Bg

Lebaran Kupat dan Lepet

Diterbitkan tanggal 11 Juli 2016

nug

Ahmad Nugroho, S. Kom.I
Staf Humas dan Publikasi

Ngaku Lepat
Mangga dipun silep ingkang rapet

Telah menjadi budaya yang indah di negeri ini kala menyambut datangnya lebaran Idul Fitri. Setelah melaksanakan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, setelah Sholat Ied pada tanggal 1 Syawal, seluruh umat Islam saling bersilaturrahmi pada sanak saudara dan handai taulan serta tetangga. Namun tidak hanya identik dengan bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Di Sragen dan Blora sebagai rumah orang tua dan mertua masih memperlihatkan budaya jawa yang adiluhung.

Khasanah budaya Islam yang berada di tanah jawa tidak serta merta menghapuskan budaya setempat. Akulturasi budaya yang apik membuat negeri ini semakin indah di mata dunia. Salah satu contohnya adalah, tabiat umat islam untuk menjalin silaturahmi menjadi pemandangan yang sangat indah di tanah jawa ketika Lebaran Idul Fitri tiba. Setelah sholat ied di masjid maka biasanya imam/khotib akan menginstruksikan sepada seluruh jamaah untuk bersalaman tanda untuk saling bermaaf-maafan. Bersilaturahmi, bersalaman dan bermaafan.

Namun pemandangan kerukunan dua dudaya ini tak cuma sampai tiu saja. kita tentunya tahu dan mendengar istilah Lebaran Kupat (Ketupat) di beberapa daerah di tanah jawa ini. Lebaran kupat memang bukanlah hal yang disyariatkan dalam Islam namun ini adalah akulturasi budaya yang apik. Lihat saja bagaimana orang jawa membingkai dua budaya ini. Lebaran Kupat biasanya dihelat setelah sepasar (5 hari) dari 1 Syawal. Artinya pada hari ke enam setelah lebaran Idul Fitri (7 Syawal) Lebaran Kupat baru dihelat.

Lihat bagaimana orang jawa membingkai dengan indah dua budaya ini. Setelah Puasa Ramadhan satu bulan penuh, maka umat Islam disyariatkan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal.

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا رواه ابن ماجه والنسائي ولفظه :

Dari Tsauban Maula (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang melakukan puasa enam hari setelah hari raya ‘Idul Fithri, maka, itu menjadi penyempurna puasa satu tahun. [Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya – QS al An’am/6 ayat 160-]”. Sumber: https://almanhaj.or.id)

Tuntunan syariat agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW ini menjadi sebuah budaya artinya orang jawa mampu membudayakan Islam. Pada tanggal 7 Syawal orang jawa bersama-sama membuat Kupat dan Lepet kemudian saling munjung (berkunjung) dan saling membagi-bagi kupat dan lepet pada saat lebaran kupat tersebut. Bukan hanya sekedar membagi makanan, namun hal ini memiliki makna filosofi yang sangat dalam, apalagi bagi orang Jawa. Karena memang orang jawa dengan jiwa seni yang tinggi acapkali memunculkan istilah/kata-kata yang dengan tujuan tertentu. Hal ini disesuaikan dengan nama benda-benda yang digunakannya. Dalam kaidah bahasa jawa dikenal dengan istilah kirata basa (kira-kira ning cetha atau kira-kira namun jelas). Begitu juga dengan istilah kata Kupat (ketupat) dan Lepet.

Kupat adalah makanan yang terbuat dari beras yang diisikan pada wadah yang terbuat dari anyaman janur, daun kelapa muda. Kemudian makanan itu dimasak layaknya menanak nasi. Wadah dari janur artinya adalah sejatine nur (cahaya sejati). Secara fisik kupat yang berbentuk segi empat merupakan empat elemen manusia (Api, Tanah, Air dan Angin), empat jenis nafsu manusia (Amarah, Lawwamah, Mulhimah dan Mutmainah).

