Bg

Mimpi Yang Tertunda 10 Tahun

Diterbitkan tanggal 26 April 2017

Oleh: Moh Abdul Kholiq Hasan
(Sekjur IAT IAIN Surakarta)

#BanggaIAINSurakarta

 

Catatan Dibalik Prestasi Akreditasi “A” Prodi Ilmu Al-Qur`An dan Tafsir (IAT)

Fakultas Ushuluddin Dan Dakwah

Masih Ada Mimpi

Pertama kali ketika mendengar informasi bahwa prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir (IAT)  memperoleh akreditasi A dengan score 372, maka saya-sebagai salah satu Tim akerditasi IAT-mengatakan

لك الحمد ولك الشكر يا ذا الجلال والإكرام Hanya Allah-lah yang berhak mendapatkan pujian dan sanjungan atas keberhasilan ini. Namun hal itu, bukan berarti mengingkari jerih payah dan usaha yang “berdarah-darah” dari seluruh warga IAT dan Fakultas Ushuluddin dan dakwah (FUD). Terutama tim akreditasi IAT yang telah bekerja hampir lebih dari satu tahun setengan dengan segala dinamikanya yang ada. Tim akreditasi IAT dibentuk pada  23 Desember 2015 dan resmi mulai bekerja pada 3 Januari 2016.

Orang bijak mengatakan, “selama masih ada mimpi, maka ada harapan, dan selama masih ada harapan, maka ada kehidupan”. Itulah kira-kira semangat yang dibangun oleh teman-teman di Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir (IAT). Keberhasilan IAT menyabet prestasi akreditasi A, merupakan mimpi lama sejak lebih dari 10 tahun lalu. Dimana diawal akreditasi pada tahun 2008 ketika masih memakai nama Ilmu Tafsir dan Hadis nilai akreditasinya adalah “C”. Selanjutnya akreditasi ke dua pada tahun 2013 dengan nilai “B”. Bermodal dua kali pengalaman tersebut, kami tim akreditasi IAT bertekat bersama untuk mendapatkan nilai A. Dan al-hamdulillah pada tahun 2017 ini, setelah beralih nama dari prodi Ilmu Tafsir dan Hadis (TH)menjadi Ilmu al-Qur`an dan Tasfsir (IAT), Allah kabulkan mimpi bersama untuk mendapatkan predikat akreditasi A.

Kisah Dibalik Nilai A.

Berbicara tentang kisah dibalik keberhasilkan IAT mendapatkan nilai akreditasi A, tentu tidak cukup jika ditulis diatas 10 atau 30 halaman. Terlalu banyak kisah yang tidak dapat diketikkan semua. Namun untuk sekedar berbagi kisah inspiratif, berikut ini beberapa pelajaran yang dapat dibagi kepada para pembaca, dan semoga ada manfaatnya.

1. Tim solid yang siap bekerja

Sudah lumrah terjadi di mana-mana soal kerja tidak semua orang siap. Untuk itu pemilihan tim untuk sebuah perkerjaan adalah tidak mudah. Kalau hanya sekedar membentuk tim dengan SK adalah mudah. Tetapi tim yang siap bekerja, apalagi untuk sebuah target yang tinggi tentu tidak mudah. Namun syukur al-hamdulillah, Tim Akerditasi IAT dengan memiliki mimpi bersama untuk memperoleh nilaia kreditasi A, dapat bekerjasama dengan baik dan saling mengisi serta menguatkan agar mimpi itu bisa terbukti. Tentu tidak dapat dipungkiri, pasang surut antara anggota Tim tetap terjadi sebagai sebuah dinamika yang harus ada. Apalagi kerja dalam rentang waktu yang cukup lama. Perasaan bosan, lelah, kesal, merasa kerja sendiri, pastilah ada. Di sinilah diperlukan adanya orang-orang yang selalu mengokohkan, bukan merobohkan, memotifasi bukan menjatuhkan dan siap terus mengantarkan mimpi pada tujuan yang diinginkan. Al-hamdulillah sesama Tim akreditasi IAT bisa saling asah asuh dan asih.

2. Rencana dan Target yang Jelas

Rencana dan target adalah peta keberhasilan. Setelah Tim Akreditasi IAT terbentuk, maka segera dibuat rencana dan target yang harus dicapai oleh Tim. Ketika itu Tim memutuskan target nilai akreditasi adalah A+. Dengan alasan bahwa target haruslah setinggi mungkin, sehingga usaha akan mengikutinya. Walapun biasanya usaha akan berada di bawah target yang dinginkan. Karena itu jika tidak dapat A+ ya minimal A. itulah yang menjadi rencanadan target Tim. Maka rencana dan target tersebut terus dipupuk dan dibangun sebaik mungkin dengan berbagai usaha.

