Bg

Seminar Pusat Studi Gender dan Anak IAIN Surakarta Bahas Reposisi dan Isu Terkini

Diterbitkan tanggal 17 Mei 2016

foto-seminar -studi-gender-lp2m-edSINAR-Setelah sempat menjadi wacana yang seksi sekitar tahun 1990-an, isu gender menjadi seakan kehilangan pesonanya terutama pasca reformasi. Memang, harus diakui bahwa di masa reformasilah secara formal gender sensitivity, diadopsi oleh Negara melaluli kebijakan affirmative action.Namun, sejak diformalkan tersebut, gaung isu-isu gender justru menjadi kehilangan pamor.

Idealnya, dengan munculnya kesadaran baik pada aras Negara dan dunia akademik tersebut akan membawa pada suatu kondisi dimana meningkatnya kesejahteraan kaumperempuan  di negara ini, namun senyatanya, nasib perempuan tidak seperti yang diharapkan, justru nasib perempuan semakin pelik: maraknya pornografi, munculnya prostusion line, perdagangan perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, menguatnya misoginisasi perempuan dalam praktik dan ajaran agama dimana tafsir agama yang didominasi ideology patriarkal dijadikan sebagai stempel legitimasi terhadap kekerasan padaperempuan.

Atas dasar tersebut Pusat Penelitian Gender dan Anak  Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta membahas berbagai isu terkini dan reposisi terhadap studi gender dalam seminar yang diadakan pada Selasa (17/5), adapun sebagai narasumber yaitu Wening Udasmoro (UGM).

Kepala Pusat Studi Gender dan Anak LP2M, Dr. Muhammad Fahmi, menyebutkan bahwa pada seminar ini akan dibahas dan didiskusikan beberapa hal, diantaranya: mendiskusikan konsep dan teori gender terbaru, mendiskusikan konteks terkini dari studi gender, dan memetakan isu-isu terkini.

Sedangkan Wakil Rektor II mewakili Rektor IAIN Surakarta dalam sambutannya berharap melalui seminar tersebut dapat memberi inspirasi dan wawasan baru kepada seluruh pegiat studi gender kedepan, dan tentunya semua bersumber dari Al-quran dan As-sunnah.

Dalam paparannya berkaitan dengan Gender Difference Wening mengkritisi pandangan feminisme barat yang cenderung melihat bahwa wanita di selatan (third world countries) mengalami opresi yang sama dan menentang pemahaman yang universal terhadap perempuan, padahal ada perbedaan-perbedaan tergantung geografi, sejarah, dan budaya.

Lebih lanjut dalam bahasannya pada narasi perempuan dan relasi subjek-objek dalam penelitian gender, Wening mengutip tulisan Gaye Tuchman dalam The Symbolic Annihilation of women by the Mass Media, dia mengatakan bahwa perempuan sebetulnya telah dinarasikan. Akan tetapi ketika menarasikan mereka, para perempuan itu diposisikan dalam ruang yang berbeda dengan laki-laki. (Gus/Humas Publikasi)

Komentar ditutup.