Bg

PENGEMBANGAN PROFESI CALON GURU: TELAAH ATAS MODEL MAGANG PENDIDIKAN

Diterbitkan tanggal 12 Oktober 2018

Oleh: Dr. H. Muhammad Munadi, M.Pd
(Wakil Rektor II, Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan)

 

Guru dan proses pendidikannya selalu menjadi perbincangan semua pihak. Hal ini dikarenakan Pendidikan guru memiliki peran yang sangat strategis bagi pengembangan profesi lain. Hal ini dikemukakan Linda Darling-Hammond (Linda E. Martin & Thalia M. Mulvihill (2017) berikut, “I think of teacher education as a sacred trust because the work of teaching is the work on which this profession and all others depend”. Pernyataan yang terberat dan luar biasa pada pendidikan guru sebagai a sacred trust. Dianggap sebagai kepercayaan yang sakral karena pekerjaan mengajar adalah pekerjaan di mana profesi ini (guru) dan semua profesi lain bergantung pada profesi guru. Tantangannya sangat berat. Analisisnya harus berangkat dari sebuah system/proses,  dari sisi input – proses – output/outcome secara terpadu. Sebenarnya  proses penyiapan guru memiliki problem luar biasa. Diantara problemnya seperti dikemukakan oleh  Sarem Ozdemir and Ahmet Guneyli (2008) berikut ini:  problems related with teacher education system, problems related with teacher education programs/curricula, problems related with human power elements   in education, problems related with the education period

Problems related with technological inadequacies.

Problem yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa dalam penyiapan guru ada kompeksitas persoalan yang dihadapi dari sisi sistem secara makro maupun mikro. Dari sisi makro meliputi sistem pendidikan guru, dan kurikulum Pendidikan guru, sedangkan dari sisi mikro yaitu elemen kekuatan manusia dalam pendidikan, masa waktu tempuh dalam pendidikan guru, serta ketidakmampuan teknologi. Selain itu ada Problem lain yang dikemukakan Anjali Rani (2017) bahwa dalam penyiapan guru ada tiga problem utama mendasar yaitu:

  1. Problem to Monitor of Teacher-Education Institutions
  2. Problems of Practice Teaching
  3. Problem of Supervision of Teaching

Sisi problem pengawasan Lembaga Pendidikan guru meliputi lemahnya prosedur seleksi mahasiswa pendidikan guru, kurangnya Peraturan dalam permintaan dan pasokan guru, kurangnya fasilitas untuk siswa-guru serta kurangnya fasilitas untuk pengembangan professional. Problem yang lainnya adalah masalah praktek pengajaran di Lembaga Pendidikan guru serta masalah pengawasan pengajaran. Masalah lain dikemukakan Farah Khan, Omar Fauzee & Yaakob Daud (2016) bahwa Pendidikan guru menghadapi masalah kurangnya akses mendapatkan pendidikan; kualitas pendidikan yang buruk; tatakelola yang lemah; batasan biaya; kurangnya perpustakaan; kurangnya laboratorium; kurang motivasi; dan kurangnya infrastruktur.

Dalam konteks Pendidikan guru di Indonesia ada penambahan permasalahan yaitu: Over supply calon guru (semua prodi Pendidikan ada di semua PTN, PTS, PTKIN, dan PTKIS)

Tabel berikut menunjukkannya:

Tabel 1. Kemiripan Nama Program Studi PTN/PTS dan PTKIN/PTKIS

PTN/PTS PTKIN/PTKIS
ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (IPAI) PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
PENDIDIKAN BAHASA ARAB (PBA) PENDIDIKAN BAHASA ARAB
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN/TADRIS BAHASA INGGRIS
PGSD PGMI
PAUD PIAUD
PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA PENDIDIKAN/TADRIS BAHASA INDONESIA
PENDIDIKAN BIOLOGI/FISIKA/MATEMATIKA/KIMIA PENDIDIKAN/TADRIS BILOLOGI/FISIKA/MATEMATIKA/KIMIA

Disamping itu gelar kesarjanaan mereka identik dan tidak ada pembedanya. Berikut gambarannya:

Tabel 2. Kemiripan Gelar Kesarjanaan Program Studi PTN/PTS dan PTKIN/PTKIS

 PTN/PTS PTKIN/PTKIS
ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (IPAI) – S.Pd PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) – S.Pd
PENDIDIKAN BAHASA ARAB (PBA) – S.Pd PENDIDIKAN BAHASA ARAB – S.Pd
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS – S.Pd PENDIDIKAN/TADRIS BAHASA INGGRIS– S.Pd
PGSD – S.Pd PGMI– S.Pd
PAUD – S.Pd PIAUD– S.Pd
PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA – S.Pd PENDIDIKAN/TADRIS BAHASA INDONESIA
PENDIDIKAN BILOLOGI/FISIKA/MATEMATIKA/KIMIA – S.Pd PENDIDIKAN/TADRIS BILOLOGI/FISIKA/MATEMATIKA/KIMIA – S.Pd

Selain permasalahan di atas masih ada permasalahan dalam konteks kurikulum seperti temuan Munadi (2017) bahwa Mata Kuliah di LPTK di bawah Kementerian Ristedikti lebih dominan penguatan content knowledge dibandingkan dengan LPTK di bawah Kementerian Agama yang lebih dominan pedagogical content knowledge. Lemahnnya penguasaan content knowledge mengingatkan pada pepatah Arab yang  menyatakan at-thariqah ahammu mina-l-maddah, wa al-mudarris ahammu mina-t-thariqah, wa ruhu-l-mudarris ahammu mina-l-mudarris nafsihi. Kutipan tersebut bisa diterjemahkan bahwa metode lebih penting dari materi. Guru lebih penting dari metode. Namun, ruh seorang guru lebih bermakna dari fisiknya sendiri. Makna yang bisa diambil bahwa metode mengajar secanggih apapun, jika tidak didukung guru yang bersemangat tinggi akan nihil hasil yang dicapai. Selain itu peminat terbanyak mahasiswa baru berada pada jurusan Pendidikan. Kalau diasumsikan bahwa peminat jurusan pendidikan di PTKI se Solo Raya ada 400 orang per angkatan tiap PTKI, maka jumlah mahasiswa 400 orang x 7 PTKI x 4 angkatan = 11.200 mahasiswa. Itu baru satu Karesidenan, kalau di Jawa Tengah ada 6 Karesidenan maka jumlah mahasiswa total adalah 67.200 mahasiswa. Banyaknya mahasiswa tersebut belum bisa dijamin dalam penguasaan kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi social pada mahasiswa jurusan pendidikan.

Untuk memperbaiki keadaan mahasiswa Pendidikan diperlukan perbaikan proses agar calaon guru kuat dalam ruhnya sebagai guru. Diantaranya bisa diperbaiki melalui proses magang. Magang memiliki maksud sebagai Connecting Theory with Practice (Colorado Mesa University), disebut Kosnik and Beck (2010) as a bridge between being a student teacher and having full teaching responsibilities. Maksud yang lebih luas disampaikan Sydney School of Education and social Work (2018) bahwa It provides an opportunity to further develop skills in teaching and for interns to be mentored in preparing as thoroughly as possible for their early experiences of teaching. Lebih spesifik disampaikan Kirti Matliwala (2010) ……..provides not only practice teaching but opportunities to participate in activities of the school like a regular teacher. Implementasi magang disampaikan secara riil oleh Candace Davies (2018) bahwa  the classroom teaching experience and a chance to work under experienced teachers who act as your mentors. Kesemua pendapat tersebut menunjukkan bahwa magang pada mahasiswa calon guru mengarahkan pengalaman langsung di kelas-kelas pembelajaran di sekolah/madrasah. Adapun fungsi magang dinyatakan (Kosnik and Beck, 2010) ada 4, yaitu:

  1. go more deeply into a specific teaching area;
  2. gain greater knowledge of school culture;
  3. become more familiar with school‐wide programs and activities; and
  4. learn more about their distinctive interests and abilities as teachers.

