Bg

Memaknai Siulan dalam Kehidupan Kita

Diterbitkan tanggal 2 Agustus 2016

New Picture

Arvig Budiatus S

Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI)

Siul dalam kehidupan masyarakat Jawa hanya dimiliki oleh kaum laki-laki. Perempuan Jawa bersiul itu tidak pantas, tidak elok, tidak etis, walapun hanya untuk dinikmat sendiri. Seakan-akan adat memberikan batasan yang kuat mengenai sebuah siulan. Perempuan bersiul juga dianggap perempuan nakal tidak punya sopan santun. Sebab bagi masyarakat Jawa siulan itu dianggap menjurus kepada sikap seksualitas.

Realitas tersebut dapat kita temukan dalam berbagai adegan cerita atau film, ketika seorang perempuan lewat di antara lak-laki, apalagi ia sendirian dan menggunakan pakain yang “menggoda” baik warna atau model, maka laki-laki akan lekas bersiul untuk mendapatkan perhatian. Siulan menjadi ambisi kuasa laki-laki atas perempuan. Anehnya lagi ketika perempuan bersiul juga sering diartikan negatif untuk si perempuan (bukan untuk laki-laki), bahwa perempuan yang menggoda melalui siulan.

Sebenarnya siulan tidak hanya kita temukan dalam adegan sebuah film atau drama, kita juga sering menemukan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dalam konser-konser musik, baik dangdut atau pop, biasanya hal itu dilakukan untuk menunjukkan kekaguman dan ketertarikan, namun hal itu tetap tidak lepas dari nuasa seksualitas yang biasanya diiringi histeria gemuruh tepuk tangan.

Selain itu kita juga menemukan adegan seorang laki-laki (bapak) yang di pagi atau sore hari bersiul untuk burung di sangkar miliknya. Laki-laki bersiul itu untuk memikat burung agar berbunyi dan dapat dinikmati suara indahnya, walapun hal itu juga dilakukan dalam kuasa laki-laki Jawa. Sebab burung (kukila) adalah salah satu hal untuk menunjukkan “kesempurnaan” sebagai laki-laki Jawa, tentunya selain istri (wanita), keris (curiga), kuda (turangga) dan rumah (griya).

Untuk menjaga siulan burung, biasanya laki-laki memperlakukan burungnya sangat istimewa. Mulai dari memandikannya, memberinya makan, membersihkan sangkarnya, agar si burung mau berkicau setiap disiuli. Laki-laki akan merasa puas saat mampu mendengarkan kicauan burung yang diinginkan apalagi dapat dipertunjukkan kepada laki-laki dan perempuan lain. Biasanya kicauan burung dianggap bagus ditandai dengan seberapa lama dan unik kicauan burung saat sang pemilik burung memberikan siulan.

Kita juga mesti mengingat adegan siulan dalam sebuah kontes bernyanyi di salah satu stasiun televisi nasional setahun yang lalu. Di kontes tersebut yang menjadi juri Ahmad Dani, Anang Hermansyah dan Tantri Kotak. Sang kontestan bernama Pujiono yang memasukkan siulan dalam nada lagu ciptaanya. Saya mendengar lirik lagunya cukup kritis dan menjadi lebih indah dan unik ketika ada siulannya, apalagi cara bersiulnya tidak seperti biasanya orang lain bersiul yang menyunyung.

Adegan yang saya anggap “tidak etis”, saat Pujiono diminta oleh juri untuk membedakan siulan untuk gadis atau janda. Dengan lugunya juga Pujiona sebagai kontestan mau melakukannya, karena “mungkin” dia masih berharap dapat diloloskan dalam kontestan tersebut. Siulan untuk gadis terdengar lebih tegas dan jelas, tapi kalau untuk janda siulan lebih kalem dan terkesan ada keinganan lebih saat Pujiono bersiul. Sontak hal itu membuat para juri tertawa puas termasuk Tantri.

Di Jawa siulan juga tidak hanya dimiliki oleh orang dewasa, siulan juga untuk anak-anak. Siulan yang dapat mengimajinasikan berbagai macam pohon yang rindang, kehidupan, langit, suara, angin, air, hutan dan desa.

Kita bisa mengenang siulan itu dalam lagu Burung Ketilang gubahan Ibu Sud. Kita simak lirik tersebut: Di pucuk pohon cempaka/ Burung ketilang berbunyi/ Bersiul-siul sepanjang pagi dengan tak jemu-jemu/ Mengangguk-angguk sambil berseru tri li li li li li li li./ Sambil berloncat-loncatan/ Paruhnya slalu terbuka/ Digeleng-gelengkan kepalanya menentang langit biru/ Tandanya suka ia berseru tri li li li li li li li“. Dalam buku Ketilang Kumpulan Lagu Kanak-kanak, (1990).

Ibu Sud, mencoba menarasikan siulan lewat bunyi burung, agar siulan tidak lekas menjadi adegan seksualitas bagi bocah. Siulan itu bunyi burung yang berkicau, burung yang terbang bebas di pohon, berlompat-lompat dari ranting satu keranting lainnya. Burung berkicau saat matahari cerah dimana langit terlihat jelas birunya.

Saat burung bersiul bocah juga dapat mengimajinasikan gerak antara paruh dan kepala, yang menandakan ada kehidupan dan kekhusu’an, atau burung juga bisa mendengar dan dapat menikmati siulannya sendiri dan siulan sesama burung yang kadang bersahut-sahutan namun tetap berima indah dan menentramkan hati.

Kita sengaja menghadirkan narasi siulan yang ada dalam kehidupan masyarakat kita, untuk dijadikan bandingan dengan sebuah kejadian “memalukan” yang dilakukan oleh presiden Filipina Duterte beberapa minggu yang lalu. Yang mensiuli seorang wartawan yang sedang melakukan wawancara dengnnya.

Adegan tersebut dilakukan pada malam hari saat orang nomor satu di Filipina tersebut diwawancarai oleh warawan yang bernama Mariz Umali, yang ditanyakakan soal kabinet baru dalam kepemerintahannya. Namun ditengah wawancara sang presiden interupsi dan mengomentari untuk menarik perhatian Umali dan kemudian bersiul. Komentar dan siulannya mendapat kecaman dari pegiat pers, organisasi HAM dan pejuang hak wanita , karena menganggap “siulan Duterte jelas memperlakukan wanita sebagai objek seks dan memperlakukan wanita sebagai warga negara kelas dua.” (Solopos, 03/06/2016).

 

Penulis

Arvig Budiatus S
Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI)

Komentar ditutup.