Bg

LP2M Diskusikan Multikulturalism, Nationalism, Islam dengan Tiga Negara

Diterbitkan tanggal 21 September 2016

SINAR– Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) selenggarakan International Seminar dengan tema “Multiculturalism, Nationalism, and Islam: Indonesia, Turkey and Azerbaijan”  di hotel Lor In Surakarta, Rabu (21/09).

Sebagai pembuka pada acara seminar international ini Dr. H. Abdul Matin bin Salman, Lc, M.Ag selaku wakil rector I bidang academik dan pengembangan lembaga berharap bahwa multikurturalism yang ada di Indonesia dapat dibandingkan dengan yang ada dinegara lain. Serta hal itu dapat menjadi penguat untuk bangsa dan islam, bukan malah sebaliknya membuat konflik, perpecahan dan permusuhan.

Hadir pada kesempatan itu tiga pakar yang mewakili tiga negara yaitu Azerbaijan: Rashad Ilyanov, Ph.D (Baku International Multiculturalism center religion Azerbaijan), Prof. Dr. Habib Mammad Zarbaliyev (Baku International Center of Multiculturalism and Indonesian language center studies Azerbaijan); Turkey: Dr. Serdar Demirel (Fatih Sultan Mehmet Vakif University Turkey), dan Indonesia: Prof. Dr. Anis Malik Thoha, (Rector Universitas Sultan Agung Semarang Indonesia).

Dr. Rasyad dan Prof. Zarbaliyev menyatakan bahwa Multiculturalism, Nationalism and Islam yang ada di Azerbaijan berjalan dengan baik tanpa ada konflik yang berarti. Dimana hal itu sudah terjadi sejak dahulu kala. Budaya kebebasan untuk beragama dan juga percampuran ras dan kebudayaan yang ada menjadikan Azerbaijan sangat toleran. Ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah yang mendukung untuk terjadinya kerjasama antar ras, agama dan kelompok. Sebagai Negara yang sekuler memang Azerbaijan sangat menghormati hak orang untuk beragama taupun tidak. Sehingga kepercayaan menjadi hal yang pribadi tidak dipermasalahkan. Adapun konflik yang terjadi di sana lebih kepada permasalahan social dan ekonomi.

Sementara itu Prof. Anis memandang Indonesia sangat berbeda dengan Azerbaijan dalam banyak hal seperti halnya bentuk Negara yang berdasarkan pancasila. Di Indonesia memeluk agama adalah kewajiban setiap penduduk. Kesamaan dan perbedaan Agama sangat berpengaruh bagi bagi masyarakat Indonesia, dimana ketika menganut agama yang sama maka perbedaan pada hal yang lain seperti ras, status social dan ekonomi terselesaikan. Namun sebaliknya jika berbeda dalam keyakinan agama maka konflik akan cepat muncul. Di Indonesia agama merupakan unsure pemersatu yang paling kuat. Sementara itu Dr. Serdar yang materinya dibacakan oleh Prof. Anis menyampaikan bahwa masalah ras dan etnik yang ada dalam dunia islam dapat diatasi dengan adanya pluralism, emansipasi dan ajaran damai dalam islam. Dengan mengacu kepada nilai-nilai universal tadi maka perbedaan yang lain akan terkesampingkan, kedamaian dan kemajuan akan segera terwujud. (Mun/Humas Publikasi) #BanggaIAINSurakarta

Komentar ditutup.