikan gagasannya ataupun menanggapi tulisan yang telah dimuat sebelumnya dengan mendukung argumentasi yang telah dimuat sebelumnya atau membantahnya.

Kehadiran kolom opini ini turut berkontribusi untuk meningkatkan daya kritis mahasiswa . Ciri-ciri berpikir kritis meliputi kemampuan mengidentifikasi, kemampuan mengevaluasi, kemampuan menyimpulkan serta  kemampuan untuk mengungkapkan pendapat. Dalam kolom opini ini, mahasiswa diajak untuk mampu mengidentifikasi masalah-masalah aktual yang terjadi, mengumpulkan informasi, menentukan pikirannya. Selain itu mahasiswa diajak untuk mengevaluasi dan menyimpulkan benar atau salah dengan membaca gagasan yang dimuat dalam kolom opini tersebut. Selain itu, mahasiswa harus mampu merancang solusi dan mengemukakan pendapat dengan alasan-alasan logis dan fakta-fakta yang mendukung pendapatnya.

Selain berkontribusi meningkatkan daya kritis, kolom opini juga berperan dalam pembentukan intelektualitas. Soe Hok Gie mengatakan bahwa ciri orang intelektual adalah kita yang mampu membumikan gagasan kita dengan pena. Dengan menulis di kolom opini intelektualitas seorang mahasiswa dapat berkembang karena untuk menulis memerlukan referensi dan sumber bacaan yang banyak untuk memperkaya tulisan memperkuat gagasan yang akan kita sampaikan. Dengan melalui membaca banyak referensi otomatis pengetahuan dan wawasan seseorang akan bertambah.

Keterbukaan media massa untuk menampung aspirasi mahasiswa merupakan hal yang hal yang seharusnya mendapat tempat tersendiri di hati mahasiswa IAIN Surakarta, karena adanya kolom opini di media cetak maupun online turut berkontribusi dalam meningkatkan daya kritis dan intelektualitas mahasiswa.  Namun, apakah kesempatan yang diberikan media tersebut sudah digunakan dengan baik oleh mahasiswa IAIN Surakarta?

Penulis

Anis Tri Purwanti
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam 2015

Komentar ditutup.