Bg

IAIN SURAKARTA Menyelenggarakan Seminar :“Peningkatan Mutu Tata Kelola PTKIN untuk Membangun Daya Saing Bangsa di Dunia Global”

Diterbitkan tanggal 4 Juli 2019

SINAR- Kamis (4/7) IAIN Surakarta mengadakan Seminar “Peningkatan Mutu Tata Kelola PTKIN Untuk Membangun Daya Saing Bangsa Di Dunia Global”. Seminar ini lebih memfokuskan pembahasan mengenai mengelola institusi pendidikan tinggi di era disrupi. Kegiatan ini dilakukan di Gedung Rektorat Lantai 3 IAIN Surakarta. Kegiatan seminar tersebut diikuti oleh para pejabat di lingkungan IAIN Surakarta.

Dalam sambutannya Rektor IAIN Surakarta menyampaikan bahwa Lembaga Perankingan Dunia selalu mengukur 4 hal yaitu, Mutu Tata Kelola, Mutu SDM, Mutu Riset Publikasi, dan Mutu Kegiatan Intensif  Kemahasiswaan. Ketiga mutu tersebut akan mempengaruhi oleh Tata Kelola, apabila tata kelola buruk, maka output juga buruk. Maka tata kelola harus baik.

Seminar ini di isi oleh Prof. Dr.H. Nur Syam,M.Si yang akan menyampaikan mengenai Tata Kelola di PTKIN. Untuk mengetahui apakah Tata Kelola PTKIN sama dengan PT Umum.  Terdapat 3 hal di PTKIN yaitu, protection, conservation, dan development. Di IAIN Surakarta lebih banyak melakukan proteksi terhadap ajaran agama. Yangmana melakukan develoment juga penting untuk menyesuaikan IAIN Surakarta dengan tuntutan-tuntutan masyarakat di bidang pendidikan. Sehingga, IAIN tidak terisolasi dari pergaulan pendidikan di tingkat nasional.

Pendidikan Tinggi memiliki peran penting dalam pengembangan kualitas DM. Perguruan Tinggi yang maju akan mampu menghasilkan SDM yang maju. Semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat, maka semkain memerlukan tingkat pendidikan yang tinggi dengan SDM yang lebih berkualitas. Untuk peningkatan kualitas SDM, maka PTKIN harus memiliki distingsi antar maasing-masing IAIN, serta diperlukannya exellency (keunggulan) baik hard skill atau pun soft skill, ungkapnya.

Salah satu kualitas pendidikan tinggi saat ini dapat dinilai dari penulisan publikasi ilmiah. Akan tetapi, di Indonesia masih lemah dalam hal publikasi. Berdasarkan data tahun 2016, hanya 31,7% profesor di Indonesia yang menulis terindeks scopus. Namun, tetap saja fokus pendidikan tinggi juga tidak seharusnya hanya berfokus pada publikasi atau pun penelitian. Perguruan Tinggi harus mampu melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Lebih lanjut, dalam proses kegiatan mengajar dosen tidak mengajar dengan membaca buku, namun dosen yang sudah berpengalaman dan mampu menceritakan pengalamannya. Dosen harus mampu menceritakan temuan baru berbasis riset yang dilakukannya.

Salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh PTKIN, yaitu masuknya perguruan tinggi asing di Indonesia. Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, terdapat beberapa kebutuhan kompetensi pada era ini, yaitu pembelajaran harus berdasarkan, critical thinking, creativity and innovation, communication, collaboration

Selain itu, diperlukan juga perubahan Tata Kelola. Selama ini masih digunakan manajemen lama POAC (planning, organizing, actuating, and controlling). POAC sudah bukan era nya, saat ini era “Manajemen Kinerja Berkelanjutan”, proses bercorak PDCA (Plan, Do, Check, Action). (Gie/Humas Publikasi) #banggaIAINSurakarta

Komentar ditutup.