Bg

PSGA IAIN Surakarta Gelar Workshop Metodologi Responsif Gender

Diterbitkan tanggal 20 September 2017

SINAR-Studi mengenai gender mulai dioptimalkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Surakarta. Langkah awal yang diambil untuk optimalisasi itu adalah dengan menggelar workshop responsif gender oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M IAIN Surakarta, pada Selasa-Rabu (19-20/9), dengan menghadirkan narasumber yaitu Dr. Hj. Nur Arfiyah Febriani, M.A (PTIQ Jakarta) dan Prof. Dr. Irwan Abdullah (UGM).

Dalam laporannya Ketua LP2M IAIN Surakarta, Dr. Ismail Yahya mengutarakan bahwa kegiatan ini adalah untuk menguatkan metodologi penelitian khususnya dibidang gender. Dalam kesempatan yang sama Ketua LP2M memperkenalkan jurnal khusus yang membahas persoalan gender yaitu Buana Gender kepada kurang lebih 60 peserta yang hadir dan menawarkan untuk bisa bekerjasama dalam penulisan di jurnal tersebut.

Rektor IAIN Surakarta, Dr. H. Mudofir dalam sambutannya memberikan apresiasi atas terlaksananya workshop tersebut. Penelitian dengan tema gender sangat menarik untuk terus digali, karena isu gender adalah isu yang belum usang dan tidak pernah usang, pungkasnya.

Berbicara tentang ekologi berwawasan gender, Dr. Hj. Nur Arfiyah Febriyayani. selaku narasumber menyampaikan disertasinya, berjudul Ekologi Berwawasan Gender dalam Perspektif al-Quran.Tokoh ekofiminsme banyak yang menyatakan bahwa kerusakan lingkungan memiliki kaitan dengan dominasi laki-laki. Atas rujukan tersebut, pembicara yang biasa disapa Ryan tersebut mengaji lebih dalam kaitan lingkungan dengan gender sebagaimana diungkapkan tokoh ekofeminisme.

Berikutnya, Prof. Dr. Irwan Abdullah, narasumber dari Departemen Antropologi FIB UGM, menyampaikan tentang penelitian berperspektif gender yang deskriptif, kritis dan transformatif. Prof. Irwan memberikan gambaran mengenai isu-isu gender secara umum dan sering diangkat, hingga mengajak peserta mengritisi isu-isu tersebut. Jika persoalan gender yang biasa diangkat bersifat materiil, Prof Irwan mengajak untuk mengarah pada persoalan ideologis, yang dampaknya bisa pada hal-hal lain tak terduga.

Lebih lanjut tema gender merupakan sebuah konstruksi sosial. Sejarah dan bahasa mempengaruhinya, sehingga perubahan-perubahan yang terjadipun hasil dari konstruksi sosial tersebut. Ada tujuh sumber isu kajian gender, yaitu: tingkah laku patut, pengalaman batiniah, sumber tertulis, keyakinan dan falsafah gender, etika dan hukum menguatkan keseteraan dan ketimpangan, kelembagaan sosial / adat, hingga simbol material gender. Dari ketujuh sumber tersebut, isu gender dapat diperluas dan mengaji hal-hal baru.

Di akhir paparannya Prof. Irwan berpesan pada seluruh peserta workshop bahwa menulis itu adalah rasa yang membuat pembaca merasa terasa. (Gus/Humas Publikasi)

Sumber: Chandra Mahardika Putri Dewanti

Komentar ditutup.