Bg

Pembelajaran Daring

Diterbitkan tanggal 17 Januari 2020

Oleh: Hakiman, M.Pd
(Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Surakarta)
email: hakiman.iman@gmail.com

Era disrupsi teknologi imformasi dan komukasi  (TIK) memberi dampak dalam segala hal. Pada bidang pendidikan dampak dari disrupsi  TIK yaitu adanya pembelajaran dalam jaringan atau daring. Pembelajaran daring merupakan pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara dosen dan mahasiwa, tetapi dilakukan melalui online. Pembelajaran dilakukan melalui video conference, e-learning atau distance learning.

Program pendidikan profesi guru (PPG) dalam jabatan pada tahun 2019, penyelenggaraannya sudah menggunakan sistem daring. PPG dalam jabatan diselenggarakan dalam rangka program sertifikasi guru yang sebelumnya disebut dengan pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG). PLPG  diselenggarakan dalam waktu 11 hari, sedangkan PPG diselenggarakan kurang lebih sekitar 7 bulan.

Sebelum tercatat menjadi mahasiswa PPG, mereka harus lolos seleksi administrasi dan seleksi kemampuan akademik melalui tes online, seperti tes potensi akademik, tes pedagogik, tes bidang studi dan tes bakat dan minat. Setelah mengikuti serangkaian kegiatan PPG mereka akan diuji kembali sebagai syarat untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Harapannya dengan bekal sertifikat pendidik, para guru akan mendapatkan tunjangan sertifikasi, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan hidupnya terutama bagi tenaga guru honorer.

Guru-guru yang lolos seleksi  menjadi mahasiswa PPG dalam jabatan, baik yang berada di bawah naungan direktorat pendidikan tinggi keagamaan Islam (Diktis) maupun di bawah kementrian riset, teknologi dan perguruan tinggi (Kemenristekdikti) harus mengikuti pembelajaran daring. Harapannya dengan pembelajaran daring ini, perkuliahan dapat  berjalan  dengan efektif, efisien dan bermutu karena pembelajaran dapat dilakukan dimana saja.

Mahasiswa PPG harus mengikuti pembelajaran daring selama 3 bulan yang kemudian akan diikuti dengan lokakarya atau pembelajaran tatap muka dan praktik lapangan. Mahasiswa  PPG dalam jabatan seperti guru-guru PAI yang berada di naungan Diktis maupun di Kemenristekdikti harus menempuh 24 SKS. 10 SKS pembelajaran daring, 8 SKS pembelajaran tatap muka dan 6 SKS pembelajaran lapangan.

Pembelajaran daring dilaksanakan selama 9 Minggu dan harus menyelesaikan setiap modul pembelajaran yang sudah disusun oleh tim dari Diktis maupun Kemenristekdikti. Pembelajaran daring merupakan hal yang baru, baik bagi mahasiswa PPG maupun dosennya sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beradaptasinya.

Mahasiswa PPG harus memahami setiap tampilan menu yang terdapat dalam  aplikasi daring supaya dapat menggunakannya. Mereka dapat melakukan diskusi tanpa ada batasan waktu selama masih dalam topik pembahasan. Mereka juga dapat mengerjakan tes formatif, tes sumatif, memberikan resume dan menguploud tugas yang diintruksikan oleh dosen daring. Penilaian pembelajaranpun dapat terekam langsung dalam sistem, sehingga pembelajaran semakin terbuka.

Melek teknologi menjadi syarat bagi para mahasiswa dan dosen PPG daring, sehingga umur bukan alasan lagi untuk tidak melek teknologi. Kebanyakan dari Mahasiswa PPG merupakan guru yang cukup senior baik dari usia maupun pengalamannya dalam mengajar, tetapi dalam hal penguasaan teknologi digital, tentu mereka lebih mahir bila dibandingkan dengan murid-muridnya atau dengan guru-guru milenial.

