Bg

Stadium General FUD Kampayekan Dakwah Multikultur

Diterbitkan tanggal 31 Maret 2016

SINAR- Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, kampanyekan gerakan Dakwah Multikultur, melalui acara Stadium General yang bertemakan “Dakwah Multikultur Sebagai Pendekatan Islam Rahmatan Lil’ Alamin (Islam Nusantara), Rabu (30/3).

Stadium general yang diperuntukkan bagi seluruh mahasiswa semester 2 FUD ini diharapkan bisa memberikan pencerahan mengenai aktifitas dakwah multikultural, khususnya konsep Islam Nusantara. Oleh karena itu dihadirkan dua aktifis dakwah multikultural yang sudah malang melintang berdakwah ke seluruh Indonesia yaitu Drs. K.H. Dian Nafi’, M.Pd dan  Dr. H.Kholilurrohman, M.Si.

Kiai Dian Nafi’ mengungkapkan bahwa dalam berdakwah sudah seharusnya mempertimbangkan beberapa hal penting berikut: 1) memperhatikan aneka bentuk tuturan dan saluran komunikasi yang digunakan; 2) memperlihatkan keteladanan hidup beragama yang baik; dan 3) melihat target dan sasaran yang didakwahi, dimana masyarakat yang akan belajar agama pada dasarnya sudah mempunyai budaya yang telah dipraktekkan sebelumnya. Sehingga butuh pendekatan sendiri yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan rahmatan lil’ alamin. Salah satunya adalah dakwah multicultural yang juga termasuk salah satu pendekatan yang mempertimbangkan keragaman budaya masyarakat yang menjadi target dakwah.

Sedangkan narasumber lainnya H. Kholilurrahman menegaskan bahwa dakwah multicultural sangatlah cocok digunakan saat ini mengingat masyarakat yang didakwahi (mad’u) memiliki karakteristik unik. Disinilah Islam Nusantara diharapkan bisa menjawab masalah multicultural tersebut, dimana Islam Nusantara mempunyai konsep Islam di luar mainstream utama Timur Tengah yang dianggap gagal merepresentasikan Islam rahmatan lil’ alamin. Mengingat Islam Nusantara sudah terbukti mampu untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin meski masih dalam lingkup satu bangsa yaitu Indonesia. Islam Nusantara mampu menjaga keutuhan umat Islam dari Aceh sampai Irian Jaya (Papua) dengan ras dan budaya yang sangat berbeda dan bervariasi. Hal itulah yang belum bisa dilakukan oleh Islam Timur Tengah yang selalu dilanda konflik dan perpecahan sesama muslim.(Mun/Humas dan Publikasi)

Komentar ditutup.