Bg

Pidato Rektor IAIN Surakarta pada Wisuda ke-32

Diterbitkan tanggal 1 April 2016

Assalamu’alaikum. Wr. Wb

Dengan penuh kedalaman hati, marilah kita mengucapkan syukur alhamdulillah ke hadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan karunianya telah memberikan kesempatan serta kesehatan kepada kita semua untuk hadir dalam Wisuda Sarjana dan Magister ke-32. Semoga Allah SWT., tetap membimbing dan meridhai segenap upaya kita dalam mewujudkan cita-cita bersama menjadikan IAIN Surakarta lebih baik lagi di masa-masa mendatang.

Wisuda ke-32 kali ini mengambil tema “Memantapkan Islamic Studies dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”. Tema ini sengaja diambil untuk memberikan kesadaran bersama tentang tantangan dan peluang yang akan dihadapi masyarakat bangsa, khususnya IAIN Surakarta di era MEA. Persiapan dan langkah-langkah yang perlu harus dibuat agar kita tidak gamang mengambil peluang dan memainkan peran strategis. Kesiapan kita menentukan nasib lulusan IAIN Surakarta dalam ambil bagian di Era MEA tersebut.

Sejak Desember 2015, MEA sudah mulai berlangsung. Kini kita dibanjiri oleh arus barang dan jasa dari Asean secara lebih massif. Tak ada pilihan lain kecuali setiap kita menyiapkan seluruh perangkat yang memungkinkan kita mampu bersaing dengan bangsa-bangsa ASEAN baik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community), pada dasarnya, sebuah kesepakatan negara-negara ASEAN untuk menyatukan pasar tunggal barang dan jasa dan basis produksi bersama.

IAIN Surakarta yang kini memiliki jumlah mahasiswa lebih dari 10 ribu punya tantangan besar untuk menghadapinya. Dengan 23 Program Studi dan lebih dari 90 persennya Islamic Studies, kita perlu berfikir besar dan futuristik tentang bagaimana agar prodi-prodi ini dapat tetap fungsional memainkan peran-peran strategis untuk bangsa serta masyarakat Asean. Islamic Studies adalah studi-studi keislaman yang berumur lebih dari 1400 tahun. Dalam usianya yang makin tua, Islamic Studies memerlukan pembaruan-pembaruan dan peningkatan mutu relevansinya. Modernitas dan globalitas mengubah hampir seluruh tatanan berfikir dan bertindak. Semuanya diarahkan pada efektifitas, efisiensi, dan inovasi. Bidang sains, teknologi, seni, ilmu-ilmu sosial dan humaniora telah berkembang dengan sangat cepatnya seiring dengan temuan-temuan ilmiah baru. Riset-riset dengan dana besar dan investasi besar telah mendorong manusia modern ke arah kemajuan nyaris tanpa batas. Tabir-tabir misteri alam semesta mulai terkuak—meski tidak seluruhnya. Arah risetnya bukan lagi di bumi, tetapi sudah keluar dari cangkang bumi berupa ruang angkasa, planet-planet, tata surya lain di luar tata surya kita. Bahkan sekelompok ilmuan telah lama mempersiapkan planet Mars sebagai koloni manusia di tahun 2030. Kejutan-kejutan kemajuan sains akan terus terjadi memenuhi berita-berita dunia dan bahkan masuk ke ruang-ruang kerja kita, rumah kita, sekolah-sekolah kita, bahkan ke tangan kita melalui telpon seluler.

Abad kita adalah abad ilmu pengetahuan. Segalanya serba cepat dan serba mudah. Potongan-potongan berita terus membanjiri fikiran kita melalui media sosial. Kita hampir dikontrol dan dikendalikan oleh potongan-potongan berita itu. Kita kehilangan kepribadian dan kehilangan fokus untuk sekadar merenungkan tentang makna hidup. Karena itu, kita hidup dengan ciri-ciri sangat kejam: yang cepat menggilas yang lambat dan yang besar merobohkan yang kecil—nyaris tanpa belas kasih. Dalam situasi semacam ini, kita secara tidak sadar masuk ke dalam masyarakat yang sakit dan bahkan menjadi pasien masyarakat modern dengan kebingungan-kebingungan. Karena itu, statistik kejahatan, kekerasan, perceraian, dan konflik meningkat tajam. Masyarakat modern telah melampaui kecepatan dalam segala hal, tetapi kelaparan dalam aspek batin dan ruhani. Juga krisis lingkungan, tak pelak, mengancam kelangsungan hidup kita di planet bumi berupa krisis energi, ledakan penduduk, krisis pangan, ancaman perang, konflik-konflik, dan lain-lainnya. Masa depan dunia adalah masa depan yang kian tidak pasti, jika tidak ada tindakan profetik manusia hari ini untuk memecahkannya bersama-sama melalui kerjasama global, termasuk ASEAN.

