Bg

Selamat Datang Mahasiswa Baru!

Diterbitkan tanggal 8 Agustus 2016

Dwi Kurniasih

Dwi Kurniasih
Mahasiswa Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia

Bulan Agustus 2015 lalu saya diterima secara resmimen jadi seorang mahasiswa IAIN Surakarta. Masa transisi dari seorang pelajar SMA menjadi seorang mahasiswa adalah masa yang merisaukan. Bahu yang dulunya ringan, sekarang terasa berat. Penuh dengan tantangan dan tanggung jawab. Harus serius dalam mengambil keputusan.

Minggu-minggu awal di kampus selalu dipenuhi dengan rasa penasaran. Apa itu kuliah, dosen, Sistem Kredit Semester (SKS) dan termasuk kewajiban menjadi seorang mahasiswa. Apakah dosen sama dengan guru yang biasa saya temui di kelas saat SMA? Rasa ingin tahu, penasaran dengan dunia perkuliahan dan dunia kemahasiswaan selalu berkecamuk dalam pikiran.

Adaptasi dengan lingkungan kampus mulai berlangsung. Saya merasa memiliki kewajiban yang besar untuk giat belajar dan banyak membaca. Terlalu rugi ketika saya memutuskan hijrah dari kampung halaman dan memutuskan untuk menjadi mahasiswa di tanah orang tetapi tidak dibarengi dengan keberanian untuk bertanggungjawab serta jujur dalam belajar.

Bandung Mawardi dalam bukunya Pendidikan: Tokoh, Makna, Peristiwa (2014: 144) menulis bahwa kampus menjadi ruang kesedihan karena dihuni oleh mahasiswa yang hanya bangga dengan jas almamater, menjadi “kaum bertepuk tangan” dan menjadi kaum yang sering memeriahkan acara-acara miskin pemaknaan.

Tak terasa hari-hari kuliah yang dipenuhi dengan tugas berlalu sangat cepat. Genap berusia enam bulan status saya sebagai seorang mahasiswa. Ujian Akhir Semester (UAS) sudah dilaksanakan. Kewajiban belajar semakin bertambah. Kebiasaan dan pola belajar musiman harus dihilangkan supaya tanggungan materi yang diujikan saat UAS tidak begitu memberatkan.

Hari itu tanggal 11 Januari 2016, adalah hari pertama UAS. Pengawas ujian datang membawa setumpuk soal yang dibungkus rapi dibalik kertas berwarna coklat. Pengawas memberikan arahan pada mahasiswa untuk menaati peraturan selama mengikuti ujian. Pengawas mengingatkan tidak akan menegur mahasiswa yang ketahuan mencontek, akan tetapi langsung menandai nama dan nomor ujian mahasiswa yang ketahuan mencontek, dan langsung dianggap tidak lulus dalam ujian atau mengulang. Setelah membagikan soal dan lembar jawab pada mahasiswa, pengawas ujian duduk di kursi yang telah disediakan. Mahasiswa mulai mengerjakan soal ujian yang hanya diberi waktu satu jam.

Suasana yang hening mulai terdengar bising oleh telinga. Beberapa mahasiswa mulai sibuk mencari jawaban. Heran. Semakin tinggi status seseorang semakin tinggi pula kreativitasnya! Dahulu meskipun siswa mencontek, mereka masih memiliki usaha dengan mencatat kunci jawaban pada kertas kecil. Setidaknya ketika mereka menulis contekan ada bekas-bekas materi yang tertinggal dalam ingatan. Saat ini contekan di kertas kecil sudah tidak berlaku lagi. Contekan berupa ponsel android. Contekan itu adalah foto materi dari makalah-makalah yang sudah dipresentasikan dan diambil poin-poin pentingnya saja. Tidak hanya makalah yang dipotret, buku catatan yang berisi materi juga digunakan untuk bahan contekan. Hasil pencarian yang ada di internet pun di screenshot menggunakan ponsel yang canggih untuk kemudian ditempel menjadi jawaban atas nama mereka yang ingin mendapat nilai tinggi. Zaman memang begitu canggih, mahasiswa yang punya kebiasaan mencontek telah dimudahkan dengan alat yang serba mudah dan cepat. Mereka tidak perlu lagi susah payah menyalin materi pada kertas kecil untuk dijadikan contekan pada saat pengawas mulai lengah.

