Bg

Peringati Hari Pahlawan Nasional: PUSKOHIS IAIN Surakarta Adakan Seminar Hukum Nasional

Diterbitkan tanggal 10 November 2020

SINAR- Selasa, (10/11) bertepatan dengan peringatan hari Pahlawan Nasional Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam (PUSKOHIS) mengadakan seminar nasional dengan tema Kontribusi Santri Generasi 4.0 Dalam Pemikiran Hukum di Indonesia. Seminar yang diikuti Ratusan Pakar, Akademisi dan Pelajar dari Perguruan Tinggi Negeri dan Swata di Indonesia ini dipandu oleh Hafid Nur Fauzi selaku moderator. Diawali dengan keynote speaker yang disampaikan oleh Bp. R. AM. Mustain Nasoha selaku Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam IAIN Surakarta. Beliau mengatakan bahwa Indonesia memiliki banyak SDM untuk turut berperan menjadi pahlawan dalam merebut kemerdekaan dan penentuan kerangkan hukum di Indonesia. Bukan hanya dari golongan pejabat tertentu dan pakar hukum lulusan perguruan tinggi, namun peran santri juga sangat kuat di Indonesia, khususnya dalam penentuan hukum islam. Banyak teori yang bisa dijadikan landasan atas Penerapan Hukum Islam di Indonesia antara lain Teori Receptio in Complexu, Teori Receptie, Teori Receptio A Contrario Teori Receptie Exit Teori Eksistensi Teori Interdependensi, Teori Sinkretisme. Menurut Direktur PUSKOHIS yang akrab dipanggil Gus Mustain ini, seorang Pakar Hukum harus menguasai secara mendetail dan mendalam teori-teori tersebut agar mampu menghadirkan Hukum yang berkeadilan. Gus Mustain menambahkan bahwa seorang pakar Hukum Islam sangat perlu mengkaji Kitab-Kitab pokok dalam pengambilan hukum, misalnya Kitab Ushul Fiqih, Kitab tentang Metode Berfatwa dan Kitab tentang Qowaidul Fiqhiyyah. Maka PUSKOHIS IAIN Surakarta telah memiliki rencara untuk kedepan akan mengkaji Teori-Teori Hukum baik dari pakar Nasional dan Internasional. Serta akan senantiasa mengadakan Kajian Kitab-Kitab yang dibutuhkan dalam Hukum Islam. Seperti Kitab Jamiul Jawami’, Kitab Kawakibus Sati’, Kitab Manahij Wa Turuq Al Bahst, Kitab Badrut Tholi’ dan Kitab-Kitab lainnya. PUSKOHIS IAIN Surakarta akan selalu berkomitmen mengawal jalannya hukum di Indonesia. Kalau perlu PUSKOHIS akan melakukan Judicial Review, dan gugatan hukum lainnya jika ada hukum yang kurang tepat di Indonesia.

Pembicara pertama adalah Ust. Ashif Fuadi M. Hum, beliau selaku kepala Unit Bima IAIN Surakarta merupakan ahlinya dalam sejarah. Dalam menyampaikan materi di seminar ini beliau menguraikan beberapa hal yakni pesantren menjadi pahlawan dalam partisipasi penetapan peraturan perundang-undangan. Dikupas secara lengkap mulai dari sejarah santri mulai dari huruf sin  atau Satrul al-awroh yang berarti menutup aurat, nun atau Na’ibul ulama yang berarti wakil dari ulama, hingga ta’ atau tarkul al-ma’ashi yang berarti meninggalkan maksiat. Tidak disangka bahwa sedetail itu hanya kata santri bisa dikupas sedemikian rupa. Beliau juga menyampaikan bahwa pesantren pasti identik dengan asrama, masjid, kitab kuning, santri, dan kyai. Dengan beberapa objek yang merupakan unsur utama pesantren, beliau juga menyampaikan peran-peran santri di masa 4.0. berbeda dengan jaman dahulu pesantren dikenal hanya untuk kegiatan peribadatan dan mengaji saja, namun peran santri saat ini bisa jadi sebagai politisi, birokrat, bintang film, penyanyi, TNI, diplomat bahkan santri saat ini juga dapat menjadi Presiden dan Wakil Presiden seperti K.H Ma’ruf Amin. Dalam moderasi beragama santri juga berperan sebagai contoh kemuliaan akhlak dan menjadi jalan tengah jika ada suatu perselisihan.

Masuk pada pemateri kedua dengan narasumber yang termasuk pengurus HIMASAL (Himpunan Santri Lirboyo) Kediri Jawa Timur yakni Kyai Moh. Zainal Abidin, S. Kom. I beliau menyampaikan sedikit sejarah mengenai pondok pesantren Lirboyo di Kediri bahwasannya pesantren tersebut merupakan pondok salafiyah yang memiliki peran penting didalam kemerdekaatn Republik Indonesia. Beliau juga menjelaskan beberapa fungsi pondok diantaranya pondok merupakan tempat melatih santri untuk belajar mandiri lepas dengan orang tua, pondok juga memiliki peraturan yang digunakan untuk menentukan kegiatan santri, santri pondok secara tidak langsung memiliki kesadaran hukum yang dimana ini termasuk salah satu peran santri dalam menentukan hukum Islam. Bisa dikatakan pondok merupakan miniatur masyarakat. Lirboyo dengan cirikhas yang kental sejak dulu sangat tertib dalam menaati peraturannya. Mulai cerita dilarang untuk membawa radio/kaset kedalam pesantren kini Lirboyo mungkin sudah beralih kebijakan dalam menggunakan teknologi untuk mengikuti perkembangan jaman dan tidak ketinggalan arus. Kyai Zainal Abidin juga menyampaikan bahwa sejati seorang santri yaitu beribadah, berdoa, dan menggapai riyadoh untuk kemanfaatan orang lain.

Pembicara ketiga yang merupakan salah satu advokat Indonesia beliau Ust. Rifan Adi Nugroho, S.H juga sebagai Ketua Qonuniyah Lembaga Bathsul Masail Nahdhatul Ulama, Konsultan Hukum dan Advokat yang telah melalang buwana menangani kasus di Indonesia ini menyampaikan sedikit tentang peran santri, khususnya dalam dunia peradilan. Dalam memperingati hari pahlawan Ust. Rifan menceritakan peran santri dalam masa penjajahan. Melawan seorang penjajan merupakan fardhu ‘ain, itulah Resolusi Jihad KH. Hasyim Asyari. Jelas kalimat ini merupakan kesadaran seorang santri jaman dulu yang memang sangat berperan penting dalam melawan penjajah. Ust Rifan sebagai salah satu pakar Tata Hukum Negara juga menjelaskan bahwa santri juga merekonstruksi adanya hukum-hukum yang ada di Indonesia. (Humas dan Publikasi)

Komentar ditutup.