Pada saat kupat dibelah, isinya putih bersih bagaikan hati manusia yang telah ditempa dengan puasa wajib sebulan penuh di bulan Ramadhan dan disempurnakan dengan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal. Hati manusia yang putih bersih tanpa adanya dengan iri hati dan dengki dan niat jahat lainnya. Kupat artinya ngaku lepat (sebuah pengakuan akan adanya kesalahan dalam diri). Sedangkan lepet maksudnya mangga dipun silep ingkan rapet (mari kita kubur yang rapat). Lepet merupakan makanan yang menyerupai bentuk mayat. Karena makanan dari ketan dan kelapa itu diberi tali tiga melingkar seperti pembungkus jenazah. Ketan yang sangat lengket mengandung arti untuk semakin mempererat tali persaudaraan. Ditali tiga seperti mayat maksudnya agar nantinya kesalahan tidak menjadi dendam sampai mati.

Kemudian dua jenis makanan itu akan dibawa untuk munjung (berkunjung) ke sanak saudara, handai taulan dan tetangga. Sebuah pengakuan telah berbuat kesalahan kepada saudara, handai taulan dan tetangga dibawa dengan segenap raga, bersilaturahmi ke semua manusia. Ada yang sangat indah lagi-lagi ditunjukkan dalam budaya kami, budaya jawa. Ketika dua jenis makanan ini dibawa untuk munjung (berkunjung) maka sang empunya rumah yang dikunjungi akan meminta para tamu yang datang untuk mencicipi makanan walaupun sedikit saja. Sang empunya rumah akan menyediakan sayur Opor maksudnya nyuwun sepuro atau minta maaf. Sebuah pemandangan yang apik bukan??? Yang datang berkunjung dan yang dikunjungi sama-sama mengakui kesalahan, saling meminta maaf. Mengakui akan banyaknya kesalahan.

kupat lepet

“Setelah mengakui kesalahan kemudian minta maaf dan mengubur kesalahan yang sudah dimaafkan untuk tidak diulang kembali dengan hati bersih nan suci agar jalinan persaudaraan semakin erat. Dengan saling memaafkan maka kesalahan tidak menjadi dendam yang terbawa sampai mati”.

Kupat dan lepet bukan dari budaya Arab atau budaya yang ada di jaman Rosulullah. Kupat dan lepet adalah kebudayaan yang berasal dari tanah jawa. Jika mungkin ada yang memaknai ini sebuah ke-bid’ah-an tentu saja ini merupakan hal yang wajar. Bisa saja karena tidak faham dengan maknanya dan memang tidak ada pada jaman Rosulullah.

Dengan berkembangnya zaman, maka Kupat dan lepet menjadi budaya nasional di negeri ini. Kupat dan Lepet tidak hanya dimunculkan oleh orang Jawa saja namun dari berbagai suku di bangsa Indonesia. Bukan hanya dimunculkan saat lebaran kupat, saat lebaran idul fitri pun sudah muncul (mungkin: untuk menyingkat waktu, waktu libur nasional sangat pendek). Kupat dan Lepet juga dimunculkan pada saat melaksanakan upacara tertentu seperti saat mendirikan rumah, pindah rumah ataupun upacara pernikahan biasanya ada kupat dan lepet namun tidak pakai opor, dengan kandungan maksud yang sama yaitu mengaku salah minta maaf dan mengajak untuk memendam yang rapat kesalahan yang sudah terjadi setelah saling memaafkan.

Konsep lebaran yang indah dalam bingkai budaya adiluhung. Bukan hanya budaya yang terkonsep dengan apik namun ini merupakan keindahan nusantara yang penuh makna. Negara Kesatuan Republik Indonesia, penuh dengan suku bangsa, adat budaya, mari dalam suasana Idul Fitri ini, kita mampu saling meminta maaf. Berat rasanya namun ini adalah awal untuk membuka lembar baru, meminta maaf, mengakui kesalahan, sebuah pengakuan merendahkan diri, menghilangkan rasa egoisme dan sombong menuju hari nan suci, hati yang bersih. Perbedaan itu indah, dalam bingkai satu Aqidah. Seni dan budaya yang tidak melewati rambu-rambu agama. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Kami sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.

Penulis

Ahmad Nugroho, S.Kom.I
Alumni Jurusan KPI 2010 IAIN Surakarta

Komentar ditutup.