Bg

Perguruan Tinggi : Antara Competition dan Cooperation (Bagian Kedua)

Diterbitkan tanggal 26 Januari 2021

Oleh: Dr. H. Muhammad Munadi, M.Pd
(Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Surakarta)

Pembeli Jasa Perguruan Tinggi: Orang Tua dan Calon Mahasiswa

Lembaga pendidikan sebagai penyedia jasa yang tidak terlihat memerlukan pembeli yang mendapatkan kepastian produk yang dihasilkannya. Pembelinya terutama untuk perguruan tinggi bisa berada di suatu daerah, antar daerah, satu negara, antar negara tingkat regional maupun global. Akibatnya terjadi kompetisi yang tidak bisa dihindari oleh semua perguruan tinggi. Dilihat dari pembeli secara nasional, kalau dilihat dari latar belakang pendidikan terdapat calon mahasiswa baru yang dapat dilihat pada data berikut.

Tabel 1. Jumlah siswa jejang pendidikan menengah

No Kementerian SMA/MA SMK/MAK Jumlah
1 Kemendikbud 4.828.204 4.985.088 9.843.292
2 Kemenag 1.465.445 1.465.445
Total 6.293.649 4.985.088 11.308.737

Tabel 1. menunjukkan bahwa dari 11.308.737 siswa, jika semua masuk ke PT maka tiap perguruan tinggi mendapatkan calon mahasiswa sebanyak 2.409 orang. Namun tidak bisa dibuat generalisasi semacam itu, karena semuanya tergantung pada daya beli masyarakat. Daya beli yang rendah berakibat pada masyarakat semakin mengurangi untuk mendapatkan akses pendidikan tinggi. Hal itu dikarenakan biaya uang kuliah tunggal (UKT) yang semakin tinggi pada PT yang bertipe PTN-BLU atau PTN-BH. Disinilah ada kaitan antara calon mahasiswa baru dengan orang tuanya. Jika daya beli orang tua rendah maka calon mahasiswa baru semakin berkurang yang masuk di perguruan tinggi. Disinilah diperlukan bantuan bagi mahasiswa baru bisa berbentuk beasiswa dari negara, perguruan tinggi, dana abadi perguruan tinggi, kredit untuk mahasiswa, corporate social responsibility (CSR) ataupun university social responsibility (USR).

Instrument pertama yang bisa digunakan untuk pemberian beasiswa dan operasional perguruan tinggi adalah dana abadi (endowment fund) atau istilah lain wakaf (islamic endowment fund). Sumber  yang berasal dari dana ini sangat besar secara exixting. Apalagi secara potensi sangat besar seperti dinyatakan Presiden Jokowi  (Republika, 2021) bahwa potensi aset wakaf per tahun tercatat mencapai Rp 2 ribu triliun; sedangkan potensi wakaf uang menembus angka Rp 188 triliun. Sedangkan dana abadi yang ada di PT Indonesia, belum ada data yang bisa diekspos. Dana abadi baik besaran dan pengelolaannya di PT, Indonesia bisa belajar dari perguruan tinggi Amerika Serikat yang memiliki jumlah dana yang besar seperti tabel berikut.

Tabel 2. Lima Perguruan Tinggi Memiliki Dana Abadi Terbesar

No Perguruan Tinggi Besar Dana Abadi Kurs Dalam Rupiah Tahun Mulai Dikelola
1. Harvard University $40.9 Billion Rp. 571.782.000.000.000,00 1974 (Harvard University, 2021)
2. University of Texas $30.9 Billion Rp. 431.982.000.000.000,00 1876 (Najmabadi, 2018)
3. Yale University $30.3 Billion Rp. 423.594.000.000.000,00 1718 (Wikipedia, 2020)
4. Stanford University  $27.7 Billion Rp. 387.246.000.000.000,00 1885 (Stanford University Office Of The President, 1999)
5. Princeton University $26.1 Billion Rp. 364.878.000.000.000,00 1746 (Office of Communications, 2019)

(Gorton, 2020)