Selain usia yang cukup tua sehingga kurang akrab dengan dunia digital, mereka juga merupakan guru yang tersebar diberbagai sekolah yang berada di pedesaan, sehingga butuh perjuangan supaya dapat mengikuti pembelajaran daring. Masih lemahnya jaringan internet di tempat mereka mengajar atau di tempat mereka tinggal, mengharuskan mereka turun gunung atau mendekat ke daerah perkotaan untuk mendapatkan jaringan internet yang kuat, karena tanpa jaringan internet yang kuat mereka tidak bisa mengikuti pembelajaran daring.

Smartphone yang mereka pakaipun harus mempunyai kuota internet yang cukup besar supaya dapat digunakan untuk mensuport laptopnya yaitu melalui mobile hospot and tethering, karena sekolah tempat mereka mengajar belum ada layanan Wi-finya. Sore dan malam merupakan waktu favorit yang mereka pilih dalam mengikuti pembelajaran daring, karena pada pagi dan siang hari mereka masih sibuk mengajar  di Sekolah atau masih pada berkebun, berladang, mencari makan hewan ternak atau pekerjaan lainnya. Maklum mereka hidup di pedesaan sehingga selain mengajar mereka masih disibukkan dengan pekerjaan lain. Tidak sedikit dari merekapun menghabiskan waktu ngedaring sampai larut malam.

Pembelajaran daring memang membutuhkan tanggungjawab, kemandirian dan ketekunan pribadi, karena tidak ada yang mengontrol selain dirinya sendiri. Mereka harus mendownload dan membaca materi, menjawab quiz/soal serta mensubmit tugas secara mandiri. Kapabilitas pembelajaran online akan memberikan kinerja mahasiswa yang lebih bagus dibanding dengan pembelajaran konvensional, karena selain berpengetahuan mereka juga melek teknologi.

Pembelajaran daring memang memberikan media pembelajaran yang variatif seperti media video pembelajaran yang terhubung ke youtube, media video conference, media jurnal ilmiah atau topik yang tersistem secara digital. Tetapi kemajuan teknologi pembelajaran harus didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, seperti meratanya jaringan internet ke sekolah-sekolah yang ada di pedesaan.

Pembelajaran daring akan berjalan dengan baik apabila akses internet bisa menjangkau ke  seluruh daerah, sehingga pendidikan secara online betul-betul dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat. Pemerintah melalui Kemenristekdikti akan terus mendorong untuk diselenggarakannya perkuliahn  online di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta, sebagai langkah awal menyambut revolusi industri 4.0.

Menurut Menristekdikti, Mohammad Nasir  ada 51 kampus, yaitu 32 kampus perguruan tinggi swasta (PTS) dan 16 perguruan tinggi negeri (PTN) yang siap untuk menyelenggarakan perkuliahan daring.  Sudah ada 5 perguruan tinggi yang benar-benar siap untuk melaksanakan pembelajaran daring yaitu Universitas Negeri Yogyakarat, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Malang, Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Padjajaran Bandung. Agar pembelajaran daring dapat berjalan bermutu dan efektif,  Kemenristekdiktipun telah  bermitra dengan 116 perguruan tinggi lainnya untuk mendukung 51 kampus tersebut.

Seluruh civitas akademika perlu segera beradaptasi dengan sistem pembelajaran daring ini, sehingga perlu segera mengidentifikasi sebaran mata kuliah yang dapat diajarkan melaui sistem daring. Pemerintah juga perlu membuat kebijakan serta menyiapkan infrastruktur langit, sehingga pembelajaran daring betul-betul dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pembelajaran daring ke depan tentunya  bukan hanya menjadi sistem pembelajaran di perguruan tinggi saja, tetapi juga dapat menjadi sistem pembelajaran di Sekolah sebagai tuntutan kemajuan pendidikan modern.

Perlu diingat juga bahwa sehebat apapun kemajuan teknologi pembelajaran tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga pembelajaran konvensional tetap dibutuhkan. Bagaimanapun pembelajaran tatap muka merupakan pengalaman pembelajaran terbaik yang pernah ada dan tidak bisa secara total digantikan dengan kemajuan teknologi apapun.

Penulis

Hakiman, M.Pd
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Surakarta

Komentar ditutup.