Bg

Perguruan Tinggi dan Honorary Appointment

Diterbitkan tanggal 10 Juni 2021

Oleh: Dr. H. Muhammad Munadi, M.Pd
(Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Surakarta)

Pengantar

Setiap ada pengukuhan doktor ataupun guru besar kehormatan pasti ada perdebatan. Perdebatannya seputar layak atau tidak layak. Hal ini disebabkan kebanyakan penerima gelar/jabatan akademik kehormatan (baik Doktor maupun Guru Besar/Profesor) pada posisi sedang dan telah menduduki posisi penting di bidang politik (Munadi, 2021).  Bila dilacak di internet memakai search engine, setidaknya diperoleh data sebagai berikut.

Tabel 1. Penerima Jabatan Guru Besar Kehormatan di Indonesia

No Nama Penerima Jabatan Penerima Tahun Penerimaan Pemberi Bidang
1. Otto Hasibuan     Universitas Jayabaya Hukum
2. Chairul Tanjung Ketua Komite Ekonomi Nasional 2010-2014 2015 Universitas Airlangga Ilmu Kewirausahaan
3. Makruf Amin Ketua Umum MUI 2017 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Ekonomi Islam
4. Susilo Bambang Yudhoyono Presiden RI 2004 – 2014 2014 Universitas Pertahanan Nasional Ilmu Ketahanan Nasional
5. Megawati Soekarno Putri Presiden RI 2002-2004 2021 Universitas Pertahanan Nasional Kepemimpinan Strategik 
6. Muhammad Syarifuddin Ketua MA 2021 Universitas Diponegoro Hukum

Tabel 1 menunjukkan bahwa penerima gelar, dominan sedang memegang posisi penting di bidang politik maupun memiliki jabatan politik.  Langkah berbeda dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung, pemberian gelar/jabatan akademik kehormatan dominan atas pertimbangan akademik murni. Gambaran datanya sebagai berikut.

Tabel 2. Pemberian Jabatan Profesor Kehormatan oleh ITB

No Nama Asal Perguruan Tinggi Bidang Kajian
1. Professor Finn Erling Kydland Carnegie Mellon University Ekonomi
2. Professor Eiichiro Fukusaki Osaka University Bioteknologi
3. Professor Kazunari Yoshizawa Kyushu University Kimia Organik
4. Professor Kazuhito Fujiyama Osaka University Bioteknologi
5. Professor Ben L. Feringa University of Groningen Chiral compounds
6. Professor Julie Willis The University of Melbourne Architecture
7. Professor Johan Woltjer University of Groningen infrastructure management

(Institut Teknologi Bandung, 2021)

ITB memberikan gelar Profesor Kehormatan lebih pada dimensi keahlian, untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas reputasi keilmuan civitas akademika. Tabel 1 dan 2 menunjukkan ragam pandangan obyektif dan subyektif dalam pemberian jabatan guru besar kehormatan. Namun semua itu kesemuanya mendasarkan pada kebijakan secara nasional dan kebijakan internal perguruan tinggi.

Kebijakan Berkait Guru Besar Kehormatan di Indonesia

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang PT  dalam Pasal 72 ayat 5 menyebutkan  bahwa Menteri dapat mengangkat seseorang dengan kompetensi luar biasa pada jenjang jabatan akademik Profesor atas usul Perguruan Tinggi. Ketentuan ini dioperasionalkan pada Permendikbud Nomor 40 Tahun 2012 pasal 2 menyebutkan bahwa menteri dapat menetapkan seseorang yang memiliki keahlian dengan prestasi luar biasa untuk diangkat sebagai Profesor/Guru Besar Tidak Tetap pada perguruan tinggi berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

Permendikbud Nomor 88 Tahun 2013 tentang Pengangkatan Dosen Tidak Tetap Dalam Jabatan Akademik Pada Perguruan Tinggi Negeri Pasal 2 (1) menyebutkan bahwa Menteri dapat menetapkan dosen tidak tetap pada perguruan tinggi negeri yang memiliki kompetensi luar biasa untuk diangkat dalam jabatan akademik profesor berdasarkan usulan dari perguruan tinggi dan rekomendasi dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. (2) Kriteria yang digunakan untuk pengusulan sebagai profesor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah bahwa yang bersangkutan memiliki karya yang bersifat pengetahuan tacit yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi pengetahuan eksplisit di perguruan tinggi dan bermanfaat untuk kesejahteraan umat manusia (Luk Staf UGM, 2013).