Kita bisa menduga, mencontek masih dilestarikan dalam kehidupan dan etos belajar mahasiswa pada saat ini karena menginginkan nilai yang tinggi. Kebanyakan mahasiswa beranggapan bahwa nilai tinggi adalah modal. Dengan nilai tinggi, mereka akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Yang dibutuhkan adalah prestasi. Kejujuran telah dikesampingkan demi kepraktisan dalam mencari pekerjaan.

Selain itu, penyebab mahasiswa mencontek adalah karena mereka kurang percaya diri dan takut salah. Ada masih mempertimbangkan salah dan benar, mereka merasa takut akan kesalahan saat menjawab soal dari dosen. Padahal seharusnya sebagai seorang mahasiswa yang kedudukannya lebih tinggi dari pada siswa harus berani jujur, berani menerima dan menjawab soal, Selain itu kemungkinan seseorang mencontek adalah karena soal yang diberikan oleh dosen. Terkadang soal dari dosen terlalu mengacu pada hafalan atau teori, hal ini juga menyebabkan mahasiswa mencontek karena hafalannya yang tidak berbekas dalam ingatan.

Bagi mereka yang mencontek, pengawas sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam menjawab soal. Dengan kata lain nilai tinggi bergantung pada pengawas. Mereka menunggu pengawas lalai dalam mengawasi peserta ujian agar tidak ketahuan ketika mencontek. Jika takut mencontek karena ada pengawas, bagaimanakah dengan Dzat Yang Maha Pengawas?

Apakah pengawas juga berpengruh terhadap mahasiswa yang mencontek?Pada dasarnya mahasiswa tidaklah membutuhkan pengawas. Keberanian menjadi mahasiswa harus dibarengi dengan keberanian dalam bertanggungjawab serta bersikap jujur dalam segala hal termasuk dalam mengerjakan soal ujian. Ketika kita jujur, ada atau tidaknya pengawas tidak akan berpengaruh terhadap proses pengerjaan soal. Persoalan ini tentu akan berefek pada kejujuran mahasiswa saat mengerjakan tugas kuliah. Fuad Hasan(2001:104) pernah menegaskan bahwa plagiat adalah laku yang sangat menodai dunia akademik. Karya tulis yang dihasilkan di perguruan tinggi menjadi penyebaran utama keilmuan yang ada dalam perguruan tinggi. Maka, penyebaran itu membutuhkan kejujuran tanpa pengawasan tapi keberanian: keberanian mengakui sebagai mahasiswa!

Tetapi saat ini, kejujuran menjadi hal yang sulit ditemui. Boleh jadi ketidakjujuran adalah sikap bawaan sejak duduk menjadi siswa serta kurangnya penekenan pendidikan tentang kejujuran. Tidak menutup kemungkinan bahwa ketidakjujuran akan menjadi sikap yang mendarah daging, sehingga kebiasaan tersebut akan terbawa ketika beralih status dari siswa menjadi mahasiswa.

Ketidakjujuran bukanlah penyakit langka yang tidak ada obatnya. Kebiasan tersebut bisa dikikis perlahan. Cara berpikir dewasa dan tanggungjawab serta memiliki kesadaran bahwa tindakan setiap orang selalu diawasi dan suatu ketika akan dimintai pertanggungjawaban. Hal tersebut menjadi upaya dalam pengikisan sikap tidak jujur serta tidak mewarisi budaya mencotek dari sekolah ketika sudah menjadi mahasiswa.

Penulis

Dwi Kurniasih
Mahasiswa Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia

Mahasiswa Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia

Komentar ditutup.