Tabel 2. memperlihatkan bahwa kepemilikan yang besar memerlukan proses pengumpulan yang panjang dan lama. Hasil riset (Munadi, 2017) menunjukkan bahwa salah satu perguruan tinggi di Malaysia memiliki dana abadi yang pemasukannya masih lebih dominan  dari  sumbangan dibandingkan  bersumber  dari  proyek  dan  hasil  investasi. Dana pokok yang terkumpul dalam  abadi (endowment fund) tidak boleh diambil, yang bisa dipakai untuk operasional lembaga pendidikan adalah bunga/bagi hasil ketika didepositokan atau deviden ketika dana diinvestasikan secara ketat pada perusahaan-perusahaan yang sehat dan prospektif.

Tanggung jawab sosial perusahaan menurut (Safarzad, Farahnaki, & Farahbakhsh, 2016) adalah komitmen berkelanjutan lembaga bisnis untuk berperilaku etis dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup tenaga kerja dan keluarganya serta komunitas lokal dan masyarakat luas.  Pengertian ini memang sedikit mengurangi laba yang dimiliki perusahaan/lembaga bisnis. Bahkan hal ini mengabaikan fungsi lembaga bisnis untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.  Untuk memaksanya menurut Friedman (García-de-Madariaga & Rodríguez-de-Rivera-Cremades, 2010) hanya ada du acara yaitu: hukum dan etika.

Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menurut  (Brin & Nehme, 2019) terbagi menjadi empat kewajiban: Tanggung jawab ekonomi untuk menghasilkan uang, Tanggung jawab hukum untuk mematuhi aturan dan regulasi, Tanggung jawab etis untuk melakukan apa yang benar meskipun tidak diwajibkan oleh isi atau inti hukum, serta tanggung jawab filantropis untuk berkontribusi pada proyek masyarakat meskipun mereka tidak bergantung pada bisnis tertentu. Empat kewajiban tersebut secara terperinci dapat merujuk pada penjelasan (Kaplan Financial , 2020) sebagai berikut. Tanggung jawab ekonomi meliputi : Pemegang saham menuntut pengembalian yang wajar, karyawan menginginkan pekerjaan yang aman dan bergaji adil, serta pelanggan menuntut kualitas dengan harga yang wajar.  Tanggung jawab hukum. Hukum merupakan garis dasar bagi perusahaan untuk beroperasi dalam masyarakat, Tanggung jawab etis. Hal ini berkaitan dengan melakukan apa yang benar, adil dan adil, Tindakan yang diambil di bidang ini memberikan penegasan kembali legitimasi sosial. Kewajiban ini  melampaui dua tingkat sebelumnya. Yang terakhir tanggung jawab filantropis. Ini  berkaitan dengan perilaku diskresi untuk meningkatkan kehidupan orang lain, bentuknya sumbangan amal dan fasilitas rekreasi, serta mensponsori acara seni dan olahraga.

Perusahaan dalam memberikan beasiswa bagi mahasiswa/siswa bisa bermakna memenuhi salah satu dari 4 kewajiban di atas. Tetapi saat ini kebanyakan perusahaan memberikan beasiswa mendasarkan pada pelampauan 2 kewajiban yang terakhir, yaitu kewajiban etis dan kewajiban filantropis. Hal ini merujuk pada pendapat  (Nejati, Shafaei, Salamzadeh, & Daraei, 2011) bahwa CSR mengharuskan perusahaan berkomitmen untuk menyeimbangkan dan meningkatkan dampak lingkungan dan sosial tanpa merusak kinerja ekonomi.

Keempat tanggung jawab di atas, dilakukan perusahaan mendasarkan pada  3 model, yaitu: pyramid, intersecting circles, dan concentric circles (Geva, 2008). Gambarannya sebagai berikut.


