Bg

Ketua LPM IAIN Surakarta Meraih Gelar Doktor Ilmu Agama Islam

Diterbitkan tanggal 20 April 2015

SINAR – Kemunculan dan perkembangan teologis kritis di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal, yaitu berkembangnya hegemoni dan dominasi dalam kehidupan masyarakat, terjadinya diskriminasi terhadap kalangan minoritas, berkembangnya model-model keberagaman yang menonjolkan kesalehan-kesalehan individual dan simbolis, berkembangnya modernitas di dunia ketiga (dunia berkembang) termasuk Indonesia, dan berkembangnya paradigma developmentalisme (paham pembangunan) di negara-negara berkembang.

Zainul Abbas Meraih Gelar DoktorKonstruksi paradigmatik dari pemikiran Islam kritis diwujudkan dalam model Islam pembebasan Abdurrahman Wahid, Islam Transformatif Moselim Abdurrahman dan teologi kaum tertindas Mansour Fakih dengan kerangka ontologism dan epistemologi-nya masing-masing.

Dampak dari adanya pemikiran Islam kritis tentu sangat dirasakan oleh umat. Pemikiran Islam kritis menginspirasi semua pihak untuk ikut memperjuangkan HAM, demokratisasi, kebebasan beragama, kesetaraan gender, dan perhatian terhadap kelompok-kelompok marginal. Pemikiran Islam kritis juga menginspirasi umat untuk mengembangkan pola-pola kepedulian sosial, pendampingan dan pemberdayaan masyarakat, baik oleh kelompok masyarakat yang tergabung dalam LSM, institusi keagamaan maupun institusi-institusi Negara.

Demikian kesimpulan disertasi Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta dalam ujian promosi Doktor Ilmu Agama Islam, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Juma’at (17/4). Di hadapan promotor dan tim penguji, promovendus Zainul Abas, M. Ag berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan baik sekaligus mampu mempertahankan disertasi yang diajukannya. Dan hasilnya, promovendus dinyatakan LULUS dengan predikat SANGAT MEMUASKAN dengan IPK rata-rata 3,55 lama studi 8 tahun, sehingga berhak menyandang gelar Dr. Zainul Abas, M. Ag. (Mahendra)

Komentar ditutup.