Bg

Wakili Soloraya Tampil di Pekan Teater Nasional, UKM Teater Sirat IAIN Surakarta Angkat Isu Identitas

Diterbitkan tanggal 13 Oktober 2018

SINAR- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Sirat IAIN Surakarta menjadi satu-satunya wakil dari Soloraya yang tampil dalam Pekan Teater Nasional (PTN) di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat, Jumat (12/10).

Dalam kesempatan ini UKM Teater Sirat membawakan naskah berjudul “Layak”, sebuah cerita tentang kebutuhan manusia untuk berpakaian yang kini sudah tidak terkontrol. Naskah tersebut terinspirasi dari pepatah Jawa: ‘Ajining raga saka busana’, yang memiliki arti kehormatan tubuh (yang tampak) dilihat dari pakaian mereka.

Memakan waktu hampir selama tiga bulan naskah tersbut menjadi bentuk kepedulian UKM Teater Sirat terhadap isu identitas yang disebabkan oleh perbedaan pakaian. Perbedaan tersebut yang kemudian mengalih fungsikan pakaian dari yang semula untuk menutupi tubuh atau pelindung, menjadi corak perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Bahkan karena urusan pakaian, manusia menjadi lupa bahwa yang dibutuhkan adalah pakaiannya bukan tren atau mode-nya. Dari perilakau tersebut kemudian memunculkan sifat rakus terhadap pakaian, padahal belum tentu pantas untuk dikenakan.

Dalam pementasannya, UKM Teater Sirat dengan wasisnya menggambarkan fenomena-fenomena masyarakat tersebut dengan sempurna. Gambaran tersebut dimunculkan dalam 4 elemen warna utama yaitu merah, kuning, putih, dan hitam yang masing-masing terkandung makna tersirat. Sutradara Teater Sirat, Yustinus Popo mengartikan bahwa 4 elemen warna tersebut merupakan simbol empat saudara manusia atau sedulur papat limo pancer yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat Jawa.

Yus menyampaikan bahwa warna-warna yang ditampilan tersebut merupakan kumpulan dari potongan-potongan pakaian yang dirangkai menjadi sebuah simbol. Simbol yang nampak diantaranya simbol institusi, simbol partai dan lain sebagainya. Simbol tersebut seklaigus menjadi bentuk penyampaian pesan berupa kritikan terhadap kondisi yangs aat ini terjadi. Khususnya kondisi menjelang Pilpres 2019.

Teater ini sebelumnya juga pernah dipentaskan pada tahun 2013. Namun tentunya dilakukan dengan konsep yang lebih menyesuaikan dengan era yang saat ini tengah terjadi. Sedangkan pementasannya sendiri ditampilkan dengan tanpa narasi, penonton lebih dibebaskan untuk menyerap makna yang terkandung dalam penampilan tersebut.  (MgFar/Zat-Humas Publikasi) #banggaIAINSurakarta #SuksesAPT-A

Komentar ditutup.