Bg

Progresif di Masa Pandemi, UKM JQH Al-Wustha Menggelar Acara Bedah Buku “Sufi Healing” dan Bedah Tembang “Lingsir Wengi” dalam Satu Hari

Diterbitkan tanggal 10 Agustus 2020

SINAR – Senin (10/08) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jam’iyyah Al-Qurra’ Wa Al-Huffazh (JQH) Al-Wustha telah menggelar agenda Bedah Buku dan Bedah Tembang yang mengangkat tema “Berakhlaq Ala Nabi dan Cinta Budaya Sendiri”. Dengan dipilihnya tema tersebut diharapkan mahasiswa dan masyarakat dapat mengetahui bagaimana pentingnya akhlak dan mencintai budaya sendiri. Acara ini diselenggarakan dengan menerapkan protokol kesahatan tara peserta yang dibatasi sebanyak 35 peserta dan menggunakan masker serta jaga jarak,. Acara bedah tembang dan bedash buku ini bertempat di Joglo Mahasiswa IAIN Surakarta selain itu juga ditayangkan secara live di channel youtube UKM  JQH Al-Wustha. Dimulai pukul 08.00 WIB, dengan agenda pertama yakni Bedah Buku “Sufi Healing”.

Dalam sambutan pembukaannya, ketua umum UKM JQH Al-Wustha, Miftahul Abror menegaskan bahwa “akhlak itu sangat penting, kalau hanya ilmu dan kepintaran saja iblis pun lebih pintar dari manusia sehingga dengan diadakannya acara ini kita dapat mempelajari akhlak para nabi dari para tokoh sufi” ungkapnya.

Acara Bedah buku “Sufi Healing” menghadirkan satu pemateri dan satu pembanding. Materi disampaikan oleh bapak Dr. Syamsul Bakhri, M.Ag. yang sebagai pengarang dari buku Sufi Healing sekaligus Wakil Rektor III IAIN Surakarta. Selanjutnya pembanding dalam acara ini adalah bapak Dr. Aris Widodo, S.Ag., M.A. Filsuf dan Sufi lulusan Leiden University dan Wakil Dekan III Fakultas Syariah IAIN Surakarta.

Dalam materinya, Bapak Dr. Syamsul Bakhri, M.Ag., menyatakan bahwa buku Sufi Healing yang ditulisnya bersama Ahmad Syaifudin, M.Psi., Psikolog, ini terinspirasi dari Tasawuf itu sebenarnya bukan sekedar wirid tetapi juga memiliki dampak transformatif atau perebuhan. Beliau juga menyampaikan dalam buku Sufi Healing terdapat tiga variable penting: 1)Tasawuf, 2) Psikologi, dan 3) Tasawuf Psikoterapi. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa Tasawuf merupakan hasil dari ijtihadi para ulama sufi terkait dengan perilaku spiritual Nabi. Ada beberapa tasawuf, pertama tasawuuf Akhlaki yaitu tasawuf pada tingkat akhlak, kedua tasawuf Amali, ketiga ada tasawuf Falsafi. Selanjutnya beliau menjelaskan untuk mengatasi masalah psikis dan fisik diperlukan upaya sufistik melalui pendekatan kepada Allah SWT.

Kemudian materi kedua disampaikan oleh Bapak Dr. Aris Widodo, S.Ag., M.A.  Sebagai pembanding beliau memberikan pengantar terkait hukum kekalan energi bahwa energi tidak diciptakan dan tidak dihilangkan. Beliau menyampaikan bahwa merujuk dari buku Sufi Healing semesta ini penuh dengan energi, ketika seseorang sudah terbuka cakranya atau dalam istilah tasawuf lathifa maka akan bisa merasakan adanya energy tersebut. selanjutnya beliau menyampaikan bagaimana cara untuk membuka cakra dan bagaimana menyerap energi tersebut, yaitu dijelaskan dari buku Sufi Healing dengan cara meditasi sedangkan menurut pengalaman bapak Aris sendiri beliau mengatakan seseorang ketika ingin koneksi dengan alam semesta harus ada inisiasi kemudian untuk menyelaraskannya ada semacam garpu tala, yang dalam islam adalah syahadat. Kemudian untuk membuka cakra dibutuhkan kesabaran dan fokus dimana kalau sudah bisa fokus pasti akan ada koneksi.

Masih dalam hari yang sama, setelah istirahat sholat dzuhur, pukul 13.00 WIB dilanjutkan acara yang kedua yaitu Bedah Tembang Lingsir Wengi. Bedah Tembang ini menghadirkan dua pemateri, yang pertama bapak Drs. KH. Abdullah Faishol, M.Hum. beliau adalah Budayawan, Ketua MUI Sukoharjo serta Dosen IAIN Surakarta. Pemateri kedua adalah bapak Dr. Islah Gusmian, M.Ag. beliau seorang Budayawan dan Pakar Kajian Islam, serta Dekan Fakultas Ushuludin dan Dakwah IAIN Surakarta.

Terkait tembang Lingsir Wengi ini sendiri, menurut KH.Abdullah Faishol, M.Hum ada 2 jenis tembang yang mengatas namakan tembang lingsir wengi. Yang pertama yakni karangan Sunan Kalijaga dan yang kedua adalah karangan Sukapjiman yang kemudian dinyanyikan oleh Didi Kempot dan viral dengan romansa mistis sejak dijadikan soundtrack dari Film Kuntilanak garapan Rizal Mantofani. Beliau juga mengungkapkan bahwa Sunan Kalijaga sering membuat sebuah tembang yang kemudian dijadikan sebagai media dakwah. Baik berupa doa atau sekedar hiburan, namun dari semua yang dibuat oleh Sunan Kalijaga memiliki sebuah makna yang amat mendalam.

Pemateri kedua, Bapak Dr. Islah, M.Ag menuturkan bahwa Lingsir Wengi yang dinyanyikan oleh Didi Kempot karangan Sukapjiman ini adalah lagu yang mengandung arti romantic/percintaan. Sedangkan sebuah tembang yang dikarang oleh Sunan Kalijaga itu berbeda, karena itu sebuah tembang untuk berdoa sebagai penolak balak. Yang dinamakan dengan kidung rumekso ing wengi.

“Jika dihubungkan dengan tema yang diangkat mengenai mencintai budaya sendiri, ini sangatlah cocok. yang mana, budaya bangsa baik berupa karya seni, budaya dan lainnya perlu kita cintai. Para pendahulu yang membuat mahakarya tersebut tentu telah menyelipkan makna yang dalam, disetiap karya yang dibuatnya” ungkap pemateri sebagai di pungkasan acara.

Akhirnya, acara ini selesai pada pukul 15.30 WIB dan alhamdulillah, berjalan lancar tanpa kendala suatu apapun. Ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama. (Zat/ Humas Publikasi)

Oleh: Evi juaini, pengurus UKM JQH Al-Wustha.

Komentar ditutup.