Bg

Pesan Khutbah Idul Fitri 1438 H: Kembali Suci Artinya Menjadi Manusia Yang Bijak Dalam Menyelesaikan Permasalahan Hidup

Diterbitkan tanggal 25 Juni 2017

SINAR- Tidak seperti tahun-tahun lalu, khutbah Idul Fitri 1438 H di IAIN Surakarta, Minggu (26/6) hari ini memberikan pesan yang sangat berarti kepada para jamaah. Pasalnya, Dr. Zainul Abas, M.Ag yang didaulat sebagai Khotib menyampaikan khutbah dengan pandangan yang berbeda.

Di depan ratusan jamaah yang hadir di halaman Gd. Graha IAIN Surakarta, Dr. Abas menyampaikan bahwa idul fitri bukanlah menjadi orang yang tidak punya dosa lagi setelah menahan lapar dan haus selama satu bulan. “Idul Fitri pada hakikatnya memberikan pesan kepada kita, bahwa syari’at Islam mengajarkan kepada kesucian, keindahan, kebersamaan dan mengarahkan umatnya memiliki kepedulian sosial yang tinggi”, ungkapnya saat menyampaikan khutbah. Jika melaksanakan puasa dengan didasari iman dan dilaksankan dengan benar manusia tersebut akan diampuni dosa-dosanya”, lanjut Dr. Abas mengutip salah satu hadits riwayat Imam Muslim.

Dalam QS. al-Fathir : 18-21 yang disampaikan oleh Dr. Abas dapat kita maknai bahwa Allah seolah hendak menyatakan bahwa manusia yang suci, manusia yang baik, manusia yang menang dan beruntung itu, adalah mereka yang mau dan mampu melihat persoalan lingkungannya secara bijak dan kemudian bersedia menyelesaikannya.

Seluruh jamaah yang hadir begitu larut dalam suasana idul fitri. Terlebih ketika khutbah yang disampaikan terasa sangat menohok relung hati. Salah satu jamaah, Joko (38) mengatakan bahwa di dalam khutbah yang disampaikan tadi mengingatkan betapa kita ini melalaikan makna puasa yang sebenarnya. “Puasanya kita ini seringnya hanya bertaburan resep makanan, lalu ditutup dengan belanja-belanja saat lebaran tiba”, katanya.

Dr. Abas menyampaikan bahwa kebiasaan baik yang telah kita lakukan di bulan suci Ramadhan, baik ibadah puasa, shalat malam dan shalat tarawih, membaca dan memahami Al-Quran, peduli kaum dluafa, mengendalikan amarah dan hawa nafsu, menjaga kejujuran hendaknya tetap kita lestarikan dan bahkan kita tingkatkan sedemikian rupa agar dapat menjadi tradisi yang mulia dalam diri, keluarga dan lingkungan masyarakat kita, sehingga Fitrah yang telah kita raih di hari yang agung ini akan tetap terpelihara hingga akhir kehidupan kita.

Di akhir khutbah, Dr. Abas mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk menjadikan spirit ibadah puasa sebagai perisai diri kita dari godaan dan ujian kehidupan di masa-masa mendatang. (Gie/Humas Publikasi) #BanggaIAINSurakarta

 

Komentar ditutup.