Namun dalam perjalanannya, nyali Tim Akreditasi IAT sempat menciut dan keder ketika mendengar Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) mendapat nilai kareditasi A. Karena Tim IAT merasa belum seberapa dibandingkan usaha yang dilakukan oleh Tim AFI. Ditambah sebagian anggota Tim AFI adalah para pakar akreditasi LPM. Bismillah semangat fastabiqulkhairat keberhasilan AFI telah mampu memacu Tim Akreditasi IAT untuk mengambil pelajaran terbaik dari AFI dan melejitkan semangat Tim untuk hasil yang lebih baik. Untuk itu walaupun IAT mendapatkan score lebih tinggi dari AFI, tetapi AFI lebih hebat dari IAT, karena AFI lah yang berhasil “memecah telor” nilai aktreditasi A sejak IAIN Surakarta berdiri. Dalam istilah arabnya “ الفضل للمبتدئ وإن أحسن المقتدي”. Selamat untuk AFI dan terima kasih atas sharingnya.

3. Kerjasama yang Baik dengan Pihak-Pihak Terkait

Keberhasilan akreditasi IAT tidaklah bisa diklaim sebagai keberhasilan sebuah unit tersendiri apalagi individu. Karena sesadar-sadarnya bahwa keberhasilan akreditasi IAT adalah kontribusi dan keberhasilan kita semua; jurusan IAT, FUD, LPM, Rektorat, LP2M, PTIPD, unit-unit lain dan seluruh civitas akademika IAIN Surakarta secara umum. Untuk itu kerjasama dengan pihak-pihak terkait adalah sebuah kelaziman yang harus dilakukan. Tentu yang terjadi dilapangan tidak–lah semudah membalik telapak tangan. Tim akreditasi IAT tidak jarang medapatkan kendala dilapangan dalam kaitannya kerjasama antar pihak. Terutama ketika memasuki tahap pembuktian borang. Tidak jarang diperlukan“pengendalian hati dan emosi” untuk mendapatkan bukti borang yang harus “diadakan”. Namun semuanya alhamdulillah dapat terlewati dengan baik.Untuk itu,agar kerjasama antar lembaga dan unit dapat dimaksimalkan, perlu ditingkatkan antar civitas akademika IAIN Surakarta kesadaran “kebanggaan sukses bersama”. Dengan kata lain, perlu dihilangkan sekat-sekat ego sektoral agar sukses bersama sebagai lembaga IAIN Surakarta dapat dicapai bersama.

Pelajaran yang harus diambil adalah bahwa bukti borang sudah seharusnya dicicil untuk disiapkan dan diinventarisir dengan baik. Sehingga ketika membutuhkannya mudah untuk mengahdirkan. Karena itu ada kata-kata super yang harus dilakukan dalam akreditasi adalah, “Tulislah apa yang kita kerjakan dan kerjakan apa yang kita tulis”. Terutama diera “kang” SAPTO yang segera akan datang.

4. Perlunya Reviewer yang Teliti dan Sabar.

Mendapatkan reviewer yang pintar mungkin tidak sulit, tetapi yang sulit adalah mendapatkan  reviewer yang teliti dan sabar. Tidak hanya menunjukkan mana yang salah tetapi juga membantu dan memberikan solusi yang tepat. Itulah pengalaman yang dirasakan oleh Tim akreditasi IAT. Sebanyak dua kali, reviewer dari luar didatangkan oleh TIM akreditasi bekerja sama dengan LPM. Dan sudah tidak terhitung lagi TIM akreditasi harus bolak-balik “sowan” ke LPM. Alhamdulillah dengan ketelitian dan kesabaran pembimbingan dari reviewer dan Tim LPM yang tidak bosan-bosannya memberikan masukan dan perbaikan terhadap borang IAT, akhirnya hasil manis dapat dirasakan bersama.

Di antara wejangan yang selalu membuat “kegalauan hati” para anggota Tim akreditasi IAT adalah “tolong borang segera diperbaiki sesuai dengan masukan reviewer” dan “tolong bukti-bukti borang semua harus ada sesuai yang ditulis di borang”. Wejangan itu terkadang membuat sebagian anggota Tim merasa tertekan “under presure”. Apalagi  harus mengulang-ulang perbaikan yang sudah diperbaiki. Namun sekali lagi, mimpi dan harapan untuk mendapatkan akreditasi Â, terus menjadi mendorang kuat yang mampu meringankan langkah-langkah Tim. Maka wejangan-wejangan berharga tersebut diterima Tim akreditasi IAT dengan penuh semangat untuk terus memperbaiki borang sebaik mungkin dan “menemukan” bukti-bukti sesuai dengan catatan borang. “Memang harus sabar dan teliti jangan sampai ada informasi yang tidak selaras dan bukti yang tidak ada”. Begitulah yang selalu dinasehatkan.

