Bg

Meredam Kepanikan Sosial di Tengah Pandemi Virus Corona

Diterbitkan tanggal 16 April 2020

Oleh : Rahayu Irhami
(Bendum KSR PMI IAIN Surakarta)

Melihat perkembangan dari penyebaran virus corona di Indonesia sekarang, muncul kecemasan dalam diri masyarakat. Sebagaimana kita mengetahui kecemasan merupakan suatu keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi (Nevid, 2005). Banyak hal yang menjadi penyebab kecemasan ini timbul, misalnya, kesehatan, relasi sosial, ujian, karier, relasi internasional, dan kondisi lingkungan. Hakikatnya, kecemasan, ketakutan, dan kepanikan ini merupakan sepenggal cobaan yang Allah berikan kepada hambaNya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 155 sebagai berikut,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)  

Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa kadar kecemasan setiap orang berbeda-beda. Ketakutan dalam menghadapi ujian merupakan suatu jalan yang mengarahkan kepada kegagalan. Hal ini disayangkan karena kepanikan masyarakat terhadap penyebaran virus corona malah terjadi secara berlebihan. Sedangkan kepanikan berlebihan akan mendahului ketenangan, segala tindakan serta keputusan yang dibuat. Kepanikan berlebih mengakibatkan orang bertindak tidak rasional dan mengesampingkan nilai kemanusiaan. Kepanikan ini terjadi tidak hanya secara personal tapi sudah menjelma menjadi kelompok atau massa. Misalkan sebagian orang melakukan penolakan terhadap jenazah yang mengidap virus corona untuk dimakamkan di wilayahnya.

Kisah nyata terjadi di Semarang, seperti yang dilansir dalam portal berita voaindonesia.com mengenai seorang perawat RS dokter Kariadi, pada hari Kamis (9/4). Awalnya, jenazah perawat itu akan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di TPU Sewakul. Namun terpaksa dipindahkan ke Bergota, makam kompleks rumah sakit tempat dia bekerja, karena muncul penolakan warga di daerah asalnya. Ada juga kasus yang mana pasien positif corona tidak mau mengaku ketika diperiksa oleh tim medis sehingga banyak tim medis yang harus menjalani rapid test. Seperti yang diberitakan oleh kompas.com (11/4), bahwa saat ditanya oleh tim medis terkait riwayatnya, pasien asal kecamatan Geyer, Grobogan tersebut mengaku tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri atau daerah lain yang masuk status zona merah corona. Setelah dirawat di ruang biasa bersama pasien lainnya, ternyata pasien tersebut positif corona. Hal ini menyebabkan sebanyak 76 pegawai yang pernah kontak langsung dengan pasien tersebut di RSUD dr. Soedjati Soemdiardjo Purwodadi, terpaksa harus menjalani rapid test untuk mecegah penyebaran virus corona.

Penolakan pemakaman pasien positif corona dan keengganan untuk jujur saat diperiksa oleh tim medis merupakan hal yang disayangkan. Masyarakat menganggap bahwa terjangkit virus corona adalah suatu aib, seperti halnya ketika awal muncul HIV AIDS dulu. Perlu diketahui bahwa terkena virus corona itu bukanlah aib, sejatinya pasien tersebut hanya sebagai korban dari adanya virus corona. Jadi semestinya, masyarakat mengedukasi diri dan mengendalikan kepanikan yang berlebihan dalam dirinya.

Kepanikan sosial atau social panic seharusnya dinetralisir agar masyarakat tetap bersama-sama waspada dengan cara yang lebih elegan dan manusiawi. Ibnu Sina berkata “kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan”. Kepanikan berlebihan ketika menghadapi virus corona akan berdampak buruk pada kesehatan diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% penyakit yang diderita berasal dari fikiran negatif-emosi negatif yang salah satunya adalah kepanikan yang berlebihan (Nico Manggala, 2015). Maka dari itu perlu adanya upaya-upaya yang dilakukan diri sendiri maupun kelompok untuk meredam dan menetralisir kepanikan. Menurut (Nico Manggala, 2015), ada beberapa terapi yang dapat dijalankan yaitu terapi religi, berfikir positif, EFT, fikiran bawah sadar dan terapi lainnya. Kalau pak Nadiem Makarim menyarankan para mahasiswa kedokteran tingkat akhir untuk menjadi relawan, maka disini banyak kesempatan dari program studi lain untuk turut andil menjadi relawan melawan virus corona. Ambil saja beberapa contoh program studi yang ada di IAIN Surakarta. Program Studi lain yang dimaksud yaitu Bimbingan Konseling Islam, Psikologi Islam, Pendidikan Agama Islam, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, maupun jurusan yang berkaitan dengan ekonomi syari’ah. Semua jurusan memiliki peluang untuk ikut serta mengatasi virus corona khususnya dalam upaya pencegahan serta dampak sosial yang muncul, sesuai dengan bidang yang dipelajarinya. Misalnya Bimbingan Konseling Islam dan Psikologi Islam, mahasiswa jurusan ini bisa menetralisir kepanikan di masyarakat dengan memberikan edukasi maupun tips-tips mengatasi kepanikan ditengah penyebaran virus corona maupun mengarahkan masyarakat agar berfikir positif di tengah penyebaran virus corona. Sedangkan mahasiswa PAI dan IAT muncul sebagai calon mubaligh, mereka bisa menyampaikan kepada masyarakat akan pentingnya kesabaran dalam menghadapi cobaan, kepedulian terhadap sesama manusia, bagaimana mengendalikan kepanikan menurut Islam melalui dikrullah, serta menenangkan dan menyiram rohani masyarakat ditengah kesusahan akibat adanya virus corona. Karena Program Studi tersebut berbasis soshum, maka peran mereka di tengan pandemi virus corona berkaitan dengan sosial humaniora bukan membahas mengenai pengobatan medis yang ini merupakan tugas dari para pakar kesehatan. Pada prinsipnya, semua orang berhak untuk menjadi relawan di saat penyebaran virus corona seperti ini dengan syarat yakni disesuaikan dengan bidang studi, kemampuan dan keahliannya.

Penulis

Rahayu Irhami
Bendum KSR PMI IAIN Surakarta/ Mahasiswa IAIN Surakarta

Komentar ditutup.