Bg

Hari Disabilitas Internasional: UKM Dinamika Dan PSLD IAIN Surakarta Selenggarakan Obrolan Sastra

Diterbitkan tanggal 6 Desember 2019

SINAR- Jumat (06/12) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Dinamika dan Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD)/UKMD IAIN Surakarta menyelenggarakan acara ngos-ngosan (ngobrol-ngobrol santai). Acara ini diselenggarakan di Selasar Gedung A FIT IAIN Surakarta dalam rangka memperingati hari disabilitas internasional (International Disability Day) yang diperingati setiap 3 Desember.

Kegiatan ngobrol tersebut sudah biasa dilaksanakan oleh UKM Dinamika setiap pekan sekali yakni hari Jumat sore, dengan mengusung tema-tema yang aktual dan kekinian untuk melatih anggota menyampaikan hasil bacaan buku dan wawasannya. Dalam ngos-ngosan kali ini, Ahmad Mujahid sebagai moderator dengan Ony Agustin  (Mahasiswa Hukum Keluarga Islam dan Aktivis Difabel), Fajar Wahyu (Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam dan Koordinator PSLD IAIN Surakarta) dan Riski (Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam dan Pegiat Sastra) sebagai pengisah.

Didampingi oleh Hery Setiawan, M. Pd. (Pembina PSLD/UKMD IAIN Surakarta), Syihabumillah, S.Ag., M. Hum (Ketua Pepustakaan IAIN Surakarta) dan Fuad Hasyim, M. Ek. (Pembina UKM LPM Dinamika), memberikan sambutan dan dukungan akan acara ini. Terselenggaranya acara ini sangatlah diapresiasi oleh pembina PSLD yang sebelumnya belum pernah ada kegiatan yang mengikut sertakan mereka dalam kegiatan tingkat mahasiswa. ini merupakan titik awal bentuk kesetaraan hak kepada teman kita yang berkebutuhan khusus di IAIN Surakarta.

Selain itu, Pembina PSLD yang sekaligus Dosen di Prodi PIAUD, menjelaskan bahwa posisi PSLD sebagai lembaga nonstruktural di IAIN surakarta yang kehadirannya belum banyak diketahui oleh masyarakat IAIN Surakarta, karena kurangnya sosisalisasi, fasilitas, dan akses informasi bagi penyandang disabilitas.

Cerpen Dunia Angka karya Wina Bojonegoro yang terbit di Media Indonesia (MI) edisi 24 April 2014 menjadi bahan obrolan yang cukup merepresentasikan keadaan mayarakat Indonesia saat ini. Fajar Wahyu menceritakan cerpen dunia angka dengan apik dan mudah dipahami walaupun keterbatasan yang dimilikinya. Fajar dan teman disabilitas netra lainnya memiliki keterbatasan dalam penglihatan (membaca), sehingga menggunakan audio sebagai sarana belajar, mendengarkan cerita maupun materi kuliah. Selain itu, cerpen ini dipilih karena terdapat sudah terdapat audionya yang bisa diunduh gratis di www.difalitera.org (platform penyedia audiobook sastra yang dibuat untuk menunjang literasi orang-orang yang difabel).

Hakikatnya kita terjerembab dalam pengerjaran angka yaitu, ipk, uang, identitas, dsb yang semuanya menggunakan angka-angka yang jika dipikirkan secara terus menerus akan membuat pusing“, ucap Fajar sebagai pengisah dalam mengisahkan cerita yang didengarnya.

Ony Agustin memaparkan pengalaman yang ia dapatkan saat presentasi papernya di UIN Sunan Kalijaga, dalam acara ICODIE. Dia membahas tentang difalitera sebagai platform audiobook yang menunjang literasi untuk anak-anak yang difabel. Ony juga menjelaskan mengenai penyebutan istilah “Difabel” dan “Disabilitas”.

Ujung dari kegiatan ngos-ngosan menjadi sebuah sharing-sharing kendala teman disabilitas yang sering mendapatkan kurangnya perhatian, fasilitas dan kepekaan sosial. Mereka ( mahasiswa disabilitas) sering kesusahan dalam mencari data-data, materi, mendapatkan informasi berita, berkegiatan serta kepekaan sosial dalam mengantarkan mereka ke ruang kuliah. Seringkali mahasiswa putri yang membantu mengantar ke ruang kuliah pergi begitu saja, karena teringat hukum makhrom antara laki-laki dan perempuan. Sehingga pernah menyebabkan trauma kecelakaan jatuh terpeleset dan badanpun lecet-lecet, berdasar ungkapa dari Rizki salah satu penyandang disabilitas netra.

Sangatlah disayangkan, seharusnya kita sebagai mahasiswa yang memiliki banyak kelebihan bisa membedakan dan memahami bahwa ini salah satu kepekaan sosial, bukan sekedar batasan makhrom dan tidak makhrom, hal ini diperlukan edukasi bagi mereka. Harapannya dengan acara ini mahasiswa/i di IAIN Surakarta mau dan bisa menjadi “sahabat difabel” (relawan difabel) yang bisa meningkatkan kepekaan sosial, membantu ke ruang kuliah atau fasilitas umum, membacakan saat ujian, dan lain sebagainya, tentu tidak hanya berdasarkan kasihan. “Kami tidak suka menyusahkan dan tidak suka disusahkan” ujar Rizki, yang mengharapkan bantuan teman-teman bukan karena kasihan tapi benar-benar ikhlas membantu.

Terselenggaranya acara ini diharapkan bisa meningkatkan kepekaan sosial dan menjadikan teman-teman disabilitas mendapatkan haknya. (Gie/Humas Publikasi)

Sumber: Kartikawati (Anggota UKM Dinamika)

Komentar ditutup.