Bg

Enam Sejarawan Muda IAIN Surakarta ikut menyampaikan Gagasan Keindonesiaan

Diterbitkan tanggal 10 Desember 2019

SINAR- Rabu – Jumat (4-6/12) Enam Perwakilan IAIN Surakarta yang terdiri Dosen dan Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Bahasa (FAB) IAIN Surakarta atas nama Martina Safitry, S.S, M.A, Riski Dwi Khoiriyah, Fatimah, dan Dino Aditya T mengikuti serangkaian acara dan menjadi pemakalah dalam memperingati Hari Sejarah Nasional 2019 di Hotel Aston Priority Simatupang, Jakarta Selatan. Peringatan Hari Sejarah 2019 ini diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan jumlah pemakalah sekitar 80 orang. Tema dari kegiatan ini adalah “Membayangkan Indonesia di Hari Depan”. Delegasi dari IAIN Surakarta yang berhasil lolos abstrak dari 416 abstrak yang masuk diantaranya;

  1. Martina Safitry, S.S, M.A (Dosen SPI IAIN Surakarta) dan Wakhid Musthofa, M.Psi (Dosen Psikologi Islam IAIN Surakarta), dengan judul makalah “Wayang Kancil sebagai Media Alternatif Pembelajaran Sejarah untuk Anak”.
  2. Riski Dwi Khoiriyah, Fatimah (Mahasiswa SPI IAIN Surakarta), dan Permadi (Mahasiswa Manajemen Dakwah IAIN Surakarta), dengan judul makalah “Identitas Pengemis sebagai Sejarah Kaum Termarginalkan (Masyarakat Peminta Sedekah Masa Pakubuwono X hingga menjadi Pengemis)”.
  3. Riski Dwi Khoiriyah, Dian Novita Sari, Fatimah, dan Alifah Arzaqia (Mahasiswa SPI), dengan judul makalah “Sejarah Perempuan sebagai Historiografi dan Basis Data Sejarah (Gerakan Perempuan Islam pada Abad 20).
  4. Dino Aditya Tantowi (Mahasiswa SPI IAIN Surakarta), dengan judul makalah  “Memasyarakatkan Sejarah melalui Seni Pertunjukkan (Kajian tentang Seni Teater sebagai Sarana Rekonstruksi Peristiwa Sejarah di Masa Lalu)”.

Seminar Sejarah Nasional dilaksanakan pertama kali pada bulan Desember 1957 di Yogyakarta sebagai titik baru dalam penulisan sejarah atau historiografi. Kemudian Seminar Sejarah Nasional Kedua dilaksanakan pada tahun 1970 dan yang Ketiga pada tahun 1981. Di dalam Seminar Sejarah Nasional tersebut telah memperlihatkan perkembangan historiografi Indonesia dan tema-tema sejarah semakin diperkaya, seperti sejarah sosial, sejarah kebudayaan, sejarah perkotaan, sejarah pedesaan, sejarah mentalitas, sejarah perempuan, sejarah agama, dan sebagainya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa tema kesejarahan belum dituliskan. Peringatan Hari Sejarah melalui Seminar Sejarah Nasional ini menjawab tantangan dari beberapa tema sejarah yang belum dituliskan.

Peringatan Hari Sejarah atau Seminar Sejarah Nasional 2019 ini dimulai pada tanggal 4 Desember 2019 dengan opening, hiburan, dan Pidato Kesejarahan dari Prof. Dr. Taufik Abdullah dan Gustika Jusuf-Hatta. Kemudian Pleno I tentang profesi kesejarahan oleh Hilmar Farid, PhD, Dr. Restu Gunawan, Prof. Dr. Ali Mufrodi, dan Triana Wulandari, M.Si. setelah serangkain pembuka dan sambutan-sambutan kegiatan dilanjutkan dengan Presentasi dari para Pemakalah yang dibagi menjadi beberapa panel, setiap panel berisi 5 pemakalah.

Presentasi dari pemakalah dilanjutkan pada hari kedua yaitu tanggal 5 Desember 2019. Delegasi dari IAIN Surakarta menjadi pemakalah pada hari kedua. Banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang didapat dari mengikuti kegiatan Seminar Sejarah Nasional 2019. Riski Dwi Khoiriyah (SPI) memaparkan, “Ketika saya kuliah semester 4 dan 5 saya mendapat mata kuliah Historiografi. Dalam mata kuliah tersebut mulai dibedah Historiografi Tradisional, adanya Seminar Sejarah Nasional pertama (1957) dan peralihan menuju Historiografi Modern. Dosen mata kuliah tersebut menganjurkan untuk membaca buku Gagalnya Historiografi Indonesiasentris karya pak Bambang Purwanto, dari beberapa kritik yang ditulis salah satunya ialah penulisan sejarah Indonesia yang terlalu fokus pada orang-orang besar dan kaum laki-laki. Oleh karena itu kami ingin menuliskan tentang orang-orang kecil dan kaum perempuan. Di samping itu juga sebagai realisasi dari teori yang kami dapat di kelas

Fatimah (SPI) berdasarkan pengalaman ini menyampaikan, “Dengan kegiatan Peringatan Hari Sejarah Nasional 2019 ini mengajarkan saya untuk berani bicara di depan, tidak di kalangan Mahasiswa saja tetapi belajar dari sejarawan-sejarawan yang sudah banyak pengalaman dan ilmunya. Dari pengalaman saya dan teman-teman yang mengikuti kegiatan ini, semoga dapat memberi motivasi teman-teman yang lain agar mau menulis”. (Gie/ Humas Publikasi)

Sumber: Latif Kusaeri

Komentar ditutup.