Gambar 1. Model Tanggungjawab Perusahaan

Perusahaan dalam memberikan beasiswa idealnya mendasarkan pada model kedua, yaitu: Intersecting circles. Dalam memberikan beasiswa perusahaan menyelipkan sisi mencari keuntungan, sekaligus bermuatan hukum dan etis sekaligus filantropis. Dalam  lingkup sederhana pemberian beasiswa bagi anak-anak karyawan perusahaan, anak-anak sekitar berdirinya perusahaan atau anak-anak yang belajar pada lembaga pendidikan yang paling dekat dengan tempat berdirinya perusahaan.  

Disamping ada istilah corporate social responsibility (CSR) ada juga istilah university social responsibility (USR) atau tanggung jawab social universitas. Tanggungjawab social universitas atau university social responsibility (USR) didefnisikan Reiser (Vasilescu, Barna, Epurec, & Baicu, 2010) sebagai a policy of ethical quality of the performance of the university community (students, faculty and administrative employees) via the responsible management of the educational, cognitive, labour and environmental impacts produced by the university, in an interactive dialogue with society to promote a sustainable human development. Konsep USR sebagai “kebijakan kualitas etika kinerja komunitas universitas (mahasiswa, dosen dan pegawai administrasi) melalui pengelolaan yang bertanggung jawab atas dampak pendidikan, kognitif, tenaga kerja dan lingkungan yang dihasilkan oleh universitas, dalam dialog interaktif dengan masyarakat untuk mempromosikan pembangunan manusia yang berkelanjutan.  Pengertian ini bermakna bahwa tanggung jawab sosial universitas muncul dari kepedulian sektor pendidikan untuk berkontribusi pada pembangunan sosial dan dampak dari Institusi Pendidikan Tinggi itu didirikan.

Paparan di atas menunjukkan bahwa pendorong akses orang tua dan calon mahasiswa pada pendidikan tinggi diperlukan kepedulian dari internal maupun eksternal perguruan tinggi. kepedulian internal berkaitan dengan kepedulian PT yang bersangkutan berbentuk university social responsibility (USR). Kepedulian dari eksternal berupa dana talangan pembayaran SPP/UKT melalui kredit untuk mahasiswa dari lembaga perbankan, serta corporate social responsibility (CSR).  Harus ada “gerakan menyapa” dari perguruan tinggi pada stakeholder internal maupun eksternal agar muncul kepedulian sesama untuk membangun sumber daya manusia yang unggul di tingkat local maupun nasional. Apalagi di era pandemi covid-19 saat ini diperlukan kerjasama antar komponen.

Pengembangan Nilai Tambah Mahasiswa/Siswa

Mahasiswa memiliki 6 dimensi yaitu fisik, psikis, social, mental, emosional, dan spiritual. Keenamnya harus dilayani dan dikembangkan secara seimbang melalui 3 layanan, yaitu layanan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, serta ekstrakurikuler. Layanan intra dan kokurikuler mengembangkan hard skill, sedangkan  ekstrkurikuler mengembangkan soft skill  pada mahasiswa. Dua kecakapan ini harus dimiliki oleh generasi muda untuk menghadapi tantangan ke depan. Gambarannya bisa diadopsi dari (Evans, 2017) berikut ini.


Gambar 2. Ketrampilan Yang Diperlukan

Gambar 2. dapat diketahui bahwa menghadapi masa depan diperlukan penguasaan karakter, pengetahuan dan ketrampilan secara terpadu sehingga bisa beradaptasi dengan perubahan. PT harus memadukan tiga hal tersebut sehingga alumninya bisa beradaptasi dengan keadaan apapun di tempat kerja.

