Bg

Antara Anak dan Buku

Diterbitkan tanggal 7 April 2021

Oleh : Triningsih, SIP
(Pustakawan Muda IAIN Surakarta)

Masyarakat kita saat ini cenderung lebih suka menonton televise daripada membaca buku. Tak pelak, tontonan sinetron yang tayang di stasiun televise akan menjadi obrolan mereka sehari-hari dengan sangat menggebu, seakan itu sebagai sebuah kisah nyata. Atau bahasan yang seakan tidak kalah dengan dunia nyata akibat banyaknya bermain social media seperti Tik Tok, Instagram dan yang lainnya.

Bisa dipahami, sebagian masyarakat kita mengalami pergerakan melompat dari praliterer menuju pascaliterer tanpa melalui masa literer. Maksudnya adalah masyarakat tidak pernah membaca terlebih dahulu, akibat tidak terbiasanya dengan budaya menulis. Namun mereka telah langsung masuk ke dalam dunia baru, mengiring pesatnya teknologi komunikasi serta informasi.

Budaya membaca harus didahului oleh kebiasaan membaca. Hal tersebut terjadi jika terlebih dahulu terdapat minat membaca. Tidak adanya budaya membaca didukung semakin tidak pedulinya orang tua terhadap aktivitas membaca. Alasannya adalah mereka sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu dan energi lagi untuk dekat dengan anaknya. Misalnya membacakan cerita ataupun mendongeng.

Belajar dari Soekarno

Berbicara tentang budaya baca, kita bisa belajar dari Presiden Indonesia Pertama yaitu Soekarno. Sejak kanak-kanak, Soekarno sudah terlihat sebagai kutu buku. Kegemarannya semakin menggila sejak tinggal dengan keluarga H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia itu adalah insan Indonesia pecinta buku tiada bandingnya pada zamannya. Dilahapnya segala macam buku tentang politik, sejarah, ekonomi, agama, dan sosial lainnya.

Melalui buku-buku tersebut, terbentuklah Soekarno yang memiliki kepribadian intelektual yang membuatnya layak dikenang sebagai manusia Indonesia nomor satu. Sejarah mencatat bahwa beliau patut dijadikan referensi dan inspirasi untuk orang-orang Indonesia di masa sekarang ini. Dengan banyaknya aktivitas membaca buku tersebut, Soekarno tidak saja hanya ingin menjadikan kepalanya sebuah perpustakaan yang penuh dengan buku-buku. Melainkan ilmu untuk diamalkan.

Membaca nyaring merupakan aktivitas melafalkan bunyi dengan cukup keras. Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan Dalman (2010: 48) yang mengungkapkan bahwa membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan mengeluarkan suara atau kegiatan melafalkan lambang-lambang bunyi bahasa dengan suara yang cukup keras.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Kemerdekaan Bangsa Indonesia ini bisa lahir dari kegiatan membaca nyaring. Yaitu ketika presiden Soekarno membacakan teks proklamasi yang akhirnya menjadi tonggak sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Karena itu, ada harapan agar orang tua mempunyai kebiasaan yaitu membacakan nyaring buku-buku kepada anaknya. Karena ruh ilmu buku tersebut muncul ketika dibacakan.

Dua Kekuatan

Dalam pembelajaran daring seperti sekarang, diperlukan perjuangan yang besar. Anak didik diharapkan mempunyai pemikiran yang kritis, kreatif, dan inovatif dalam pembelajaran yang kolaboratif serta kooperatif. Pembelajaran saat ini, menuntut orang tua berkolaboratif terhadap anak, guru, serta orang tua. Orang tua harus membaca buku-buku yang dipegang anak lalu kemudian mentransferkannya kepada mereka. Ruh tetap ada jikalau orang tua mau membacakannya.

Maxim Gorky (Rusia) pernah mengatakan bahwa “Dua kekuatan yang berhasil mempengaruhi pendidikan manusia yaitu seni dan sains. Keduanya bertemu dalam buku”. Di Hari Buku Anak Sedunia 2 April lusa, marilah kita mempengaruhi anak-anak dengan buku-buku yang bermutu dan membacakannya kepada mereka. Karena dua kekuatan besar yang mempengaruhi pendidikan manusia (seni dan sains) bertemu dalam sebuah buku. Selamat Hari Buku Anak Sedunia…

Artikel ini telah dimuat di Surat Kabar Harian KEDAULATAN RAKYAT Yogyakarta. Edisi Rabu Legi, 31 Maret 2021 Halaman 11.

Penulis

Triningsih, SIP
Pustakawan Muda IAIN Surakarta

Komentar ditutup.