Bg

Menag Ngobrol Islam dan Budaya di HIK IAIN Surakarta

Diterbitkan tanggal 4 Maret 2019
Menag RI LHS dalam seminar nasional di IAIN Surakarta

SINAR- Senin (4/3) siang Menteri Agaman Lukman Hakim Saifuddin ditemani Rektor IAIN Surakarta nongkrong dan ngobrol santai di salah satu hik di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Obrolan yang disaksikan langsung oleh 400 lebih pasang mata dan disiarkan secara live melalui akun instagram dan youtube IAIN Surakarta dan Pendis Kemenag RI, juga diliput sejumlah stasiun televisi dan media lainnya ini berlangsung dari jam dua siang sampai empat sore.

Tentu ini bukan acara nongkrong sungguhan, melainkan ini acara seminar nasional yang dikemas dengan suasana obrolan ala-ala hik Sala. Acara ini dikemas sedemikian rupa dengan judul Bincang Santai Bersama Menteri Agama RI dan membahas tema Islam dan Budaya Sebagai Instrumen Integrasi Bangsa. Acara bincang santai ini merupakan bagian dari rangkaian acara peresmian dua gedung baru yang didanai melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) seniali Rp. 50 miliar. Peresmian gedung dilakukan langsung oleh Menag Lukman Hakim usai acara bincang santai.

Pada kesempatan ini Menag mengajak seluruh masyarakat untuk menghormati keragaman yang ada. “Mari kita hargai dan hormati keanekaragaman, kita perlu arif dalam melihat setiap perbedaan,” jelasnya. Dalam acara tersebut Menag bertindak sebagai narasumber utama ditemani oleh Rektor IAIN Surakarta, Dr. H. Mudofir, S.Ag., M.Pd., sebagai narasumber pendamping.

Acara seminar nasional ini dikemas begitu santai dan merakyat dengan suasana hik khas Sala. Hik adalah sejenis warung tenda sederhana tempat masyarakat makan atau sekedar nongkrong sambil minum teh dan menikmati hidangan ringan. Hik biasanya berupa gerobak yang diselimuti terpal dengan tempat duduk terbuat dari kayu yang sederhana. Oleh orang Sala tempat duduk seperti ini biasa disebut dingklik. Berbagai makanan ala rakyat bawah tersedia di warung mini ini. Menu wajib  yang biasanya tersedia adalah sego kucing, mie rebus, gorengan, kopi panas, teh, dan jahe. Warung sederhana ini sangat mudah kita temui disekitar wilayah Sala Raya sampai Yogyakarta. Bedanya, masyarakat Yogyakarta biasa menyebut warung mini ini dengan nama angkringan.

Obrolan ala hik sengaja dipilih tim kreatif pada seminar nasional kali ini agar suasananya tidak kaku. Ivan Rahmawan (Ketua SPI IAIN Surakarta) , selaku moderator, saat membuka sesi bincang santai mengatakan bahwa gaya obrolan ala hik ini sengaja dipilih karena hik memiliki falsafah yang dalam dan luas. “Hik itu lambang kerakyatan, kejujuran dan kesederhanaan,” ujarnya. Meski sederhana tapi menurut Ivan hik juga mengikuti perkembangan jaman. Menurut Ivan sudah sejak lama hik sudah menerapkan sistem pembayaran non tunai. “Kalau kita sekarang ribut-ribut soal pembayaran non tunai, hik itu sejak dulu sudah non tunai. Saya waktu mahasiswa itu biasa ambil gorengan lima bayarnya tiga, yang dua non tunai,” selorohnya. Spontan tawa para penonton memecah suasana seisi gedung.

Dengan latar belakang ornament gapura keraton Menag Lukman Hakim dan Rektor duduk santai di kursi bersebelahan dengan gerobak hik. Di atas gerobak hik yang lengkap dengan tungku dan ceret tersaji berbagai kudapan ala hik sungguhan seperti sego kucing, tahu dan tempe bacem, aneka gorengan, sate koyor, dan sebagainya. Sementara moderator duduk di atas dingklik di depan gerobak hik ditemani Pak Harun yang berperan sebagai penjual hik. Pak Harun adalah PNS IAIN Surakarta yang sudah mengabdi 30 tahun lebih dan pada Juni tahun ini akan segera menyudahi masa kerjanya.  

Menurut Menag sebenarnya tidak ada masalah antara Islam dan budaya. Menurutnya antara Islam dan budaya memiliki banyak persamaan yaitu nilai-nilai yang bersifat universal dan kadang keduanya saling mengisi. Menurut Menag secara umum ada tiga pola pertemuan antara agama dengan budaya. “Ada budaya yang tunduk pada agama, ada sebaliknya agama tunduk pada budaya ada juga yang keduanya bertemu dan melakukan akulturasi sebagaimana terjadi di Indonesia,” jelas Menag.

Dengan pola seperti ini menyebabkan ajaran Islam dimaknai berbeda-beda di setiap tempat yang berlainan. Karena pemaknaan yang berbeda sehingga prakteknya juga berbeda. Menag mencontohkan Islam mengajarkan untuk memuliakan perempuan. “Semua ulama, madzhab, umat Islam sepakat bahwa perempuan harus dimuliakan, tapi cara dan implementasinya beda-beda,” jelasnya. Menag memberikan contoh di Indonesia perempuan boleh tampil di panggung untuk membaca Quran bahkan menjadi hakim. Hal yang sama tidak mungkin terjadi di Arab karena mereka memuliakan perempuan dengan cara yang berbeda. Menurut menag perbedaan seperti ini tidak perlu dipermasalahkan dan saling mengoreksi. “Sebenarnya budaya tidak ada yang buruk, dinilai buruk setelah datang budaya lain yang menjadi pembanding,” tutur Menag.

Senada dengan Menag, Rektor IAIN Surakarta juga mengutarakan bahwa banyak nilai-nilai dalam Islam yang sama dengan nilai-nilai budaya, seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, amanah dan nilai-nilai lainnya yang bersifat universal. Terkait hubungan Islam dan budaya, menurut rektor setiap daerah memiliki kearifan masing-masing, yang kemudian disebut sebagai local wisdom. “Ada kearifan Islam yang memberi konteks pada budaya, ada juga kearifan budaya yang memberi konteks pada Islam,” jelasnya. Khusus untuk proses penyebaran Islam di wilayah Jawa, menurut rektor Islamlah yang memberi konteks pada budaya Jawa bukan sebaliknya.

Dalam rangka mewujudkan harmoni antara Islam dan budaya maka IAIN Surakarta mengakomodirnya ke dalam kurikulum. “Salah satu cara untuk memahamkan pada mahasiswa pentingnya harmoni Islam dan budaya kita masukkan mata kuliah Islam dan budaya ke dalam kurikulum,” jelas rektor. Lebih lanjut rektor menyampaikan bahwa dengan memasukkan mata kuliah Islam dan Budaya harapannya akan terjadi efek domino, yaitu mahasiswa kemudian menjadi agen sosialisasi pemahaman tersebut.

Acara bincang santai ini diakhiri dengan closing statemen dari Menag. Menutup bincang santai ini Menag kembali menegaskan ajakannya kepada masyarakat agar menghargai perbedaan. “Mari kita hargai perbedaan, selama tidak bertentangan dengan pokok ajaran Islam perbedaan itu harus kita hormati,” tegasnya. (JnR/Humas Publikasi) #banggaIAINSurakarta #SuksesAPT-A

Komentar ditutup.