Nah, menyatunya masyarakat tunggal dan basis produksi bersama masyarakat ASEAN akan menambahkan problem-problem baru yang tidak ringan. Lembaga-lembaga agama akan diuji untuk mampu memberikan peranan dalam mengatasi problem-problem sosial tersebut. IAIN Surakarta dengan 90 persennya prodi Islamic Studies dapat memainkan peran itu. Caranya adalah, menurut saya, pertama mendekati Islamic Studies dengan pendekatan perspektif. Misalnya dengan perspektif kekinian yang dibutuhkan pasar modern. Kedua, mengintegrasikan ke dalam struktur kebutuhan-kebutuhan nasional dan ASEAN. Apa yang menjadi kebutuhan nasional dan ASEAN harus direbut oleh IAIN dengan merumuskan konsep-konsep utama Islamic Studies ke tataran praksis. Penyakit mental, stress, kejahatan, perceraian, krisis lingkungan, dan problem sosial lain yang merupakan ciri masyarakat modern bisa menjadi proyek garapan.

Memantapkan Islamic Studies dengan mengintegrasikannya ke dalam proses “konsumsi” dan “produksi” nasional, MEA bahkan global adalah merupakan keniscayaan tak terbantahkan. Dengan pendekatan perspektif, Islamic Studies bisa dioptimalkan sehabis-habisnya pada pembangunan bangsa, penguatan nilai moral dalam proses konsumsi-produksi (misalnya sertifikasi halal), eko-label (pelabelan pada semua produk sehingga memenuhi kualifikasi ramah lingkungan), dan penciptaan stabilitas bangsa. Harus diakui bahwa stabilitas politik nasional sangat tergantung pada stabilitas pemeluk antar dan intra agama. Islamic Studies telah banyak berkontribusi pada pandangan dan gerakan hidup toleransi, kesadaran demokrasi, penghormatan pada hak asasi manusia, dialog antar agama, dan lain-lainnya. Ini semua menjadi bahan baku bagi tumbuhnya stabilitas nasional. Hanya dengan stabilitas politik yang mantap, maka sebuah bangsa dapat melakukan pembangunan dan menyelenggarakan aktivitas ekonomi-budaya-politik secara aman. Stabilitas politik nasional suatu bangsa menjadi titik masuk bagi stabilitas suatu kawasan. Masyarakat Ekonomi ASEAN, karena itu, tak akan terselnggara jika negara-negara pesertanya masih diganggu oleh stabilitas politik yang kacau. Di sinilah peran Islamic Studies bisa dimainkan. Ini di satu sisi. Di sisi lainnya, masih banyak bidang garapan yang bisa dimasuki, misalnya, dengan memainkan peran agama-agama dalam merumuskan agenda-agenda aksi penanggulangan krisis lingkungan, penanganan konflik antar agama, pembangunan karakter, mendorong efektifitas revolusi mental, dan lain-lain.

Modernitas dengan seluruh dampak positif dan negatifnya, bukanlah era yang harus berlangsung tanpa kontrol. Ia harus dikendalikan melalui aturan-aturan hukum, penguatan peran agama, rekayasa sosial, dan penguatan etika berbasis kearifan-kearifan lokal setiap bangsa. Dengan peta masalah yang ada, peran Islamic Studies tidak akan mati. Ia bahkan dapat menjadi pilihan bila didorong ke arah kecanggihan pendekatan dan peningkatan mutu relevansinya dengan praksis kehidupan. Pada ujungnya, setiap konsep akan diuji oleh kemanfaatannya dalam membangun tata sosial yang adil, efektif, dan aman bagi ruang tumbuh kehidupan yang bermartabat sebagai Makhluk Allah SWT dan masyarakat dunia di muka bumi ini.

Akhirnya, atas nama Rektor, kami berharap IAIN Surakarta ini dapat berkontribusi lebih strategis lagi dalam menyediakan lulusan-lulusan yang unggul dan berdaya saing tinggi di pasar-pasar nasional dan ASEAN—dan tentunya di pasar internasional. IAIN Surakarta tidak buta-tuli menghadapi gemuruh perubahan sosial yang begitu cepat. Kami berfikir besar dan bertindak besar sesuai dengan kemampuan yang kami miliki. Setiap potensi yang dimiliki IAIN telah dikerahkan untuk menghadapi tantangan dan menangkap setiap peluang. Pada merekalah IAIN Surakarta ini sangat bergantung. Selain itu, kepercayaan masyarakat pada IAIN, pemerintah, dan semua pihak yang peduli pada IAIN adalah bahan-bahan baku yang sangat penting untuk mendorong IAIN melangkah lebih baik lagi di masa kini dan masa depan. Semoga Allah swt selalu mengiring langkah kita semua.

Yang terakhir, kami mengucapkan selamat dan sukses kepada seluruh wisudawan-wisudawati beserta para orang tua yang telah menyelesaikan studi di IAIN Surakarta. Secara khusus, kami juga menyampaikan selamat dan sukses kepada wisudawan-wisudawati terbaik yang telah meraih prestasi. Semoga prestasi-prestasi itu melicinkan jalan bagi tahapan hidup berikutnya di masa depan. Semoga Allah swt selalu mengiringi dan meridhai langkah kita. Amin.

Wallahu yaqulul haq wa huwa yahdis sabil.

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

Komentar ditutup.