Rujukan

Brin, P., & Nehme, M. N. (2019). Corporate Social Responsibilty: Analysis Of Theories and Models. doi:10.21303/2504-5571.2019.001007

Evans, R. (2017, February 23). FOUR DIMENSIONS OF EDUCATION: 21ST CENTURY TEACHING & LEARNING. UTS. Retrieved January 26, 2021, from https://www.utschools.ca/blog/content/four-dimensions-education-21st-century-teaching-learning

García-de-Madariaga, J., & Rodríguez-de-Rivera-Cremades, F. (2010, May/Aug.). Corporate social responsibility and the classical theory of the firm: Are both theories irreconcilable? Innovar , 20(37), 5-19. Retrieved January 20, 2021, from http://www.scielo.org.co/pdf/inno/v20n37/20n37a02.pdf

Geva, A. (2008). Three Models of Corporate Social Responsibility: Interrelationships between Theory, Research and Practice. Business and Society Review, 113, 1-41. Retrieved January 20, 2021, from https://onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1111/j.1467-8594.2008.00311.x

Gorton, D. (2020, February 6). Top 5 Largest University Endowments. Investopedia. Retrieved January 20, 2021, from https://www.investopedia.com/articles/markets/081616/top-5-largest-university-endowments.asp

Harvard University. (2021). Endowment. The President and Fellows of Harvard College. Retrieved January 20, 2021, from https://www.harvard.edu/about-harvard/harvard-glance/endowment

Kaplan Financial . (2020). Theories of corporate social responsibility. Kaplan Financial Knowledge Bank. Retrieved January 20, 2021, from https://kfknowledgebank.kaplan.co.uk/risk-ethics-and-governance/corporate-social-responsibility/theories-of-corporate-social-responsibility#Defining_x0020_CSR_0_0_2_0_0_0_0_0_0_0_0_0_0_0_0_0

Munadi, M. (2017, December ). Pengelolaan Endowment Fund di Perguruan Tinggi Malaysia: Studi Kasus di Universitas Teknologi Malaysia. Al Ulum, 17(2), 306-331. doi:10.30603/au.v17i2.199

Najmabadi, S. (2018, December 26). UT endowment second-largest in the nation, according to Bloomberg data. The Texas Tribune. Retrieved January 20, 2021, from https://www.texastribune.org/2018/12/26/university-texas-endowment-harvard/#:~:text=The%20Texas%20endowment%20dates%20back,and%20Texas%20A%26M%20University%20systems.&text=About%205%20percent%20is%20paid,year%2C%20a%20record%20%241%20billion.

Nejati, M., Shafaei, A., Salamzadeh, Y., & Daraei, M. (2011, January 18). Corporate social responsibility and universities: A study of top 10 world universities’ websites. African Journal of Business Management, 5(2), 440-447. doi:10.5897/AJBM10.554

Office of Communications. (2019). Princeton endowment earns 6.2 percent return. Retrieved from https://www.princeton.edu/news/2019/10/11/princeton-endowment-earns-62-percent-return

Safarzad, R., Farahnaki, E., & Farahbakhsh, M. T. (2016, September 3). Corporate social responsibility, theories and models. SSRN. Retrieved January 20, 2021, from https://ssrn.com/abstract=2834200

Stanford University Office Of The President. (1999). A Strong Endowment Ensures a Strong Stanford. Retrieved from https://web.stanford.edu/dept/pres-provost/president/speeches/endowment-00.html

Vasilescu, R., Barna, C., Epurec, M., & Baicu, C. (2010). Developing university social responsibility: A model for the challenges of the new civil society. WCES-2010. 2, pp. 4177–4182. Procedia Social and Behavioral Sciences . Retrieved January 20, 2021, from https://pdf.sciencedirectassets.com/277811/1-s2.0-S1877042810X00039/1-s2.0-S1877042810007007/main.pdf?X-Amz-Security-Token=IQoJb3JpZ2luX2VjEPX%2F%2F%2F%2F%2F%2F%2F%2F%2F%2FwEaCXVzLWVhc3QtMSJHMEUCIEKb%2FCQvxfNaP%2FXE4J9%2Bg8VStS13jTd1rooC5dwOH0IVAiEArUPY1j

Wikipedia. (2020). Yale University endowment. Wikipedia. Retrieved January 20, 2021, from https://en.wikipedia.org/wiki/Yale_University_endowment#:~:text=The%20endowment%20was%20established%20at,by%20the%20Yale%20Investments%20Office.

Penulis

Dr. H. Muhammad Miunadi, M.Pd
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Surakarta

Komentar ditutup.