Mahasiswa yang melaksanakan magang di sekolah bisa mendapatkan pengalaman mendalami area pengajaran tertentu; mendapatkan pengetahuan yang lebih luas tentang budaya sekolah; menjadi lebih akrab dengan program dan kegiatan sekolah; serta dapat mempelajari lebih lanjut tentang minat dan kemampuan mereka yang berbeda sebagai guru. Ketentuan seperti yang dikemukakan di atas kalau ditelaah di beberapa LPTK, pemagangan terdiri dari 3 bentuk dan masing-masing memiliki tujuan yang berbeda. Gambarannya sebagai berikut:

Program Magang I, bertujuan : membangun landasan jati diri pendidik dan memantapkan kompetensi akademik kependidikan. Magang ini semestinya lebih dominan live in di sekolah/madrasah sehingga mahasiswa calon guru bisa menghayati  kehidupan guru dalam keseharian di Lembaga Pendidikan. Penghayatan ini bisa bermakna bagi pengembangan krpibadian calon guru dan terbentuk “ruh” dan afeksi seorang guru.

Program Magang II, bertujuan : memantapkan kompetensi akademik kependidikan dan kaitannya dengan kompetensi akademik bidang studi dan menetapkan kemampuan awal calon guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran. Mahasiswa calon guru diarahkan untuk mendapatkan bekal secara langsung dari guru di sekolah/madrasah dalam menyusun perangkat pembelajaran sehingga terbentuk kemampuan dan ketrampilan pembelajaran.

Program Magang III, bertujuan :  agar peserta merasakan langsung proses pembelajaran dan memantapkan jati diri pendidik, dengan menjadi asisten guru, yang dilakukan antara lain. Ketiga aspek pengetahuan, afeksi dan ketrampilan pada magang 1 dan 2 sudah terbentuk maka mahasiswa calon guru bisa  terbentuk “think like a teacher” dan “act like a teacher” secara bersamaan pada magang 3.

Dalam proses magang diperlukan personalia baik dari sisi sekolah/madrasah dan LPTK. Personalianya terdiri atas School principals, School internship coordinators, dan Mentor Teachers (berasal dari sekolah/madrasah). Sedangkan  Tertiary mentors berasal dari LPTK. Kesemua personalia tersebut harus jelas peran, tanggungjawab dan anggaran yang diberikan sehingga bisa optimal kinerjanya.

 

Daftar Pusaka

Kosnik, clare &, Beck, Clive . (2010). The internship component of a teacher education program: Opportunities for learning. JournalThe Teacher Educator . Volume 39, 2003 – Issue 1. Pages 18-34 | Published online: 20 Jan 2010. https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/08878730309555327?journalCode=utte20

Candace Davies. (2018). How Do Student Teacher Internships Help You in Your Teaching Career? http://teaching.monster.com/careers/articles/6781-how-do-student-teacher-internships-help-you-in-your-teaching-career

Kirti Matliwala. (2010) Internship Programme in Teacher Education.

Sydney School of Education and social Work. (). INTERNSHIPS HANDBOOK

Linda E. Martin & Thalia M. Mulvihill (2017) Current Issues in Teacher Education: An Interview with Dr. Linda Darling-Hammond, The Teacher Educator, 52:2, 75-83. https://www.tandfonline.com/doi/pdf/10.1080/08878730.2017.1294921?needAccess=true

Muhammad Munadi. (2017). Pendidikan Guru Agama Islam Di Perguruan Tinggi Umum Negeri (Studi Komparatif Antara Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung). CENDEKIA VOL 15 NO 1 TAHUN 2017. http://jurnal.stainponorogo.ac.id/index.php/cendekia/article/view/446/736

Anjali Rani. (2017). Problems and Solution of Teacher Education. International Journal of Academic Research in Education and Review. Vol. 5(1), pp. 15-19, January 2017. https://www.academicresearchjournals.org/IJARER/PDF/2017/January/Rani.pdf

Sarem Ozdemir and Ahmet Guneyli. (2008).  Problems that Pre-service Teachers Experience and Challenges in Teacher Education. 10th International Conference on Education, At Athens, Greece.

Farah Khan, Omar Fauzee & Yaakob Daud. (2016).  Teacher Training, Problems And The Challenges: A Comparative Study Between India And Pakistan. Gomal University Journal of Research, Special Issue II, June, 2016. http://www.gu.edu.pk/new/GUJR/Issues-2017/ONLINE_%20Special%20Issue_II/1_Teacher%20training,%20problems%20and%20challenges-%20%20%20A%20comparative%20study%20between%20India%20and%20Pakistan.pdf

Komentar ditutup.