Bg

Dirjen Pendis Kemenag: Perguruan Tinggi Dalam Memproduksi Sarjana Sudah Saatnya Merubah Orientasi Dari Kuantitas Menjadi Kualitas

Diterbitkan tanggal 24 Agustus 2017

SINAR- Usai peletakan batu pertama gedung IAIN Surakarta yang didanai oleh dana SBSN yang terletak di Pakis, Klaten, Dirjen Pendis, Prof. Kamaruddin Amin, Ph.D., bersama Rektor IAIN Surakarta gelar Groundbreaking di Hotel Pramesthi Solo, Kamis, (24/8). Banyak hal yang disampaikan oleh Dirjen Pendis terkait pendidikan di Perguruan Tinggi. Pembangunan infrastruktur gedung pendidikan IAIN Surakarta dari dana SBSN yang dimenangkan oleh PT. Sinar Cerah Sempurna adalah upaya negara meningkatkan pelayanan pendidikan kepada masyarakat”, ungkap Prof. Kamaruddin Amin saat membuka sambutan.

Prof. Kamaruddin Amin juga menyampaikan data-data yang membuat para peserta groundbreaking seperti dicambuk. “Pemerintah sedang menggenjot Angka Partisipasi Kasar (APK) masuk perguruan tinggi yang masih rendah yaitu hanya 32%”. Persentase ini kalah jauh dengan negara-negara tetangga kita yang sudah mencapai di atas 35% seperti Thailand (45%), Malaysia (35%), dan Singapura”, terangnya.

Sementara negara-negara maju di Eropa dan Amerika sudah mencapai 80%. Apa artinya? Rendahnya APK mengartikulasikan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) kita bagi penyediaan sumber-sumber pembangunan bangsa dan juga rendahnya tingkat competitiveness terhadap negara-negara lain”, ungkap Dirjen Pendis secara detail.

Dirjen Pendis juga menyuguhkan data tentang tenaga kerja kita yang hanya 10% lulusan sarjana; 64% lulusan SD dan SMP; serta 84% gabungan lulusan SD-SMP-SMA. Data ini menandai rendahnya daya saing bangsa kita di hadapan bangsa lain.

Selanjutnya, menurut Prof. Kamaruddin Amin, pembangunan gedung-gedung pendidikan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang didanai SBSN diharapkan bisa jadi pengungkit peningkatan mutu lulusan, mutu tata kelola, dan mutu SDM. Target Pendis agar di tahun 2019 mencapai 70% (?) AIPT A harus didorong untuk terealisir. Mutu kelembagaan menjadi cermin meningkatnya mutu penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Daya saing bangsa hanya bisa dikembangkan melalui SDM-SDM unggul yang diproduksi oleh perguruan tinggi. Karena itu, APK yang besar dan bermutu dapat menjadi deposit sumber daya insani yang strategis bagi pembangunan bangsa. Pernyataan Dirjen Pendis tersebut memberi pesan agar SDM-SDM kita memiliki daya hidup ilmiah yang terus menciptakan inovasi-inovasi pengetahuan, teknologi, dan islamic studies.

PTKIN tidak boleh melakukan enkapsulasi dari gemuruh perubahan sosial dan lingkungan. Sebaliknya, PTKIN harus berkembang bersama masyarakat, bangsa, dan tuntutan globalisasi. Tajam dalam melihat dan merespon tanda-tanda perubahan jaman.

Senada dengan Dirjen Pendis, Rektor IAIN Surakarta, Dr. H. Mudofir, M.Pd juga mengajak kembali berfikir ulang sejenak tentang daya saing bangsa dengan bangsa lain. Kita ingat sebuah buku berjudul why nations fail”, ungkap Rektor. “Buku ini membantah teori bahwa negara-negara kaya muncul karena sumber daya alam dan penduduknya melimpah”. Juga menyatakan bahwa negara miskin lahir karena miskin sumber daya alam”. Yang benar adalah kaya-miskin sebuah bangsa ditentukan karakteristik lembaga-lembaga sosial, ekonomi, dan politik yg memberikan insentif bagi warganya untuk tumbuh secara kreatif dan sejahtera”. Bukan lembaga-lembga yang justru destruktif bagi lahirnya insentif-insentif untuk kepentingan publik”, terang pria yang hobby membaca ini.

Korea Selatan yang kaya dan makmur dengan Korea Utara yang miskin adalah contoh yang jelas. Keduanya lahir dari DNA yang sama, sumber air dan mineral yang sama tapi nasib berbeda. Ini pelajaran buat bangsa kita agar terus memproduksi SDM-SDM bermutu sambil terus mewujudkan institusi-institusi sosial, ekonomi, dan politik yang positif-konstruktif bagi bangsa. (Gie/ Humas Publikasi) #BanggaIAINSurakarta

(Disarikan dari pengarahan Dirjen Pendis dan diperkaya penulis oleh Mudhofir Abdullah)

Komentar ditutup.