Titik tekan kebijakan yang ada terletak pada 4 hal pokok, yaitu: usulan perguruan tinggi, seseorang yang memiliki keahlian dengan prestasi luar biasa, memiliki karya yang bersifat pengetahuan tacit yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi pengetahuan eksplisit di perguruan tinggi serta bermanfaat untuk kesejahteraan umat manusia.  Satu hal berkaitan dengan perguruan tinggi dan 3 hal lainnya berkaitan dengan orang yang diberi.  Ini berarti bahwa penetapan seseorang mendapatkan jabatan guru besar kehormatan harus lebih dominan memiliki pertimbangan keilmuan. Menjadi kontroversi sebenarnya tidak ada variasinya pemberian gelar/jabatan kehormatan baik dari sisi penerima maupun jenis jabatan kehormatan yang diberikan perguruan tinggi. 

Variasi Honorary Pada Perguruan Tinggi di Luar Negeri

Ada keragaman pemberian gelar/jabatan akademik kehormatan di luar negeri. Universitas Exeter Inggris memberikan gelar/jabatan akademik beragam diantaranya dapat dilihat pada table berikut.

Tabel 3. Jenis Honorary Appointment pada University of Exeter

Level of Honorary Appointment Non Bidang Medis Level of Honorary Appointment Non Bidang Medis
Honorary Professor Honorary Clinical Professor
Honorary Associate Professor Honorary Clinical Associate Professor
Honorary Senior Lecturer Honorary Clinical Senior Lecturer
Honorary Lecturer Honorary Clinical Lecturer
Honorary Senior Research Fellow Honorary Clinical Senior Research Fellow
Honorary Research Fellow Honorary Clinical Research Fellow
Honorary Associate Research Fellow Honorary Clinical Associate Research Fellow

(University of Exeter, 2021)

Tabel 3 menunjukkan bahwa bidang yang bisa diberi gelar/jabatan kehormatan pada bidang pendidikan/pengajaran serta penelitian sesuai keilmuan yang dikembangkan.

Perguruan tinggi lain yaitu University of Leicester, tidak begitu variatif dibandingkan dengan perguruan tinggi di atas. Jenisnya sebagai berikut.

  1. Honorary Professor
  2. Honorary Associate Professor
  3. Honorary Senior Lecturer
  4. Honorary Lecturer
  5. Honorary Fellow (University of Leicester, 2021)

Lebih sederhana lagi yang terjadi di Nottingham University, hanya ada empat kategori pengangkatan gelar kehormatan:

  1. Honorary Professor
  2. Honorary Fellow
  3. Honorary Associate Professor
  4. Honorary Assistant Professor (Nottingham University, 2021)

Dua perguruan tinggi di atas hanya fokus pada bidang pendidikan/pengajaran.