5. Perwajahan, Editing dan Layout.

Setiap munusia suka yang rapi dan indah. Itulah yang mengilhami Tim akreditasi IAT untuk mempercantik wajah dan layout borang yang akan dikirim ke BAN-PT. Selain itu, proses editing juga beberapa kali dilakukan. Bahkan ketika sudah dijilid dan tinggal dikirim ke BAN-PT, namun ternyata setelah dibaca lagi dan dikonsultasikan ke LPM harus dirubah, maka Tim akreditasi IAT pun segera memperbaiki dan menjilid kembali. Masih teringat sekali bagaimana mas Candra–staf tenaga kependidikan-harus lembur dan bolak-balik kepenjilidan. Proses perbaikan inilah yang menyebabkan pengiriman borang IAT mengalami keterlambatan sampai bulanDesember 2016.

Pelajaran yang selalu dipatrikan oleh LPM kepada kami adalah borang yang akan dikirim ke BAN-PT harus sudah maksimal nilainya. Karena penambahan nilai ketika visitasi tidak akan terlalu signifikan. Begitulah “rahasia” yang selalu disampaikan kepada Tim akreditasi IAT. Untuk itu terima kasih yang tidak terhingga kepada para mujahid akreditasi Tim LPM.

6. Selalu doa, Percaya diri dan Husnudhdhon ketika VISITASI.

Hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh insan beriman adalah selalu mengantungkan usaha dan mimpi kepada Allah al-Shamad. Keberhasilan akreditasi IAT dengan nilai A, disadari oleh Tim bukan semata-mata kerja keras dan hasil usaha. Tetapi fadhal Allah atas dikabulkannya doa-doa hambanya. Bahkan menjelang visitasi digelar, ada tim “khusus” yang ditugasi melobi ke “Ya Rabbi”. Mahasiswa pun dilibatkan untuk ikut melobi ke “Ya Rabbi”. Sungguh luar biasa kekuatan yang dirasakan ketika hari visitasi. Sehingga rasa was-was yang sempat menghinggap, perlahan berubah menjadi percaya diri dan husnudhon yang luar biasa. Karena sebelumnya ada informasi yang menyatakan bahwa salah satu asesor adalah sangat teliti dan detail. Dan yang terjadi memang seperti itu, namun dengan doa dan pendampingan melekat dari LPM, Dekanat dan Rektorat semuanya bisa berjalan dengan baik. Walhamdulilah. Tentu penguasaan isi borang, kemampuan menjawab dan pembuktian adalah hal yang sangat menentukan ketika visitasi.

Pelajaran yang sangat menegangkan dan tidak akan terlupakan adalah sesi klarifikasi hasil penilaian dengan asesor. Ketika itu ada salah satu item penilaian yang hasilnya di luar prediksi Tim dan LPM. Maka dengan melakukan “komunikasi” yang cukup alot dengan asesor dan perbaikan yang dilakukan, akhirnya nilai tersebut dapat diperbaiki walaupun belum bisa maksimal. Namun dari kejadian tersebut ada ilmu baru dan hikmah yang luar biasa untuk pembelajaran bagi yang akan melakukan akreditasi berikutnya.

Demikianlah enam pelajaran berharga dari pengalaman pribadi -tentu sangat subjektif- yang dapat disampaikan semoga bermanfaat. Tentu kami seluruh anggota kelurga besar IAT menyadari dengan sesungguhnya bahwa hasil akreditasi A, bukan berarti kami yang terbaik. Tetapi kami bertekat berusaha untuk menjadi yang terbaik demi kemajuan lembaga IAIN Surakarta yang tercinta.

IAT Masih Harus Terus Belajar

Harapan kami tentu prestasi ini dapat memacu dan melejitkan semua civitas akademik di IAIN Surakarta, khususnya keluarga besar IAT untuk mampu meningkatkan pretasinya. Minimal mepertahankannya. Sehingga akreditasi A ini benar-benar melahirkan lulusan yang berkualitas secara intelektual, berintegrasi secara keilmuan dan bertranformasi secara pengamalan. Sehingga lahir lulusan IAT yang mampu memberi solusi yang tepat terhadap problematika masyarakat. Untuk itu IAT akan terus belajar agar bisa memberi yang terbaik.

Terakhir kami ucapkan beribu terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu keberhasilan akreditasi IAT. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu. Semoga Allah memberikan balasan yang berlipat. Jazaakumullah khairan katsira.

Surakarta, 14 April 2017

Penulis

Dr. H. Moh. Abdul Kholiq Hasan, M.A
Sekjur IAT FUD IAIN Surakarta

Komentar ditutup.