Bg

KKN Mandiri Minggarharjo Adakan Ngaji Kebudayaan Bersama Gus Iman Widodo

Diterbitkan tanggal 1 Agustus 2019

SINAR- KKN Minggarharjo adakan kegiatan Ngaji Kebudayaan bersama gus Iman Widodo pengasuh padepokan Jabalahad  Bayat Klaten,acara tersebut bertempat di halaman masjid Abdurrohman Ar-rasyid Minggarharjo, Eromoko, Wonogiri pada Kamis pagi (1/8).

Kegiatan ini adalah kegiatan terakhir dari pengabdian Mahasiswa KKN kepada Masyarakat Minggarharjo atasakerjasama antara KKN Mandiri Minggarharjo dengan FKK( Forum Komunikasi dan Koordinasi) guru-guru TPQ se-Minggarharjo.

Acara ini dimulai pukul 19.30 WIB di awali dengen pembukaan dan sambutan-sambutan dari berbagai tokoh Masyarakat dan tokoh agama desa Minggarjo,setelah itu dilanjut pembagian hadiah acara sebelumnya yaitu festifal anak sholeh dan festifal anak kreatif. Camat Eromoko bapak Danang Erawanto S. Sos. yang juga hadir dalam acara tersebut  dalam sambutanya menuturkan “ acara ini merupakan acara yang unik karena bisa memadukan antara kajian keagamaan dan budaya, biasanya kalau kata “ngaji” itu urusanaya dengen agama dan dalil-dali  sedangkan kata “budaya” urusanya dengan kebiasaan masyarakat seperti srawung, tapi dalam hal ini KKN Mahasiswa IAIN Surakarta bisa menyelaraskan keduanya,jadi kita bisa menjadi Umat yang agamis tanpa meninggalkan jati diri budaya kita sebagai orang jawa “.

Acara terssebut juga di meriahkan oleh kreasi dari Masyarakat desa Minggarharjo diantaranya Tari Sintren dan tari Golek Manis juga  Rinding Kompreng yaitu alat musikTradisional yang terbuat dari bambu.

Dalam ceramahnya Gus Iman widodo menuturkan “ pada dasarnya setiap manusia mempunyai potensi iblis dan malaikat dalam dirinya ini bisa di gambarkan dengan punokawan semar dan dan togog, apakah nanti yang mucul semar ataukah togog dalam diri kita itu tergantung bagaimana kita mengolah hati kita,oleh karena itu kanjeng sunan Kalijogo sudah memberikan tuntunan dan tentunya di sesuaikan dengan kebudayaan masyarakat salah satunya berupa tembang “ lir-ilir”, dalam tembang tersebut kita di umpamakan sebagai “bocah angon” yang di suruh “ menek blimbing” untuk “ sebo mengko sore” dalam artian kita harus bisa mengayomi semua yang ada di bumi ini sebagai khalifah Allah dibumi ini, dan harus berpegang pada lima prinsip yaitu rukun Islam dalam ranah agama dan Pancasila dalam ranah negara”. Acara tersebut di akhiri dengan pembacaan Kidung Puji Rahayu oleh gus Iman Widodo berkolaborasi dengan Rinding Kompreng serta doa bersama untuk bangsa. (Gie/ Humas Publikasi)

Sumber: Dimyati

Komentar ditutup.