Kategori penerimanya dapat merujuk pada gambaran (The Academic Union Oxford , 2021)  sebagai berikut: dosen dan sivitas akademika, pejabat publik, seniman, pimpinan perusahaan dan organisasi inovatif, para filantropis dan pemberi hibah

Untuk bisa diangkat pada jabatan-jabatan yang ada memiliki syarat yang luar biasa berat, diantaranya:

  1. Prestasi profesional yang luar biasa
  2. Pengakuan sebagai ahli terkemuka dalam profesi atau pekerjaan mereka
  3. Kontribusi unik di bidang keahlian mereka
  4. Individu harus secara akademis memenuhi syarat untuk status yang diusulkan
  5. Menjadi otoritas terkemuka di bidangnya secara nasional/internasional
  6. Kontribusi luar biasa untuk pendidikan atau penelitian atau keduanya.
  7. Memiliki pengalaman, dan komitmen yang ditunjukkan untuk mengembangkan keunggulan dalam penelitian dan/atau pendidikan (University of Exeter, 2021) (University of Leicester, 2021) (Nottingham University, 2021)  (Georg-August-Universität Göttingen, 2021)..

Paparan di atas menunjukkan bahwa pemberian gelar/jabatan kehormatan memiliki tujuan yaitu memungkinkan penguatan hubungan antara perguruan tinggi dengan industri, perdagangan dan profesi. Dengan demikian menjadikan mereka bisa berparisipasi secara kolaboratif dalam pendanaan perguruan tinggi maupun kegiatan pendidikan/pengajaran, penelitian, atau pengawasan bersama untuk penelitian sarjana maupun pascasarjana.

Penutup

Perlu ada kehatia-hatian tersendiri pada perguraun tinggi (PT) dalam memberikan jabatan/gelar kehormatan agar tidak ada kesan bahwa perguruan  tinggi obral gelar dan jabatan akademik, asas proporsionalitas dan profesionalitas juga harus dijunjung oleh PT sehingga tidak berdampak pada runtuhnya semangat life long learning pada generasi muda. 

Bibliography

AARHUS UNIVERSITY. (2021, February 25). Conferment of the title honorary professor/associate professor. Retrieved from https://medarbejdere.au.dk/en/faculties/business-and-social-sciences/employment-and-career/staff-policies/conferment-of-the-title-honorary-professorassociate-professor/#:~:text=The%20title%20of%20honorary%20professor,with%20the%20faculty’s%20academic%20ac

Georg-August-Universität Göttingen. (2021). Honorary Professor. Retrieved from https://www.uni-goettingen.de/en/honorary+professor/304462.html

Institut Teknologi Bandung. (2021). Honorary Professor. Retrieved from https://www.itb.ac.id/honorary-professor

Luk Staf UGM. (2013, Agustus 22). Peraturan Meteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 88 Tahun 2013 tentang Pengangkatan Dosen Tidak Tetap Dalam Jabatan Akademik Pada Perguruan Tinggi Negeri. Retrieved from https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/Permendikbud88-2013PengangkatanDosenTidakTetap.pdf

Munadi, M. (2021). Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan : Problem dan Prospek. In M. Munadi, Manajemen Pendidikan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0 (pp. 21-26). Jakarta: Prenada Media. Retrieved from https://books.google.co.id/books?id=1pLyDwAAQBAJ&pg=PA21&lpg=PA21&dq=muhammad+munadi+dan+PENGANUGERAHAN+GELAR+DOKTOR+KEHORMATAN+:+PROBLEM+DAN+PROSPEK&source=bl&ots=6TwX6TAyM4&sig=ACfU3U1pAK1zKowAtyYy6hHzEbor-UgM9A&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwi66-X-w4rxAhWVc30KH

Nottingham University. (2021, February). Guidelines for Honorary Appointments. Retrieved from https://www.nottingham.ac.uk/registrar/registrars-office/guidelines-for-honorary-appointments.aspx

The Academic Union Oxford . (2021). Honorary Professor of the Academic Union, Oxford (AUO). Retrieved 2021, from https://oau.ebaoxford.co.uk/about-us-oau/about-honorary-professor-title

University of Exeter. (2021). Retrieved from https://www.exeter.ac.uk/staff/employment/honorary/

University of Leicester. (2021). Honorary titles. Retrieved from https://le.ac.uk/cls/people/honorary

Penulis

Dr. H. Muhammad Munadi, M.Pd
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Surakarta

Komentar ditutup.