Bg

Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud: Tularkan Semangat Dakwah Multikultural

Diterbitkan tanggal 20 September 2016

SINAR – Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph.D. Kepala Badan Litbang Serta Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama R.I. tularkan semangat dakwah multikultural kepada mahasiswa baru Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dalam acara stadium general yang bertemakan “Paradigma Dakwah Multikultural Model Dakwah Berbasis Riset dan Kearifan Lokal” di Gedung Graha, Selasa (20/09).

Prof. Abdurrahman Mas’ud mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk mempraktikkan kearifan berbangsa dan berbudaya sebagai cermin dari ketaqwaan kepada Allah SWT. Lanjutnya lagi ajaran toleransi dalam konteks multikultural sudah diajarkan Rosulullah Muhammad SAW sejak dahulu kala. Dimana saat itu Rosul menyambut dan mempersilahkan rombongan Kristen Abissinia (Habsyah) untuk menginap di Masjid Madinah. Bahkan Nabi sendiri secara langsung menyambut mereka dengan secara aktif mempersiapkan segala sesuatunya. Bahkan ada ucapan Nabi yang sangat terkenal pada saat itu “rombongan ini dulu (615 M), memberi penghormatan khusus kepada sahabat-sahabatku maka kini aku ingin menyambut hangat mereka dengan tanganku sendiri sebagai ganti penghormatan mereka kepada sahabatku”. Maka sudah sewajarnya kita harus banyak membuka dan menguatkan potensi manusia untuk damai (kemanusiaan) daripada potensi konflik dan perpecahan.

Sementara itu Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Dr. Syamsul Bakri, M.Ag memandang bahwa dakwah multikultural sangatlah penting dan relevan di tengah wacana keislaman Indonesia, yaitu dengan mengkaitkan antara dakwah Islam dan kebudayaan serta kearifan lokal. Menurutnya, mahasiswa harus memiliki cara berfikir yang akademik dan kritis serta menghargai kultur lokal. Tegasnya, Islam tidak pernah berkembang dalam bentuk yang murni, tetapi selalu mengambil corak dan kebudayaan yang ada, diibaratkan bahwa Islam adalah air jernih yang mengalir di pipa transparan yang berwarna warni, Islam nampaknya berwarna merah atau hijau sesuai dengan warna pipanya. Akan tetapi itu tidak mengurangi kemurnian air jernih itu sendiri yaitu Islam. Sehingga mahasiswa yang mempunyai pemikiran akademis dan kritis akan selalu menghargai kultur lokal, karena Islam tidak pernah berkembang tanpa kebudayaan manusia. (Mun/ Humas Publikasi) #BanggaIAINSurakarta

 

Komentar ditutup.